25. Visit

243 44 36
                                        

Author’s pov

Canny jatuh terduduk dan menangis setelah Fira pergi dari hadapannya. Sebenarnya Sinta sangat ingin menenangkan Canny sekarang, sayangnya ia harus menjalankan rencananya. Sinta tidak ada pilihan lain selain mengikuti Fira, tentunya setelah mengode Felly.

Beberapa teman sekelasnya menatapnya sendu. Tentu saja mereka ikut sedih, Canny sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Tapi malah mendapatkan perlakuan buruk.Felly yang berada di belakang Canny langsung memeluk sahabatnya itu. Ia benar-benar tidak menyangka Fira bisa sekasar itu pada Canny. Felly bersumpah tidak akan pernah memaafkan Fira karena kejadian ini.

“Berhenti menangis, Canny. Kali ini dia benar-benar keterlaluan. Kau masih menganggapnya sahabat? Dia bukan sahabat yang baik untukmu.” Felly memeluk Canny dan menepuk-nepuk punggungnya.

“Perempuan itu kasar sekali. Canny sudah meminta maaf dan dia malah meneriakinya.” Salsa berjalan ke arah Canny dan ikut menenangkannya. Beberapa orang yang masih berada di sana kembali masuk untuk menghibur Canny.

“Salsa benar. Fira sangat keterlaluan.” Dila menghela napas panjang dan duduk di sebelah Salsa.

Rani menyilangkan tangan di dadanya. “Aku memang tidak tahu masalah yang kalian hadapi, tapi bisa ku ambil kesimpulan jika dia bukan perempuan baik-baik.” Haidar yang mendengarnya menatap Rani.

“Jangan menyimpulkan sesuatu yang tidak kau kenal dengan baik. Selama ini kita hanya tau Fira dari luarnya saja, seharusnya kita tahu hal yang membuatnya bersikap sekasar itu.” Haidar menghempaskan tubuhnya di kursi tak jauh dari teman-temannya.

Rani memutar bola matanya dan berjalan ke arah Haidar, “Kau mengenalnya dengan baik? Ku harap kau ingat kalimat yang dilontarkan Fira pada Canny. Perempuan baik-baik tidak akan menuduh sahabatnya sendiri sembarangan. Kau tahu, menuduh Canny hanya formalitas padanya dan menganggapnya pembantu itu salah besar! Dia tidak pernah melihat bagaimana tulusnya Canny padanya!”

“Dia melihatnya!” Haidar berdiri dari duduknya dan berdiri tepat di hadapan Rani, namun pandangannya tertuju pada Felly yang juga menatapnya. “Tapi dia menjadi buta setelah mendapat hasutan-hasutan dari orang yang memusuhinya.”

Canny yang sedari tadi menangis mendongak, ia menatap Haidar. “Apa maksudmu? Siapa yang menghasutnya?”

Haidar memandang Canny, “Seseorang yang sangat memusuhinya, dia ingin kau bertengkar dengan Fira. Aku tidak tahu apa motif sebenarnya, yang ku tahu dia hanya ingin kau selalu memperhatikannya.”

“Aku tidak mengerti, Haidar. Katakan dengan jelas.” kata Dila yang sejak tadi diam menyimak, ia penasaran dengan seseorang yang dimaksud Haikal.

“Sudah, sudah. Tidak ada gunanya mendengarkan dia. Dia hanya mengarang cerita, lebih baik sekarang kita berangkat ke rumah Marco.” Felly membantu Canny berdiri, begitu juga dengan yang lainnya.

“Canny, mungkin sekarang kau tidak percaya padaku. Tapi nanti, aku yakin kau tidak akan memaafkan orang yang telah menghasut Fira agar membencimu.” Felly menghela napas panjang dan melengos melihat tatapan tajam Haidar tertuju padanya.

“Kalian menunggu apa? Ayo cepat!” Rama, sang ketua kelas menatap anak buahnya yang masih di dalam kelas dengan kesal.

“Ayo Canny.” Felly dan Salsa menggandeng Canny keluar kelas, begitu juga teman-teman perempuan lain meninggalkan Haidar sendirian di kelas. Tangannya mengepal kuat mengingat apa yang di lakukan Felly pada sahabatnya. 

“Haidar, kau tidak jadi ikut?” Haidar melangkah keluar kelas, Rama terkejut dengan amarah Haidar.  “Apa menyuruhmu cepat membuatmu marah?”

“Aku tidak marah denganmu, tapi dengan seseorang yang sudah menghancurkan kedamaian di kelas kita.” Haidar berjalan mendahului Rama, sang ketua kelas hanya memandang anak buahnya bingung.

SECOND LOVE : Perfect IncitementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang