Canny’s pov
-Marco’s House-
Aku dan teman-temanku baru saja sampai di rumah Marco. “Canny, bukankah itu mobil Faris?” aku menengok ke arah Felly dan mengangguk. Ya, Faris memang disini bersama Tama. Tadi Faris meminjam ponsel Tama dan memberitahuku dia pergi menjenguk Marco.
“Aku masih tidak mengerti, bagaimana bisa Marco bertengkar dengan seseorang hingga terluka parah.” Aku memandang Dila yang memandang lurus ke depan.
“Ya. Selama ini Marco tidak menyukai pertengkaran.” Aku mengangguk setuju dengan Rani.
Memang benar, Marco bukan tipe-tipe orang yang bertengkar hingga terluka. Marco sangat menyukai kedamaian dan ia lebih memilih pergi daripada bertengkar.
“Ku dengar dia bertengkar di parkiran kampus. Hal yang tidak masuk akal, dia bertengkar dengan perempuan.” Aku terkejut mendengar pernyataan Rama.
“Benarkah? Seharusnya dia bisa melawan jika perempuan. Bukankah tenaganya lebih kuat?”
“Ya, dia sangat ingin melawan. Tapi dia masih memiliki hati nurani. Itulah bedanya dia dengan perempuan gila yang menghajarnya.” Haidar tiba-tiba mendahului kami, pandangannya tertuju pada Felly. Kenapa sejak tadi Haidar menatap Felly seperti itu?
“Haidar, bukankah kau bersama Marco kemarin? Kau pasti tahu yang terjadi dengannya.” Haidar terhenti dan menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa ku artikan.
“Selain aku, ada lagi yang bersamanya.” Haidar melanjutkan langkahnya.
Hah?
Apa maksudnya?
“Nanti saja kita tanyakan yang terjadi padanya.” Aku mengangguk setuju dengan ketua kelas yang berjalan mendahului kami dengan teman laki-laki yang ikut.
“Assalamualaikum.” Kami berdiri di belakang Rama yang berdiri di depan sendiri.
“Walaikumussalam. Eh, kalian teman Marco?” Seorang wanita bule keluar menemui kami. Beliau tersenyum menatap kami satu persatu.
Ini Tante Abi, mamanya Marco. Tante Abi bukan orang Indonesia asli, ia berasal dari Kanada. Ku dengar dari Faris, kedua orang tua Marco memeluk agama yang berbeda.
“Ya, Tante. Kami teman kuliah Marco.” Rama menyalami tangan ibunya Marco dan mencium tangannya. Aku dan yang lainnya melakukan hal yang sama.
“Ah iya. Silahkan masuk. Marco ada di dalam kamarnya.” Rama mengangguk dan berjalan masuk menuju kamar Marco, anak buahnya mengekor di belakang.
Tok
Tok
Tok
Rama mengetuk pintu kamar beberapa kali.
Ceklek
Pintu kamar terbuka, aku tersenyum pada Faris yang membuka pintu. Faris langsung menatapku dengan senyuman sebelum mengalihkan pandangannya pada Rama. Bisa ku dengar bisikan-bisikan di sekitarku, namun tidak jelas apa yang mereka katakan. Apakah mereka terpesona dengan senyuman Faris?
“Masuklah.” Faris menggandeng tanganku dan menarikku masuk ke dalam. Sekilas, ku lihat dia menatap Felly dengan pandangan yang tidak biasa. “Dimana Fira?” aku menggeleng menjawab pertanyaan Faris.
“Kalian belum baikan?” Aku menghela napas panjang dan menggeleng menatap Tama yang menatapku sedih.
“Sangat sulit. Ku rasa kebenciannya padaku sangat dalam.” Tama tidak mengatakan apapun, hanya menepuk bahuku sebelum keluar kamar karena penuh sesak.
“Temui Marco dulu. Ku tunggu di ruang tamu.” Aku mengangguk, tangan Faris terulur mengelus pipiku. “Tersenyumlah. Kau harus memberi kekuatan pada Marco.” Aku tersenyum membuat senyuman di bibir Faris melebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
Chick-LitSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
