Author's pov
-Rumah Sakit-
Azril menatap pintu UGD, perasaannya tidak jauh beda dari sebelumnya. Tidak membaik sekalipun sempat mendengar suara putrinya. Ia memejamkan mata dan merapalkan doa untuk keselamatan Canny. Tak hanya Azril, 3 pria dan satu laki-laki juga merasakan hal yang sama. Mereka tak sabar menunggu laporan dari dokter yang memeriksa. Tak ada yang bersuara diantara mereka berlima, semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Alvin mencoba menenangkan dirinya dengan beristighfar sejak tadi. Ia benar-benar akan membunuh siapa saja yang berani mencelakai Princessnya. Ia masih mengingat dengan jelas perkataan salah satu anak buahnya yang mengatakan jika penyebab kecelakaan tidak diketahui karena mobil itu hangus terbakar. Hanya Canny yang tahu tentang kondisi mobil itu.
"Alvan!" Lima orang itu menoleh ke sumber suara saat mendengar teriakan Ralia. Alvan berdiri dan langsung berlari memeluk Mamanya yang menangis.
"Mama tenang ya. Princess ada di dalam bersama dokter." Ralia mengangguk, ia berdoa semoga putrinya baik-baik saja. Tak banyak yang datang, hanya Ralia, Vilda, Hari, dan Diana.
Demi kenyamanan semua orang.
Sreeekkk
"Keluarga Saudari Canberra?" Ralia dan Azril mendekat ke dokter yang keluar.
"Kami orang tuanya." Ralia mengangguk mendengar jawaban suaminya. Dokter itu menatap sepasang suami istri itu dan menghela napas panjang.
"Canberra mengalami patah tulang di kedua kaki, tangan kanannya patah akibat benturan yang sangat keras." Tubuh Ralia lemas mendengar pernyataan Dokter. Azril menahan air matanya agar tidak memperburuk keadaan istrinya. "Kondisinya kritis dan kemungkinan besar mengalami koma."
Suara tangis terdengar dari Vilda dan Diana. Alvan dan Faris menunduk, air mata mereka mengalir walau tidak ada isakan. Dokter merasa sedih untuk keluarga pasien di hadapannya ini.
"Kami akan memindahkannya ke ruang ICU dan memaksimalkan perawatan untuknya." Azril yang menenangkan Ralia hanya mengangguk, otaknya tidak bisa berpikir sekarang. Pernyataan dokter terlalu mengejutkan baginya. "Kita berdoa, semoga kemungkinan terburuk itu tidak terjadi."
Indra menatap Alvin dan merangkulnya. Sebenarnya ia tak tega melihat kedua putranya sangat sedih seperti ini. "Canny anak yang kuat, Ice Man. Dia pasti bisa melewati masa kritisnya dan sembuh seperti sedia kala." Ucapnya pada Alvin yang memejamkan matanya, buliran bening yang menuruni pipinya membuat hati Indra sakit.
Kedua tangan Alvin mengepal kuat, "Akan ku bunuh siapapun yang berani melukai Canny!" Alvin berdiri dan melangkah.
"Sssttt, tenang sayang. Tenang ya. Siapapun yang melukai Canny kita akan menerima akibatnya. Sekarang lebih baik kita fokus dulu pada Canny ya." Vilda memeluk cucu pertamanya, Alvin menghela napas panjang berulang kali. Ia kembali duduk dan menatap para suster yang sibuk dengan alat-alat. Mereka akan memindahkan Canny ke ruang ICU.
#
-Markas Utama Aryesuard-
Ctaarrr
Ctaarrr
Ctaarrr
Suara pecut menggema di sebuah ruangan yang didominasi warna gelap. Hanya ada dua orang di ruangan itu, seorang pria yang sudah berusia senja dan seorang perempuan yang memejamkan matanya. Ia menahan rintihan saat pecut itu mengenai kulit betisnya. "Kau tahu tugas utamamu, kan? Kenapa kau tidak bisa melindunginya dengan baik!"
Ctaarrr
Felly memejamkan matanya merasakan sensasi panas sekaligus nyeri di betisnya. Posisinya sekarang seperti hendak melakukan push up. Ia akui, ini salahnya yang tidak bisa bekerja dengan baik. Ia pantas mendapatkan hukuman yang lebih berat dari ini jika sampai keadaan Canny buruk. Felly tidak menyalahkan Ibra yang menghukumnya, memang inilah yang harus diterimanya sesuai dengan peraturan setiap anggota Aryesguard.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
Chick-LitSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
