Tama’s pov
Aku menatap Fira yang sudah tidur lelap karena efek obat bius yang ku suntikkan tadi. Wajahnya terlihat lelah dan menyimpan sesuatu yang berat.
Setelah aku berhasil mencegahnya melompat tadi, Fira menangis dalam pelukanku dan meracau tidak jelas. Aku mengambil kesempatan itu untuk menyuntikkan obat bius padanya yang sudah disediakan Tante Adelia.
Sebenarnya aku masih bingung dengan yang terjadi padanya, kenapa dia bisa kehilangan kendali hingga hampir bunuh diri? Aku tidak mungkin bertanya padanya saat bangun nanti, bisa-bisa dia kehilangan kendali lagi dan memperburuk keadaan. “Dia sudah benar-benar tenang sekarang?” aku mendongak menatap Tante Adelia yang masuk ke dalam kamar.
“Ya, Tante. Tapi saya tidak tahu jika nanti dia bangun.” Tante Adelia menghela napas panjang, beliau duduk di sebelah Fira dan mengecup keningnya berulang kali.
Aku cukup terkejut dengan ketulusan Tante Adelia pada Fira. Kasih sayang seorang wanita pada putri musuhnya cukup langka dan aku tidak tahu jika itu nyata.
Ya, aku sudah tahu jika Tante Adelia bukan ibu kandung Fira. Kekasihku itu sudah menceritakan semua yang terjadi padanya selama ini. Tentang keluarganya, depresinya, dan masalah anti sosialnya.
Tante Adelia mengelus perban yang menutup luka baru di tangan Fira. “Sejak kapan dia self-harm lagi?”
“Saya tidak tahu pastinya, Tante. Berdasarkan ceritanya, sejak ia masuk kuliah.” Tante Adelia menangis dan mengecup kening putrinya.
"Tante pikir kebiasaan buruk ini sudah hilang sejak Canny dan Als kembali dalam hidupnya. Ternyata tidak ya?" Aku hanya menatap sendu ibu sambung kekasihku ini.
“Tante terkejut tiba-tiba mendengar teriakan dari ART yang mengatakan bahwa Fira hendak melompat dari balkon. Untuk kamu datang disaat yang tepat. Terimakasih telah menyelamatkan Fira.” Aku tersenyum dan mengangguk.
“Tante sangat bingung, semua orang sedang pergi mencari Canny dan Tante ada di atas menenangkan anak-anak.”
“Bagaimana keadaan Tante Ralia, Tante?”
“Sejak tadi tidak berhenti menangis dan beberapa kali pingsan.” Aku menghela napas panjang mendengarnya. “Dia pasti sangat terpukul, Tante sendiri tidak bisa membayangkan berada di posisinya.”
“Apa Tante Ralia sudah tahu Canny berhasil kabur sebelum mobil itu meledak?” Tante Adelia mengangguk dan menghapus air matanya.
“Tapi tetap saja berita itu tidak membuatnya tenang.”
Ya, tentu saja. Tidak ada ibu yang tenang jika mengetahui anaknya menghilang. Walau semua orang sudah tahu Canny keluar dari mobil, belum ada yang tahu dimana keberadaannya.
“Tante tidak tahu penyebab Fira kehilangan kendali atas dirinya?” Tante Adelia menatapku.
“Karena keadaan Canny? Dia seperti ini saat dulu Canny memutuskan hubungan pertemanan dengannya. Dia menangis sepanjang hari dan berakhir menggores pergelangan tangannya dengan pisau. Tante tidak pernah menyangka dia akan mengalami hal ini lagi setelah sekian lama. Canny memegang peranan penting dalam hidupnya.” Aku menatap Tante Adelia yang menatap putrinya sedih.
“Hidupnya bergantung dengan Canny.”
“Ya, Tante. Tapi, saya merasa ada sesuatu hal yang membuat Fira tertekan dan itu bukan karena keadaan Canny sekarang.”
Tante Adelia mendongak menatapku, “Maksudnya?”
“Menurut saya, Fira menyembunyikan sebuah rahasia besar yang berhubungan dengan kecelakaan Canny.” Tante Adelia menatapku dan Fira bergantian dengan wajah terkejutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
Romanzi rosa / ChickLitSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
