Fira’s pov
23:00 WIB
Aku pindah posisi sepelan mungkin, agar Canny yang tidur di sampingku tidak terbangun. Aku memandang wajah damai Canny, tegakah aku menyingkirkannya agar aku mencapai tujuanku? Jika semua orang tahu yang ku lakukan, mereka akan mengataiku sama seperti Bunda Maya.
Jujur, aku tidak suka orang-orang mengataiku seperti itu. Aku dan Bunda Maya berbeda!
Tapi, setelah ku pikir-pikir yang dikatakan Felly tadi benar. Jika aku tidak menyingkirkan penghalang, aku tidak akan bisa mencapai tujuanku. Melihat Mbak Jessica yang malah dengan sengaja melimpahkan semuanya pada Canny membuatku kesal.
Aku tidak membenci Canny, sungguh.
Aku hanya iri dengan hidupnya yang selalu diliputi kebahagiaan. Apakah setelah menyingkirkannya hidupku juga akan diliputi kebahagiaan?
“Lakukan yang ada di pikiranmu, Fira.” Aku menoleh ke samping dan terkejut melihat Felly yang berdiri di sebelahku.Sejak kapan dia ada disini? Aku duduk di tempat tidur dan menatap Canny, syukurlah dia tidak terbangun.
Felly condong ke arahku dan mendekatkan kepalanya tepat di sebelah telingaku. “Pikirkan, akan ada banyak keuntungan yang kau dapatkan jika menyingkirkan penghalangmu. Kau mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dari orang-orang yang kau inginkan dan tidak perlu berbagi. Seseorang yang membencimu akan menyayangimu karena kau hanya satu-satuya tanpa tandingan.” Tanganku mengepal kuat mendengar tiap kata demi kata yang membuatku semakin yakin akan keputusanku.
Sudah ku putuskan.
Aku akan melakukan apa yang Felly sarankan padaku.
Ceklek
Felly segera berdiri saat pintu kamar terbuka dan menampakkan wajah lelah Sinta. “Kau sudah disini? Aku mencarimu kemana-mana.” Sinta melepas pakaiannya dan berganti baju tidur. “Eh, kalian sedang bicara apa? Sepertinya serius sekali.” Felly berjalan ke tempat tidurnya.
“Fira mimpi buruk tadi, aku hanya menenangkannya.” Sinta menatapku dan Felly bergantian, ia tampak curiga dengan kami.
“Felly benar. Aku terbangun karena mimpi buruk.” Sinta tersenyum dan mengangguk sebelum berbaring di sebelah Felly.
Aku turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. “Kau mau kemana?” Sinta melongokkan kepalanya.
“Dapur. Aku haus.”
Ia bangkit dari tidurannya, “Biar aku saja.”
“Tidak perlu. Kau istirahat saja, aku bisa mengambilnya sendiri.” kataku keluar kamar dan menutupnya, aku bergegas turun ke lantai dasar dan melangkah menuju dapur. Aku tidak berbohong, aku benar-benar haus.
Tanganku terulur membuka kulkas dan mengambil tumbler berisi air putih dan menuangkannya di gelas. Aku memejamkan mata menikmati air itu mendinginkan tengorokanku. Otakku berpikir mengenai rencana untuk menyingkirkan Canny.
Aku membuka mata dan menatap sekeliling, rumah ini dilengkapi cctv di setiap sudutnya dan ada salah satu yang mengawasinya 24 jam. Jika aku bertindak diluar kewajaran, mereka akan mencurigaiku. Pandanganku terhenti di garasi yang gelap karena lampu disana di matikan.
Hey.
Bagaimana jika aku melakukan sesuatu dengan mobil yang akan kami gunakan besok?
Ide bagus!
Aku menatap sekeliling, cahaya lantai dasar remang-remang karena tidak semua lampu dimatikan.
Dengan cepat aku mencuci gelas yang tadi ku gunakan sebelum berjalan ke arah garasi. Tanganku merogoh saku piyamaku dan mengambil ponsel. Aku menyinari seluruh tembok dan mencari kamera cctv dipasang, setelah menemukannya aku berjalan di balik mobil-mobil lain untuk menghindari cctv. Sejujurnya aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak, setidaknya aku sudah mengusahakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
Chick-LitSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
