C
anny’s pov
-Al Fazza University-
07:00 WIB
Aku duduk di kantin kampus sendirian, Faris langsung masuk ke kelasnya dan aku menunggu hingga kelasku dimulai. Sebenarnya tadi Faris akan menjemputku setelah kelasnya selesai agar aku tidak menunggu sendirian seperti ini. Tapi aku memaksanya, suasana rumah sangat tidak menyenangkan hari ini dan membuatku tidak nyaman.
Semua orang masih mendiamkanku, mereka kembali sibuk dengan dunia mereka masing-masing tanpa memperhatikanku sama sekali. Kecuali Amara dan Amar yang semalam menemaniku. Mereka mencoba menghiburku bahkan sangat memperhatikanku.
Untuk itu, aku merasa gagal sebagai kakak. Seharusnya aku memberikan contoh baik pada mereka berdua, bukannya malah melakukan hal yang buruk.Tidak bisa ku bayangkan bagaimana perasaan Daddy dan Mama jika itu terjadi.
Akulah orang yang patut disalahkan.
Mengenai Fira, sampai sekarang aku masih tidak habis pikir dengannya. Bagaimana bisa dia mendapatkan rekaman video itu?
“Hai!” aku berjingkat terkejut mendengar suara teriakan dan dua kaleng kopi di meja.
“Felly! Akhirnya kau datang juga!” aku memeluknya sangat erat, Felly mengelus bahuku.
Aku meneleponnya beberapa menit lalu, memintanya datang ke kampus untuk menemaniku. Felly sudah tahu semua yang terjadi kemarin.
“Tenang ya. Semuanya akan baik-baik saja. Berulang kali ku bilang padamu, Fira itu bukan sahabat yang baik. Sahabat itu mudah memaafkan dan melupakan kejadian itu. Dia malah membalas perbuatanmu. Itu artinya dia tidak menyayangimu dan bahkan tidak menganggapmu sebagai saudaranya.” Aku mengangguk dan mencebikkan bibirku.
Dia memang yang paling mengerti aku sekarang dan aku tidak tahu harus mencurahkan. “Kau benar, aku sudah meminta maaf padanya dan merendahkan diriku. Tapi dia dengan berani-beraninya mengadu pada Daddy dengan bukti video.”
Felly menatapku, ekpresinya berubah. “Dan kau masih memohon-mohon agar dia memaafkanmu?”
“Tentu saja tidak. Akibat dari perbuatannya, semua orang rumah mendiamkanku. Alvin, Daddy dan Mama pergi bekerja pagi-pagi sekali. Mereka benar-benar menghindariku dan mendiamkanku. Rasanya lebih sakit dari memarahimu saat itu dan berbaikan keesokannya.” Aku terisak mengingat kejadian menyakitkan tadi pagi saat Alvin mengabaikanku.
“Ku pikir setelah kemarin aku dan Fira berbaikan di depan Alvin dan Alvan, mereka berdua bersikap biasa padaku. Tapi nyatanya tidak, Alvin mengabaikanku pagi ini.” Felly memelukku.
“Sssstt, jangan menangis Canny. Mereka membutuhkan waktu untuk menerima semua kenyataan ini. Percayalah padaku, mereka akan kembali bersikap seperti biasa beberapa hari lagi. Kau tahu kan mereka sangat menyayangimu.” Aku mengangguk.
“Minumlah, Canny. Kau harus menenangkan dirimu.” Tanganku terulur mengambil kaleng kopi yang sudah dibukakan Felly.
“Kau sunggguh berbaikan dengan Fira?”
Aku menggeleng, “Tidak. Aku hanya melakukannya formalitas, karena Ice Man meninginkannya. Fira juga melakukan hal yang sama, aku tahu dia tidak tulus memaafkanku kemarin.” Felly menggertakkan giginya.
“Canny kau harus tahu, dia tidak jadi sahabatmu itu bukan hal yang besar. Kau masih punya aku dan teman-teman kita yang peduli padamu dan menyanyangimu dengan tulus.” Aku menyesap kaleng, membiarkan cairan berwarna hitam membasahi tenggorokanku.
“Kau benar, Felly. Mulai sekarang aku tidak akan lagi peduli dengan manusia bernama Fira. Dia sudah menghancurkan harga diriku di depan umum dengan membentakku. Itu tidak akan terjadi lagi.” Aku meremas kaleng kopi hingga isinya meluber.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
Genç Kız EdebiyatıSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
