46. Depresi

504 62 39
                                        

Author's pov

Faris dan Tama tampak resah, keduanya menatap pemandangan di luar mobil. "Pak bisakah cepat sedikit?" Faris menatap anggota Aryesguard yang sedang menyetir pelan.

"Jalanan disini sangat curam, jadi tidak bisa lebih cepat." Faris mendengus kesal, ia benar-benar ingin melompat saja rasanya dan segera sampai ke lokasi Canny kecelakaan.

Setelah mendengar kabar mengejutkan, mereka tidak jadi ke villa dan memutuskan ke lokasi kejadian. Tentu saja karena Faris yang memaksa dan mengancam akan mencarinya sendiri meskipun Faris benar-benar tidak tahu dimana lokasinya.
"Sabar. Ini demi keselamatan kita juga." Tama menatap wajah dingin sahabatnya, ia juga cemas memikirkan Canny meskipun tidak separah Faris.

"Sejak tadi aku merasa tidak enak. Seharusnya aku tidak menyuruhnya cepat datang." Faris menunduk, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tama menatap sahabatnya prihatin, yang ia lakukan hanya bisa menepuk punggung sahabatnya.

Srrkkkk

Ssrrkkkk

"Tiger, dengan Bean disini." Tama mendongak menatap anggota Aryesguard yang membawa mereka saat HT yang terpasang di bahu itu berbunyi.

"Ada apa?"

"Mobil Nona Canny sudah ditemukan." Faris mendongak. "Seperti dugaan, mobil itu habis terbakar." Tangan Faris mengepal kuat, hatinya hancur sekarang. Ia tidak pernah membayangkan kekasihnya mengalami kejadian tragis seperti ini.

"Aku kan segera kesana!" Anggota Aryeswara dengan nama Tiger itu mempercepat laju mobilnya. Tama masih menatap Faris yang menatap keluar jendela dengan pandangan kosong.

Tama merasa ada hal yang janggal dalam tragedi ini. Ia ingat suara bergetar Fira di telepon saat kekasihnya itu mengatakan tidak bisa ikut menjemput. Namun, beberapa menit kemudian ia kembali menelepon Tama dan bersiap ikut Canny.

Hal yang mencurigakan menurut Tama adalah suara Fira yang terdengar panik dan terburu-buru mengejar Canny yang hendak berangkat. Fira tidak memberinya kabar setelahnya. Tunggu, jika Fira ikut artinya ia juga kecelakaan? Tapi sejak tadi orang di depannya ini hanya menyebut nama Canny.

"Dimana Fira?" sebuah pertanyaan diajukan Tama pada orang yang menyetir di depannya.

"Nona Fira ada di villa bersama anggota keluarga yang lain. Keadaannya tidak terlalu bagus karena terlalu syok. Tuan tenang saja, ia sekarang bersama Sinta." Tama takjub dengan orang di depannya ini, Tiger tahu semua yang terjadi.

Tama menghela napas panjang mencoba menenangkan dirinya dan yakin keadaan Fira baik-baik saja bersama Sinta. Rasa khawatirnya belum juga hilang sebelum bertemu langsung. Ia percaya Sinta sudah berubah dan menjadi lebih baik sekarang.
Walau terkadang kecurigaan itu muncul.

#

-Malvino's Villa-

Sinta menatap sahabat sekaligus sepupunya tak percaya, ia harap yang ia dengar tadi tidak benar. "Apa yang tadi kau katakan? Kau harus tidur sekarang, Fira. Bicaramu mulai tidak jelas." Sinta merangkul Fira dan hendak menuntunnya ke tempat tidur. Sejujurnya ia takut keadaan ini membuat depresi Fira kambuh. Sinta paham, Canny sangat berarti bagi Fira. Canny adalah salah satu alasan Fira bertahan hidup hingga sekarang.

"Aku bicara kebenaran, Sinta! Aku memotong kabel rem di mobil yang dibawa Canny!" Jantung Sinta seakan berhenti berdetak saat ini.

"Aku yang melakukannya! Aku dengan sengaja melakukannya, Sinta. Aku pelakunya!" tubuh Fira merosot, ia kembali menangis dengan keras seiring dengan jatuhnya air mata yang membasahi wajah Sinta.

SECOND LOVE : Perfect IncitementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang