37. Unexpected Protection

397 46 61
                                        

Fira’s pov

Aku dan Tama berjalan memasuki gedung, tujuan awalku sebelum masuk kelas adalah kamar mandi. Aku ingin membersihkan telur dari jilbabku. Jangan lupakan pandangan orang-orang saat kami lewat. “Kenapa kau mencegahku? Mereka sudah keterlaluan padamu.”

Setelah tragedi telur tadi, aku mengajak Tama pergi darisana dan ke kelas saja. Selera makanku lenyap sudah karena kedua teman Tama. Ya, mereka berdua teman satu program studi dengan Tama. Mengenai motifnya melakukan ini aku belum tahu.

“Biarkan saja, Tama. Sudahlah. Beberapa hari lagi, suasana akan kembali seperti semula.”

Tama menghela napas panjang lalu tersenyum. “Aku tunggu diluar ya.”

“Tidak, kau ke kelas saja duluan. Aku membutuhkan waktu yang lama untuk membersihkan ini.” Tama menatapku beberapa detik sebelum mengangguk.

“Aku tunggu di kelasku, makanan ini harus habis.” Tama menggoyangkan kotak bekal di tangannya, aku tidak ada pilihan lain selain mengangguk. “Hubungi aku saat butuh bantuan.” katanya sebelum pergi ke kelasnya.

Aku menghela napas panjang dan melangkahkah kakiku ke dalam kamar mandi. Syukurlah, tidak ada seorangpun yang berada di sini. Tapi, mungkin saja ada yang berada di toilet. Aku membenarkan spekulasiku saat mendengar suara di salah satu bilik toilet.

Sudahlah, lebih baik aku fokus saja membersihkan noda telur yang mengotori hampir seluruh jilbabku. Aku melepasnya dan menghela napas panjang.

Bagaimana aku membersihkannya?

Ah, bilas saja dengan air. Aku menyalakan kran dan membasahi jilbabku yang terkena telur dengan air.

Ceklek

Pandanganku tertuju pada seseorang yang baru keluar dari kamar mandi, hanya beberapa detik karena pandangan kami beradu. Dia sudah masuk rupanya, syukurlah luka di kakinya tidak terlalu parah. Ku lihat dia memakai sepatu.

Dia berjalan ke wastafel dan berhenti di sampingku. Ia menunduk dan tangannya terulur menyalakan kran. Tidak ada percakapan diantara kami dan hawa canggung sangat kentara.

Aku tidak pernah membayangkan kami berdua berada dalam situasi seperti ini. Mengingat betapa dekatnya kami.

Dulu.

Aku menunduk saat melihat wajah seriusnya membersihkan busa-busa sabun.

Jujur.

Aku merasa bersalah.

Bahkan sampai sekarang dia tidak melakukan apapun untuk membalas perbuatan jahatku. Ku akui, aku memang sudah keterlaluan. Seharusnya aku tidak mengunggah video itu ke forum kampus.
Terlambatkah jika aku menyesalinya sekarang?

“Jilbabmu kenapa?” aku mendongak dan menatap Canny dari pantulan cermin, ia tidak menatapku. Ia sibuk mengeringkan tangannya dengan mesin pengering.

“Tidak apa-apa.” jawabku dingin. Mendengar suaranya rasa kesalku kembali lagi.

Ayolah, Fira! Kau baru menyesali perbuatanmu beberapa menit lalu.

“Pakai ini. Jilbabmu tidak bisa di pakai sekarang.” Canny meletakkan jilbab persegi berwarna hitam di sebelah wastafel, setelahnya ia pergi meninggalkan kamar mandi. Aku menggigit bibir bawahku melihat jilbab itu. Bukankah aku benar-benar tidak tahu malu jika aku memakainya?

#

Canny’s pov

“Pelangi dan Dinda, anak PSI melemparkan telur ke Fira sengaja.” Aku menatap Dila yang asyik memakan burger di tangannya.
Baru saja aku bertanya pada Dila tentang yang terjadi pada Fira. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa tahu yang terjadi padahal kejadiannya baru beberapa menit lalu.

SECOND LOVE : Perfect IncitementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang