3. Date

467 59 23
                                        

Author’s Pov
-Alfarizi’s Mansion-
18:00 WIB

Faris menatap mansion berlantai 3 di hadapannya. Ia masih belum menyangka telah mengencani putri dari bos ayahnya. Semenjak pertemuan tidak terduga di Australia setahun lalu, ia tahu bahwa perempuan yang mengisi hatinya adalah cucu keluarga Alfarizi.

Sebenarnya ia minder mengetahui fakta itu, keluarga Alfarizi termasuk keluarga konglomerat meskipun pusat bisnisnya tidak di Kediri. Ya meskipun keluarganya serba kecukupan tetap saja tidak ada apa-apanya dibanding keluarga Alfarizi.

“Kau masih mau berdiam diri disana?” Faris tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara Tama.

“Atau kita tidak jadi pergi saja?” Ia mengalihkan pandangannya ke Fira yang melipat kedua tangannya. Jadi sebelum kemari, mereka menjemput Fira terlebih dahulu sesuai dengan rencana. Tentu hal ini bertujuan agar mudah mendapatkan izin dari Daddy Canny.

“Ayo.” Faris merapikan kemejanya dan berjalan mendahului Fira dan Tama. Tangannya terulur memencet bel, jantungnya berdetak semakin cepat menunggu pintu dibuka.

“Santai saja. Kau hanya meminta izin, bukan melamarnya.” Tama menepuk bahu sahabatnya berulang kali, berusaha menenangkannya.

“Tama benar. Kau ini seperti hendak melamarnya saja.”

Ceklek

Pandangan ketiganya teralih pada seseorang yang membuka pintu. Jantung Faris benar-benar seperti berhenti berdetak melihat seseorang menatapnya dingin, lebih tepatnya dia dan Tama karena pandangan itu sedikit menghangat saat menatap Fira.

“Mas Alvin!” Fira melompat dan memeluk kakaknya.

“Kenapa tidak menghubungiku? Kau kemari bersama mereka berdua?” tatapan dingin dan menusuk itu bisa dirasakan Tama dan Faris.

“Ya, kami bertiga mengajak Canny pergi bersama. Tama dan Faris kemari meminta izin dari Om Azril. Boleh kami masuk?” Alvin menatap dua laki-laki di hadapannya, tanpa mengatakan apapun ia berbalik dan masuk ke dalam rumah.

“Masuklah ke kamar Canny.” Fira mengangguk, ia berjalan ke tangga meninggalkan Tama dan Faris yang gugup setengah mati karena berhadapan dengan Alvin.

“Duduk.” Faris dan Tama saling berpandangan sebelum duduk di sofa panjang tak jauh dari Alvan duduk. Mereka menunduk, tak berani memandang tatapan dingin Alvin.

“Daddy tidak ada di rumah, ada perjalanan bisnis di Kanada. Jadi aku yang bertanggungjawab atas Canny.” Faris menggigit bibir bawahnya, kegugupannya bertambah sekarang. “Kalian akan membawa Canny kemana malam-malam begini?”

“Ke Blessing Castle, Mas.” Faris berusaha tersenyum.

“Kenapa kesana? Kalian akan merayakan sesuatu?”

“Ya.” Kedua mata Faris membulat sempurna, ia menatap Tama yang tersenyum konyol.
“Faris ulang tahun, ia akan mentraktir kami makan malam.”

Alvin mengangguk, ia menghela napas panjang dan memejamkan matanya. Ia percaya saja Faris ulang tahun karena sebelumnya mendapat pesan dari Alvan yang mengabari Canny datang dan membeli kado untuk temannya yang bernama Faris.

“Alvin!” Alvin membuka mata dan melihat Canny yang duduk di sebelahnya, tangan kanannya melingkar di tangan kirinya dan ia menyandarkan kepala di bahunya. Fira ikut duduk di sebelah kiri Alvin, bedanya ia hanya duduk.

“Boleh ya, aku janji tidak akan lama. Jam 10 malam sudah di rumah.” Canny menatap kakak pertamanya penuh harap. Alvin menghela napas panjang, ia tidak tahan jika adiknya menatap seperti ini.

SECOND LOVE : Perfect IncitementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang