Fira’s pov
-Al- Fazza University-
08:00 WIB
Aku dan Canny berjalan beriringan dari tempat parkir menuju kampus. Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, hari ini Princess Canny lebih pendiam dari biasanya. Seperti menyimpan sesuatu. “Oh ya, jangan lupa nanti kita ke perpustakaan meminjam buku.” Canny menatapku dan mengangguk.
“Kau kenapa? Sesuatu terjadi?” tanyaku menatapnya khawatir, Canny hanya tersenyum dan menggeleng.
“Aku baik-baik saja, hanya merasa lelah karena makan malam semalam. Kau ingat, kan?”
“Ah ya.”
Entah kenapa kali ini aku tidak puas dengan jawabannya. Apa yang membuatnya lelah di acara makan malam bersama rekan kerja?
Biasanya Canny tidak seperti ini, aku tetap yakin Canny menyembunyikan sesuatu dariku.
“Hi, Canny!” sapa Marco dan Haidar, jika biasanya Canny menghambur ke arah mereka setelah meletakkan tas kali ini tidak. Canny hanya melambaikan tangannya dan duduk di tempat yang dipilihnya. Marco dan Haidar menatapku minta penjelasan, aku menggeleng tanda tak tahu sama sekali tentang apa yang terjadi dengan Canny.
Aku duduk di sampingnya, ku lihat Canny menatap layar ponselnya dan mengetik sesuatu. Aku berdiri dari dudukku dan menarik kursi sebelah Marco dan Haidar.
“Kau benar-benar tidak tahu dia kenapa?” tanya Marco menatapku penuh selidik.
“Aku tidak tahu, sejak tadi dia tak banyak bicara saja seolah mendiamkanku.” Aku memandang keduanya sendu.
“Mungkin dia sedang ada masalah dengan anak psikologi itu.” Benar juga sih kata Haidar.
“Mungkin ya.”
“Dan dia butuh waktu sendiri. Tenang saja, Fira. Semua akan baik-baik saja.” Aku tersenyum dan mengangguk.
“Oh ya, bagaimana tugas makalah kalian?” tanyaku pada keduanya yang langsung menatapku datar.
“Bisakah kita tidak membahas tugas? Telingaku tidak bisa menoleransi kata itu.” Marco menutup telinganya membuatku dan Haidar tertawa.
“Oke. Kita bahas yang lain.” kataku, mereka berdua saling berpandangan sebelum menatapku penasaran.
“Apa kabar yang beredar itu benar?”
“Kabar apa?”
“Kau berkencan dengan teman kekasih Canny?” Mataku membulat sempurna mendengar kalimat yang diucapkan Haidar.
Berkencan?
Dengan Tama?
Oh ayolah!
Aku dan Tama terakhir bertemu beberapa hari lalu saat aku menunggu Tante Rahma dan kami tidak pernah bertemu ataupun saling berkirim pesan setelahnya. Bukankah itu mustahil?
“Hmm, aku-”
“Congratulations, Fira.” Haidar mengulurkan tangannya dengan senyuman manis, mau tak mau aku menyalaminya. Apakah setelah ini aku akan mengalami masalah yang besar?
“Kau memang seperti itu ya, diam diam memiliki kekasih. Aku turut bahagia untukmu." Marco menepuk-nepuk bahuku dengan wajah senangnya.
“Jadi, bagaimana ceritanya kau bisa berkencan dengan Tama?”
Author’s pov
Sinta dan Felly tidak percaya dengan apa yang dilihat keduanya. Fira terlihat asyik bercanda dengan Marco dan Haidar, sedangkan Canny duduk sendirian di bangkunya. Felly tersenyum menyadari sebuah ide terlintas di pikirannya, dengan segera dia menarik tangan Sinta dan mengajaknya duduk di bangku depan kelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
ChickLitSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
