Fira's pov
18:00 WIB
Aku mengunyah keripik sale pisang dan memandang lurus ke laptop yang menyala. Sejak tadi aku berusaha fokus pada pekerjaanku, membuat makalah untuk tugas Sosiologi Komunikasi namun tidak bisa. Canny pasti akan memarahiku jika aku tidak segera menyelesaikannya. Dia memang memintaku membuat makalah dan bagiannya membuat powerpoint. Tapi aku tidak bisa berpikir sedikitpun. Pikirkanku masih tertuju pada Sinta dan segala perubahannya. Jujur ku katakan, aku belum sepenuhnya percaya ini.
Ceklek
"Kau ini mengerjakan tugas atau melamun?" aku menengok ke arah pintu dan melihat Mbak Flora masuk ke kamarku dan melompat ke tempat tidur. Memang begitu kelakuan kakak perempuanku ini, seenaknya masuk kamarku dan menumpang tidur. Tentu saja aku tidak masalah, justru aku senang karena hal kecil seperti ini membuatku semakin akrab dengannya.
Aku memutar kursi yang ku duduki dan menatap Mbak Flora yang sibuk menyembunyikan tubuhnya di balik selimut bergambar minions. "Mbak."
Mbak Flora mengalihkan pandangannya ke arahku. "Ada apa? Kau mengalami masalah serius?"
"Hmm, tidak terlalu sih, hanya aja aku merasa aneh dengan sesuatu." Mbak Flora mendudukkan tubuhnya dan menatapku.
"Ceritakan saja."
"Hmm, menurut Mbak aneh atau tidak jika seseorang yang dulunya sangat membencimu tiba-tiba ingin berteman denganmu?" Mbak Flora mengerutkan keningnya, tampak berpikir.
"Aneh, sangat aneh. Menurutku, pasti ada sesuatu yang dia mau darimu. Tapi, kita tidak boleh berprasangka buruk pada orang lain. Benar begitu, kan?" Aku mengangguk setuju dengan Mbak Flora. "Dengarkan aku, Fira. Selama dia tidak melakukan sesuatu yang buruk, kau bisa mempercayainya. Membuka diri pada orang lain memang perlu, tapi harus tetap berhati-hati."
"Ya, Mbak." Mbak Flora tersenyum, ia bangkit dan berjalan ke arahku.
"Sini, Mbak bantu pekerjaanmu agar cepat selesai dan tidur. Kau harus banyak istirahat dan jangan sampai banyak pikiran. Mengerti?"
"Iya Mbak Flora yang bawel." Mbak Flora mengacak rambutku dan tertawa. Aku tersenyum melihat wajah cantiknya. Seperti perempuan blasteran pada umumnya, Mbak Flora sangat cantik dengan wajah setengah bulenya.
Ya Allah, terimakasih telah memberiku seorang kakak perempuan sebaik dan secantik Mbak Flora.
"Jangan lihat aku, Fira. Aku tahu aku cantik." Aku menjulurkan lidahku padanya.
"Terlalu percaya diri ya Anda." Kedua tanganku terulur menggelitiki perutnya.
"Oh, berani sekali kamu ya!" Mbak Flora memegang kedua tanganku dan balik menyerangku.
"Ampun Mbak!" suara tawa kami berdua mungkin terdengar ke seluruh penjuru rumah.
#
Canny's pov
-Raliazril's Mansion-
Aku masih duduk di depan meja belajarku, menatap malas Jessica yang ikut mendandani Twin Baby. Moodku semakin buruk karena Faris tidak juga memalas pesanku, apa dia pergi lagi dengan teman bulenya itu? Seingatku Claire belum kembali ke Australia.
Baiklah, jika kali ini dia benar-benar pergi dengan Claire tanpa memberitahuku akan ku serahkan semuanya pada Alvin. Aku tidak akan peduli jika Alvin mengabisi Faris!
"Princess, cepatlah bersiap!" Pandanganku teralih ke arah Mama yang masuk kamarku membawa 2 pasang sepatu dengan model sama namun warna yang berbeda.
"Ma, kenapa aku harus ikut? Bukankah pergi dengan Twin Baby saja sudah cukup?" Mama yang sedang memakaikan gel di rambut Amar menatapku sekilas, lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya. Aku mendengus kesal karena Mama tidak mau mendengarkan pembelaanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
Chick-LitSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
