18. Boom

274 47 30
                                        

PERSIAPKAN HATI SEBELUM MEMBACA. AGAK BERAT INI. 

🐾🐾🐾🐾

Fira’s pov

Ceklek

“Kenapa kalian berdua tidak langsung masuk dan malah bertengkar?”

Deg

Belum hilang keterkejutanku dengan Canny yang tiba-tiba memaksaku menyimpan botol vodka, Papa keluar dengan wajah terkejutnya. Tubuhku dan Canny membeku, kami berdua tidak ada yang bergerak ataupun bersuara. “Apa yang kalian pegang?” Mataku membola saat pandangan Papa tertuju pada benda yang Canny dan aku pegang.

“B- bukan apa-apa, Papa.” Aku menarik benda itu bersama tangan Canny dan membawanya ke belakang tubuhku.

“Ah, iya Uncle. Fira benar, benda ini bukan apa-apa.” Canny tertawa sumbang membuat kening Papa semakin mengkerut.

Papa melangkah mendekati kami. Jantungku berdetak sangat cepat, keringat dingin dan rasanya seperti nyawamu akan dicabut saat ini juga. Tanpa aba-aba, Papa menarik sebuah benda yang berada di belakangku. “Papa, jangan!”

Ekspresinya berubah setelah membaca sebuah kata yang tertera di botol bening itu. Pandangannya berubah tajam mengarah padaku dan Canny. “Darimana kalian mendapatkan benda ini!” aku berjingkat terkejut mendengar teriakan Papa. 

“Papa.. it.. itu dar-”

“Itu milik Fira, Uncle. Aku tidak tahu dia mendapatkannya darimana.”

Jantungku seakan berhenti berdetak mendengar kalimat yang dilontarkan Canny. Aku memandangnya tak percaya, Canny memandangku dengan tatapan yang tak dapat ku artikan.

“Bukankah sudah ku bilang, Fira? Membeli vodka dan meminumnya bukan ide yang bagus. Kenapa kau tidak mau mendengarkanku?”

“C.... Canny..”

“Syafira!”

“Tidak, Pa. Itu bukan milik Fira. Papa harus percaya dengan Fira!” aku menangis histeris dan menatap Papa yang masih dengan ekspresi marahnya.

“Aku berkata jujur, Uncle. Vodka itu milik Fira. Jika Uncle tidak percaya denganku, Uncle bisa memeriksa piyama dalam totebag yang dibawa Fira.” Papa merebut totebag di tanganku setelah meletakkan botol vodka di meja yang tak jauh dari kami.

“Papa, Fira berkata jujur. Itu bukan milik Fira, tapi itu milik-”

“Syafira hentikan! Jika botol bukan milikmu, bagaimana bisa piyamamu beraroma vodka!” Air mataku mengalir semakin deras, apa yang harus ku lakukan sekarang agar Papa percaya padaku?

“Papa, bukan Fira yang punya tapi-”

“Sini kamu!” Papa mencengkeram tanganku dan menarikku masuk ke dalam rumah. “Kamu harus di beri pelajaran!” teriaknya menghempaskan tubuhku hingga jatuh ke lantai.

“Papa!”

Papa berjalan keluar, “Pulang!” teriak Papa pada Canny lalu menutup pintu. Ku lihat sekilas wajah bersalah Canny sebelum pintu tertutup rapat.

Brak

Papa berjalan ke arahku dengan amarahnya yang membara. Dengan kasar Papa menarik tanganku hingga aku berdiri. “Siapa yang mengajarimu melakukan hal buruk seperti itu? apa selama ini kasih sayang yang Papa dan Mama berikan padamu kurang? Hah!”

“Pa, percaya dengan Fira. Botol itu milik Felly, bukan milik Fira. Papa harus percaya deng-”

Plak

SECOND LOVE : Perfect IncitementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang