6. What?

360 49 12
                                        

Canny’s pov

Aku memandang Fira yang duduk di sebelah Amanda dan Marco. Dari wajahnya tampak tidak nyaman, sayang aku tidak bisa membantunya. Sekarang aku duduk di sebelah Felly dan Sinta, mereka berdua memaksaku duduk di antara mereka. Tadi ku pikir mereka menyisakan tempat untukku dan Fira, ternyata tidak. Mereka hanya menyisakan tempat untukku saja, itulah kenapa tempat dudukku dan Fira terpisah.

“Sudahlah, tidak perlu khawatir padanya. Dia sudah besar, bukan?” aku menatap Felly yang menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa ku mengerti.

“Felly benar, biarkan dia bersosialisasi dengan yang lain. Bukankah kau bilang jika dia memperluas pertemanannya?”

“Ya. Sudahlah, biarkan saja. Ku pikir akhir-akhir ini dia dekat dengan Marco. Bukankah mereka ada hubungan spesial? Ku dengar Marco pergi ke rumah Fira dan bertemu dengan keluarganya.” Aku dan Sinta menatap Felly yang asyik menyedot jusnya.

Kenapa Felly berlebihan seperti ini?

Memangnya jika pergi ke rumah lalu bertemu keluarga pasti berkencan?

“Tidak mungkin. Fira sudah punya kekasih.”

Hah?

Felly menatap Sinta dengan wajah syoknya. “Siapa?”

“Sahabat si Faris, aku tidak tahu namanya. Seseorang yang bersama Fira di kafe kemarin lusa. Siapa Canny?”

“Tama?”

“Mungkin dia. Ah aku belum cerita padamu, kemarin lusa aku dan Rendi bertemu dengan kalian yang double date.” Aku menatap Sinta yang tersenyum, dia merangkulku dan menaik-turunkan alisnya.

Ternyata Tama, syukurlah jika mereka menganggap hubungan Tama dan Fira seperti itu. Aku juga setuju jika Tama dan Fira menjadi sepasang kekasih.

“Setelah kuliah mau berbelanja?”

“Aku tidak bisa, hari ini Mama menjemputku. Kalian jangan coba-coba pergi tanpaku.” Sinta menunjuk ke arahku dan Felly dengan wajah marahnya.

“Kalau begitu lain kali, saja.” kataku membuat Felly cemberut.

Tiba-tiba seluruh penghuni kelas berbondong-bondong masuk kelas dan terakhir Pak Sahal masuk dengan menenteng tas laptopnya. Aku memandang Fira yang juga memandangku, tak lupa aku tersenyum padanya dan mengisyaratkan semua akan baik-baik saja.

“Kita mulai kuliah hari ini, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

#

-Kantin Kampus-
10:00 WIB

Aku bersama tiga sahabatku duduk bersama di salah satu bangku kantin, kami sibuk menikmati makanan di hadapan kami. Bukan makanan berat mengingat ini belum masuk jam makan siang. Hanya beberapa makanan seperti gorengan, terang bulan, juga martabak. Tak lupa segelas es jus berbagai rasa untuk melegakan tenggorokan di hari yang cukup panas ini.

“Aku masih tidak habis pikir dengan Pak Sahal, kenapa tugas diberikannya selalu diluar batas kemampuan manusia?” Aku, Fira, dan Felly menatap Sinta yang memandang kami dengan wajah kesalnya.

“Benar. Jika bukan karena beliau tampan, aku tidak akan mau begadang hanya demi tugasnya.” Aku menggelengkan kepalaku mendengar pengakuan Felly.

Tawaku pecah saat melihat Sinta mencibir seseorang yang berada di sampingnya itu. Aku tersenyum lebar ke arah Fira yang sejak tadi diam saja. Ya, aku tahu dia tidak nyaman bersama Felly dan Sinta. Meskipun kami berteman sejak SMP tapi Fira tidak akrab dengan mereka. Dia berhenti berinteraksi dengan teman-teman sekelas setelah mengalami depresi.

SECOND LOVE : Perfect IncitementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang