38. Revealed

311 48 21
                                        

Hello teman-teman. Karena ini akhir bulan dan tinggal 3 chapter,  jadi aku gabungin aja sekalian.

Say yeah to triple update!!! 

🐴🐴🐴🐴🐴

Author’s pov

Felly menangis di toilet gedung ekstra, ia meluapkan rasa sedih, kesal, marah, dan sakit hatinya. Perasaannya tidak stabil hari ini, dia juga terkejut dengan reaksi tubuhnya yang tidak terkendali. Semua ini karena kedua orangtuanya yang memarahinya habis-habisan setelah melihat tumpukan botol-botol minuman haram di karung besar yang berada di depan rumahnya.

Seperti janjinya pada Ralia untuk berubah, Felly membuang semua minuman haram miliknya, namun sayangnya ia gagal saat menghilangkan jejak. Awalnya Felly menolak mengaku barang-barang itu miliknya, namun ia tidak bisa berkutik setelah Papanya menunjukkan bukti berupa CCTV yang merekam dirinya sedang menyeret karung itu keluar dari kamarnya dan menuruni tangga.

Seluruh kalimat menyakitkan yang kedua orangtuanya lontarkan terngiang jelas di telinganya sekarang.

“Dasar anak tidak berguna! Bisanya hanya mencemarkan nama baik keluarga!”

“Mama malu punya anak tidak beradab sepertimu!”

“Aaarggghhh!!!” Felly berteriak keras dan menjambak rambut yang tertutup jilbabnya. Ia tak peduli jika orang lain mendengar suaranya, Felly sudah menduga orang-orang akan menganggapnya gila setelah ini.

Ia sudah pasrah jika pihak kampus mengeluarkannya karena melakukan kekerasan di lingkungan kampus.

Tok

Tok

Tok

“Felly, buka pintunya. Aku disini!” Felly menatap pintu, ia mendengar suara Canny.

“Pergilah Canny! Aku tidak ingin menyakitimu! Ku mohon tinggalkan aku sendiri.” Canny menghapus air matanya dan memandang pintu yang tertutup sempurna itu. Faris menatap Canny dan mengangguk.

“Tapi-”

“Canny, aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Tinggalkan aku sendiri. Aku benar-benar tidak ingin menyakitimu. Ku mohon.” Felly mengelus pintu yang menjadi penghalangnya dengan Canny.

Dalam kondisinya yang tidak baik, ia memilih menyendiri. Ia hanya tidak ingin menyakiti Canny atau Sinta karena tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.

Faris menggenggam tangan Canny, “Kita turuti dia.”

“Hubungi aku saat kau sudah tenang.”

“Pasti! Jika Sinta mencariku, katakan padanya aku sudah pulang.”

Canny menghela napas panjang dan mengangguk, “Akan ku katakan. Aku pulang dulu, Felly.” ia dan Faris berjalan meninggalkan toilet.

Mendengar langkah kaki menjauh, Felly memejamkan matanya dan kembali duduk di kloset. Tangannya masuk ke dalam saku yang berada di bagian dalam bajunya dan mengeluarkan sebuah pisau kecil yang selalu dibawanya kemanapun.

Ia melipat baju panjangnya hingga siku dan menggoreskan pisau kecil itu di lengan bagian dalam, tepat disebelah luka yang ia buat kemarin.

“Selain psycho, apa aku depresi sekarang? Seperti Fira?”

#

Canny’s pov
19:00 WIB

“Sudahlah, jangan cemas. Felly akan baik-baik saja.” Aku menatap Tama yang meyakinkanku, juga Fira.

SECOND LOVE : Perfect IncitementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang