Canny’s pov
16:00 WIB
Aku sedang menggendong Bira yang matanya sudah terpejam sempurna. Senyumku mengembang melihat wajah menggemaskannya, kesempatan langka ini tak bisa disia-siakan. Berulang kali aku menciumi pipi gembulnya. Melihat bayi kembar ini membuatku teringat saat menjaga Baby Twin yang sekarang sudah besar.
“Minuman untukmu, Princess Canny.” Aku tersenyum dan mengangguk menatap Mbak Marissa yang meletakkan nampan berisi es kelapa muda yang menggoda iman dengan dua burger. “Semuanya untukmu.” Aku meletakkan Bira di tempat tidurnya dan duduk di samping Mbak Marissa yang sudah lebih dulu memakan burgernya.
“Ini untuk Mbak saja, menjaga bayi kembar membutuhkan banyak tenaga.” Mbak Marissa mengangguk saja karena mulutnya penuh dengan burger.
Sangat wajar mengingat Bia yang sejak tadi tidak mau terlepas dari pelukan ibunya. Bia memang lebih dekat dengan ibunya dan tidak mau ikut siapapun bahkan Alvan, sedangkan Bira mau ikut siapa saja dan selalu memamerkan senyum cantiknya pada siapapun yang melakukan kontak mata dengannya.
“Aku tidak menyangka memiliki bayi kembar sangat melelahkan. Baru beberapa jam saja aku merasa ingin menyerah saja.” Aku tersenyum menatap Mbak Marissa. “Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana repotnya Mama mengurus Als tanpa pengasuh sama sekali. Mama orang yang sangat hebat.”
“Setuju!” Mbak Marissa tertawa pelan, ia merangkulku dan mengacak rambutku.
“Terimakasih, Princess Canny telah membantuku hari ini. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika tidak ada kau.”
“Jangan seperti itu, Mbak. Seperti dengan siapa saja. Mereka berdua adalah keponakanku, pasti dengan senang hati aku menjaga mereka.”
“Ah iya, mulai bulan depan kau akan sibuk karena ikut mengurus Baby Hawai.”
“Benar sekali.”
For your information, Baby Hawai adalah bayi Alvin dan Jessica yang masih dalam kandungan. Jessica yang menamainya begitu, katanya terinspirasi dari Mama dan Daddy yang menamaiku dengan nama kota/negara.
Bedanya pemberian nama itu bukan karena Baby Hawai akan lahir di Hawai, tapi karena Alvin dan Jessica membuatnya di Hawai. Bicara mengenai pendapat Alvin, dia setuju saja dengan nama itu karena tidak ingin berdebat dengan istri tercintanya.
“Apa Alvan masih lama pulangnya?” tanyaku pada Mbak Marissa yang menyedot es kelapa muda.
“Biasanya jam lima dia sudah di rumah. Tapi hari ini dia bilang akan pulang malam karena ada rapat dengan seluruh direktur Aryeswara Group.” Aku mengangguk, artinya Alvin juga pulang malam. Semuanya aman karena Mama dan Daddy ada di rumah, aku tidak perlu khawatir sekarang.
“Canny.”
“Ya, Mbak?”
“Malam ini kau menginap disini ya?” Aku menatap Mbak Marissa yang menatapku penuh harap, pandanganku teralih pada bayi kembar perempuan yang tidur nyenyak di box masing-masing.
“Ya, Mbak.”
“Yeaay! Mbak telepon Mama dulu.” Mbak Marissa berdiri dan melangkah keluar dengan ponsel menempel ditelinganya.
“Mama~~~” katanya dengan nada manja sebelum menutup pintu kamar di kembar.
Aku menghela napas panjang dan melangkah mendekati Bira dan Bia. “Kakak tidak mengerti dengan apa yang menimpa Mama kalian hingga bersifat kekanak-kanakan seperti itu. Tapi tidak masalah, Kakak suka Mama kalian yang sekarang.”
#
Fira’s pov
Aku duduk tak nyaman di ruang tamu rumah Tante Rahma. Bukan karena Tante Rahma, tapi karena putrinya. Dengan jelas ia menunjukkan penolakan terhadapku dan itu membuatku semakin pesimis.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
ChickLitSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
