P.I.E. 1

590 63 40
                                        

Fira's pov

"Sudah selesai!" Aku bertepuk tangan dan menatap wajah polos bocah laki-laki berusia 2 tahun, beberapa detik kemudian dia tersenyum dan ikut bertepuk tangan. Ah, senyuman itu benar-benar menenangkanku.

"Da! Num! Num!" (Bunda! Minum! Minum!)

"Tara mau minum? Sebentar ya Bunda ambilkan." Aku berdiri dan membawa piring kotor bekas makanan Tara ke dapur.

Tunggu.

Bunda?

Baiklah. Aku akan bercerita.

Tepat di usiaku yang menginjak 26 tahun, Tama melamarku. Ya, tujuh tahun berlalu sangat cepat dan sekarang usia pernikahan kami sudah 3 tahun. Sebenarnya hingga sekarang aku masih tak menyangka menjadi istri dari seorang Galvin Izzam Aditama dan ibu dari si kecil Nusantara Aji Aditama.

"Da!!" (Bunda!!)

"Ya sayang sebentar!" Aku mengambil mug bergambar burung hantu dan mengisinya dengan air putih. Ah, seharusnya tadi aku membawa air putih sekalian. Semua ini karena Tara tidak akan berhenti minum jika melihat air.

"Sayang. Aku pergi sekarang." Tiba-tiba Tama berdiri di depanku dan memelukku. Tak lupa menyematkan kecupan di bibirku.

"Da!" Tara berteriak, dia berlari ke arahku dan Tama lalu mendorong Tama agar menjauh dariku. "Da." Tara memeluk kakiku dengan wajah memelas, sangat menggemaskan. Tama hanya menghela napas panjang dan berjongkok menjajari Tara.

"Hey, aku tidak akan mengambil Bundamu. Aku hanya ingin berpamitan pada istriku." Aku terkekeh melihat wajah bingung Tara.

Tama tergelak, ia menggendong Tara dan mengecupi pipinya yang belepotan sisa nasi tim. Tara tertawa, kemungkinan besar ia merasa geli dengan kumis dan jenggot Tama. Senyumku mengembang saat melihat Tara memeluk leher ayahnya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Tama.

"Ayah berangkat kerja sekarang, dengarkan Bunda ya ganteng." Tara memandang ayahnya dan mengangguk.

"Ku pikir Tara tidak paham dengan ucapanmu." Aku membawa tas kerja Tama dan melangkah keluar rumah.

"Tentu saja paham. Dia kan putraku." Tama mengecup puncak kepala Tara yang menyandar di bahunya. "Oh ya, jangan lupa bawakan kariku di jam makan siang nanti."

"Kau bisa membawa makan siang sendiri, Ayah. Aku sudah menyiapkannya."

"Tapi aku hanya mau kau dan Tara datang saat jam makan siang dan kita makan bersama." Aku menatap senyuman Tama dan tatapan hangatnya.

"Aku tidak enak pada Tante Ralia."

"Tidak apa, malah Tante Ralia yang memintaku mengajakmu setiap makan siang. Beliau bilang ingin bertemu denganmu juga Tara."

"Seharusnya tidak di tempat kerja."

"Kau tidak mau berkunjung ke rumahnya. Harusnya kau juga datang kesana untuk mengunjungi Canny atau Mas Alvin." Aku menghela napas panjang dan mengalihkan pandanganku.

"Kau tahu alasanku tidak mau pergi kesana."

"Bunda, tujuh tahun berlalu. Kebencian Mbak Jessica sudah memudar seiring berjalannya waktu." Tama mengelus pipiku membuatku menatapnya.

"Kita bicarakan nanti. Sekarang berangkatlah, kau terlambat." Tama tersenyum, ia mengecup kedua pipi Tara dan menyerahkannya padaku. Aku menggendong putra kesayanganku dan menyalami suamiku, tak lupa mencium tangannya.

"Ayah berangkat, Assalamualaikum."

"Walaikummussalam Ayah, hati-hati di jalan!" Aku melambaikan tangan kecil Tara dan bersuara seperti anak kecil. Tama masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan halaman rumah. Sebelumnya ia menyalakan klakson dan melambaikan tangannya pada kami.

SECOND LOVE : Perfect IncitementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang