Author's pov
Lima bulan.
Lima bulan sudah Canny terbaring koma di kamarnya dengan alat-alat bantu di tubuhnya. Lima bulan seluruh penghuni mansion sedih dan kehilangan semangat hidup. Semua orang kembali ke aktifitasnya masing-masing, namun perasaan mereka tidak baik-baik saja. Pikiran mereka pun tak sepenuhnya fokus ke pekerjaan atau kegiatan, semuanya tertuju pada kesehatan Canny.
Setiap hari dokter pribadi dan beberapa perawat datang dan memeriksa keadaan Canny atas permintaan Azril. Dokter dengan nama Imran mengatakan agar pihak keluarga tidak berhenti berdo'a dan berharap.
Tak hanya dokter, Faris juga datang setiap hari. Ia bahkan menunggu Canny hingga malam dan sering mengerjakan tugas-tugas kampus disana. Faris selalu menceritakan hal-hal yang terjadi padanya di kampus, ia juga menyampaikan keluhan-keluhan tentang betapa sulit hari-harinya tanpa suara manja Canny. Sering Ralia dan Azril meminta seluruh teman Canny datang, siapa tahu dengan kedatangan mereka Canny mau membuka matanya dan kembali tersenyum. Namun hingga sekarang belum menunjukkan tanda-tanda apapun.
Perubahan sikap sangat terasa pada Alvin, setiap hari ia memaki anak buahnya dan tak segan-segan menjatuhkan hukuman pada siapa saja yang membuat kesalahan. Pernah beberapa kali Alvin nyaris membunuh anak buahnya sendiri jika tidak dihentikan Azka. Alvan tak jauh beda, ia tak lagi menjadi Presdir yang ramah dan selalu bercanda itu berubah menjadi Presdir yang dingin dan tak banyak bicara. Begitu juga dengan Azril, hampir tak ada senyum yang ia pamerkan pada seluruh karyawannya seperti biasa.
Lima bulan berlalu tak juga membuat keadaan Fira membaik. Indra dan Adelia hampir putus asa karena Fira tak lagi bisa mengendalikan dirinya. Setidaknya beberapa kali dalam seminggu Fira selalu mencoba melalukan bunuh diri dengan berbagai cara. Meskipun Alvin sudah mempekerjakan psikiater profesional, tidak juga membuat Fira menunjukkan perkembangan positif. Dua bulan terakhir Fira dipindahkan ke Rumah Sakit Jiwa untuk memaksimalkan perawatan.
Awalnya Indra menolak keras hal ini, namun setelah mendengarkan penjelasan dari Dokter ia menyetujuinya. Setiap hari keluarga Fira datang dan menghabiskan waktu dengannya, begitu juga dengan Tama. Ia selalu membawa Fira ke taman Rumah Sakit dan mengajaknya menggambar atau bermain game. Tama senang saat melihat Fira tertawa, ia ingin melihat tawa itu setiap waktu. Tidak hanya saat dia datang.
Berdasarkan cerita Sinta, Fira berubah sedih dan murung setelah Tama pulang. Walaupun di ruangannya ada kedua orangtuanya yang selalu menemaninya. Semua orang berdoa dan mengusahakan yang terbaik untuk Canny dan Fira. Semoga mereka berdua segera membaik.
#
-Aryesguard-
Alvin membaca laporan yang dikirimkan Rumah Sakit Jiwa milik Grandpanya di Sydney yang memberikan rincian kondisi Felly saat ini. Alvin senang Felly tidak berbuat ulah selama disana dan mengikuti setiap terapi. Ia mulai berpikir, andaikan Fira menunjukkan perkembangan positif.
Memikirkan Fira, moodnya kembali buruk. Semoga saja hari ini tidak ada yang memancing emosinya.
"Tuan, ada dua orang yang ingin bertemu." Alvin mendongak menatap asisten pribadinya yang menatapnya takut-takut.
"Siapa?"
"Noah dan Cassandra, kedua orang tua Felly." Alvin memejamkan matanya dan menghela napas panjang, kedua tangannya meremat.
"Akhirnya mereka datang juga. Biarkan mereka masuk." Bayu membungkuk, ia berjalan meninggalkan ruangan Presdir untuk memanggil kedua orangtua Felly. Alvin berdiri dan menatap dingin dua orang yang berjalan masuk ke dalam ruangannya. Dua orang itu menatap Alvin tajam, jelas Alvin tahu mereka sangat marah padanya. Sejujurnya Alvin terkejut, bagaimana bisa mereka marah dengannya?
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
Literatura FemininaSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
