Author’s pov
15:00 WIB
Sebuah mobil berwarna silver melintasi jalan raya yang cukup lenggang, bercampur dengan berbagai jenis kendaraan lain. Hanya ada dua orang di dalam mobil itu, mereka tampak cemas memikirkan sesuatu.
Setelah kuliah selesai, seseorang dengan nomor asing menelepon Felly. Mereka terkejut saat mengetahui ternyata itu nomor Alvin, dan lebih terkejut lagi saat Alvin meminta keduanya untuk datang ke kantornya. “Menurutmu, kenapa Kakak Canny menyuruh kita pergi ke kantornya?” Sinta yang duduk di kursi pengemudi menatap Felly sekilas.
“Apa lagi? Tentu saja mengadili kita.” Sinta menggigit bibir bawahnya, dia semakin gelisah sekarang.
“Ku dengar kakak pertama Canny tahu segalanya. Kemungkinan besar dia tahu tentang rencana yang kita susun.” Felly menghela napas panjang.
“Jika dia tahu semuanya, kenapa membiarkan kita melaksanakan semua rencana itu?”
“Mungkin dia memiliki tujuan lain, Felly. Sesuatu yang bisa dia ambil dari kita.”
Felly terkejut menatap sahabatnya, “Menurutmu apa yang kita punya untuk diberikan padanya? Dia sudah punya segalanya yang bahkan tidak kita miliki.” Sinta mengangguk setuju dengan Felly, ia juga tidak mengerti keuntungan apa yang akan diambil Alvin.
“Sudahlah, apapun itu kita harus hadapi.”
“Aku benar-benar berusaha tidak memikirkan hal negatif akan menimpa kita.” Felly mengulurkan tangannya dan menggenggam erat tangan kiri Sinta.
“Kita akan baik-baik saja. Kita hadapi ini bersama.” Sinta tersenyum dan menatap Felly sekilas.
Mobil yang mereka tumpangi memasuki kawasan perkantoran dengan gedung-gedung menjulang tinggi. Kawasan ini merupakan pusat perkantoran di wilayah Kediri. Seluruh perusahaan yang berada di Kediri berkumpul menjadi satu di kawasan ini. Keduanya takjub melihat logo-logo perusahaan terpasang di bagian depan masing-masing gedung.
“Eh, bukankah itu perusahaan milik Daddynya Canny?” Felly memandang takjub satu-satunya gedung yang memiliki konsep garden dan terlihat sangat asri dengan banyaknya pohon-pohon di sekitarnya. Bahkan ada beberapa tanaman sulur yang menghiasi bagian depan kantor.
“Melihat keadaan kantornya, aku sangat ingin bekerja disana.” Sinta mengutarakan keinginannya.
“Boleh. Lagipula kita memiliki orang dalam.” Sinta menatap sahabatnya dengan wajah bingung.
“Maksudmu Canny?”
Keduanya saling menatap lalu tertawa bersamaan. Ya, setidaknya tawa ini mampu sedikit menenangkan mereka.
“Belok kanan menuju Aryeswara Group.” Sinta membelokkan mobilnya setelah membaca papan penunjuk arah.
Kedua pasang mata perempuan itu takjub melihat beberapa gedung yang dikelilingi pagar cukup tinggi denga tulisan ‘Aryeswara Group’ di bagian pintu masuknya.
“Kita seperti masuk ke sebuah perumahan elit.” kata Felly dengan mata tertuju pada perusahaan yang berjejer milik raja bisnis di Kediri.
“Hmm, eh ada kampus kita.” Felly menatap tempat yang ditunjuk Sinta. Benar, salah satu gedung itu berlogo kampus mereka. Al Fazza University.
“Ku dengar keuangan Al Fazza dikelola bagian bisnis Aryeswara Group. Jadi Al Fazza dibesarkan dengan cara bisnis. Uang yang diberikan pada kampus harus digunakan sesuai jalur, jika tidak akan berakhir di Aryesguard dan ku yakin anak perusahaan itu yang menjadi pelindung bagi seluruh anak perusahaan Aryeswara Group tidak akan menjatuhkan hukuman yang ringan.” Felly mengangguk mendengar penjelasan Sinta.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
ChickLitSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
