Canny’s pov
Aku memejamkan mataku dan tersenyum. Rasanya lega sekarang, tak ada lagi kekesalan yang mengganjal di hatiku.
“Bagaimana? Lebih baik?” Aku mengangguk dan menatap Faris yang juga tersenyum lebar. Kami berdua dalam perjalanan pulang sekarang. Seperti biasanya, kami memutuskan pulang secara terpisah. Aku dengan Faris, Tama dengan Fira, dan Felly dengan Sinta.
Aku menunduk menatap tangan Faris yang menggenggam tanganku sejak tadi. “Aku tidak tahu jika akan selega ini. Harusnya aku melakukannya sejak awal. Menyimpan kebencian dan amarah terlalu lama tidak menenangkan.”
“Memang. Karena sudah tahu rasanya, lebih baik mulai sekarang Cherryku tidak lagi menyimpan kebencian atau amarah.”
“Akan ku usahakan, Marble.” Faris menatapku dengan senyuman sekilas. “Terimakasih sudah menyaranku bicara dengan mereka bertiga.”
“Sama-sama, Cherry. Masalah akan selesai jika dibicarakan baik-baik dan yang terpenting dengan kepala dingin.” Aku mengangguk saja merespon Faris.
“Eh, kau akan pulang setelah mengantarku?”
“Kau mau pergi ke suatu tempat?”
“Tidak. Aku hanya ingin kau membantuku, aku merencanakan sesuatu.”
Faris mengerutkan keningnya. “Bukan rencana yang aneh-aneh, kan?”
“Tentu saja tidak. Aku ingin mengakrabkan kembali persahabatan kami. Bagaimana menurutmu?”
“Ide bagus.”
“Tapi masalahnya, jika aku mengatakan pertemuan antara kami berempat suasana tidak akan menyenangkan. Pasti sangat canggung karena kami baru berbaikan. Terutama, aku dan Fira, juga Felly dan Fira.”
“Bagaimana jika kita membuat konsep yang menarik?”
“Hmm?”
“Seperti kencan bersama.”
“Tapi, Felly dengan siapa? Dia masih single.” Mataku membulat sempurna saat mengingat kejadian tadi di kelas. Aku mengubah dudukku menjadi ke samping sepenuhnya.
“Apa semalam Felly dan Marco tidur di tempat yang sama? Tadi pagi mereka berangkat bersama, dan kemeja yang dipakai Marco itu kemeja Felly.” Aku hampir berteriak histeris, sedangkan Faris hanya tersenyum lebar.
“Mungkin saja, Marco menginap di rumah Felly lalu berangkat bersama. Jangan berpikir yang tidak-tidak.”
Sungguh, aku ingin berpikir positif. Tapi, di rumah Felly tidak ada orang sama sekali. Setelah puas memarahi Felly kemarin lusa, kedua orangtuanya bertengkar hebat lalu pergi entah kemana. Bahkan mereka tidak peduli dengan Felly dan tidak memberi kabar apapun hingga sekarang.
“Kau tidak percaya dengan Marco?”
“Percaya. Kita kenal Marco sejak MAN dan dia tidak mungkin macam-macam.”
“Good. Jadi apa rencanamu?” Aku mengerdipkan sebelah mataku ke arahnya dengan senyuman. Rencanaku ini akan berhasil!
#
-Alfarizi’s Mansion-
“Sebelah sini?” aku memicingkan mataku menatap balon yang ditempelkan Faris ke pohon mangga di belakang rumah. Kekasihku ini naik ke pohon mangga hendak memasang balon.
“Iya!” teriakku menyodorkan kedua jempolku padanya. Faris mengangguk dan menali balon-balon itu di ranting pohon. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, beberapa ART menyiapkan meja dan kursi juga alat pemanggang. Kedua adik kembarku tentu ikut ambil bagian, Amara memompa balon sedangkan Amar sedang menata bunga di vas.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
ChickLitSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
