2. Missing You

584 71 25
                                        

Author’s pov

Di sebuah cafe yang berada di pusat kota, seorang perempuan dengan bros matahari duduk menatap sebuah foto yang berada di tangannya. Di hadapannya ada perempuan yang lebih muda darinya. “Apa dia bahagia selama ini?” pertanyaan tersebut terlontar dari mulutnya.

“Saya tidak tahu, setelah diusir dari rumah saya tidak mendengar banyak kabar tentangnya.” Perempuan dengan bros matahari menatap perempuan di hadapannya, tatapannya tajam menelisik.

“Alvin yang mengusirmu?”

“Iya.”

“Alvin juga yang menyusun rencana agar gadis kesayanganku ini menderita depresi?”

“Iya, Nyonya.”

Ia menghela napas panjang berulang kali dan memejamkan matanya. Ia membuka matanya dan menatap lekat-lekat lawan bicaranya. “Bagaimana kabar Mas Indra? Apakah dia bahagia dengan pernikahan ketiganya?” Perempuan yang lebih muda menunduk, ia tidak berani menatap kedua mata perempuan di hadapannya. Ia takut sekarang, takut jika pikiran tidak masuk akal itu terjadi.

“Lili, jawab aku! Apa Mas Indra bahagia sekarang dengan Adelia?”

“Saya tidak tahu, Nyonya. Lebih baik Nyonya lihat sendiri saja.” Perempuan dengan bros matahari itu melepaskan cengkraman tangannya dari kedua bahu Lili.

“Kau benar, lebih baik aku menunjukkan diri saja pada mereka. Sudah cukup aku bersembunyi.”

🐾🐾🐾🐾🐾

Fira’s pov
-Indra’s House-
10:00 WIB

Aku yang duduk dengan bersandar pada tempat tidur tersenyum menatap foto seseorang yang ada di tanganku. Hari ini aku masuk siang karena dosen kelas pagi mengatakan hari ini libur. “Begitulah Bunda. Jika bukan karena Canny kemarin, aku tidak mungkin berani membawa teman ke rumah. Apalagi teman laki-laki.” Tanganku terulur mengelus wanita yang sangat cantik itu.

Aku sedang bercerita padanya semua yang terjadi kemarin, entah dia bisa mendengarku atau tidak. Tak bisa ku pungkiri, aku sangat ingin melihatnya walau hanya sekali. Aku ingin sekali mendengar suaranya dan merasakan pelukan darinya.

Bukannya aku tidak bersyukur sudah memiliki seorang ibu yang menyayangiku dengan tulus, aku sangat bersyukur memiliki Mama dalam hidupku. Hanya saja, aku tetap ingin melihat Bunda Maya walau hanya sekali.

“Sayang.” Aku menoleh ke arah pintu yang terbuka, aku menyembunyikan foto Bunda di bawah tempat tidur dan berjalan ke arah Papa dengan senyuman manis.

“Ya, Pa?”

“Sedang apa? Kau baik-baik saja? Kenapa matamu basah?” Papa mengusap air mata yang menggenangi mata kananku.

“Tidak, Pa. Fira baik-baik saja.” Aku memeluk Papa sangat erat dan menahan diri untuk tidak menangis. Aku tidak ingin Papa terlalu banyak berpikir.

“Sayang, jika ada sesuatu yang membuatmu sedih beritahu Papa atau Mama. Atau jika kau tidak nyaman bisa memberitahu Canny. Yang terpenting tidak kau simpan sendiri.”

Aku mendongak dengan senyuman, “Ya, Pa. Fira sudah hapal diluar kepala kalimat itu.” Papa tersenyum dan mengecup keningku.

“Pa. Boleh Fira tanya sesuatu?”

“Tentu saja, sayang. Mau tanya tentang apa?” Aku menatap kedua mata Papa lekat-lekat, memprediksi ekspresinya nanti saat ku lontarkan sebuah pertanyaan yang ku simpan bertahun-tahun lamanya.

“Papa masih membenci Bunda?” Seperti dugaanku, Papa terkejut. Ia hanya menatapku beberapa detik, pandangan matanya berubah sendu dan ini membuatku tidak tega. “Jika Papa tidak mau menjawabnya, tidak apa.”

SECOND LOVE : Perfect IncitementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang