29. May I?

334 47 55
                                        

Canny’s pov

Sungguh.

Rasanya aku ingin pulang saja dan mengurung diri di kamar hingga beberapa hari ke depan. Sejak tadi aku berjalan dari mobil Faris menuju kelas, banyak pasang mata menatapku sinis dan tak jarang yang menertawakanku remeh.

Aku beruntung karena disampingku ada Sinta dan Felly yang sejak tadi berusaha membesarkan hatiku, walau itu tidak berguna sama sekali. Martabatku hancur sekarang, dan semua ini karena Fira!

Lihat saja nanti, apa yang akan ku lakukan untuk membalas penghinaan ini!

“Apa kau masih punya stok vodka? Bisakah aku meminta satu padamu?” seorang laki-laki yang tidak ku kenal berdiri di hadapanku, lalu disusul dua lainnya.

“Hmm, lalu kita berpesta di rumahku. Aku yakin kau tidak akan kecewa menghabiskan malam denganku.”

“Ya, kau juga pasti sering tidur bersama laki-laki.” Mereka bertiga tertawa membuat Felly meremat ujung baju yang dikenakannya.

“Jaga bicaramu!” Sinta mendorong salah satu diantara ketiga laki-laki di hadapanku.

“Apa aku salah bicara? Terima saja kenyataan jika cucu pemilik kampus ini ternyata gadis murahan!”

Bug

Laki-laki itu jatuh terjengkang ke kebelakang setelah menerima pukulan seseorang tepat di hidungnya. “Tutup mulut beracunmu!” Faris memegang tanganku dan menyembunyikanku di belakangnya.

“Untuk siapapun yang berani menghinanya akan berurusan denganku. Mengerti!” suara Faris menggema di lorong membuat banyak orang berkumpul.

“Tidak ada gunanya melindungi gadis murahan sepertinya.”

“Jangan pernah menyebutnya begitu!” Faris melepas genggamannya di tanganku dan mencengkeram kerah laki-laki yang menghinaku.

“Faris, sudah! Biarkan saja!” Aku memegangi Faris agar tidak bertengkar. Tapi Faris tidak mau mendengarkanku, Sinta menarikku mundur beberapa langkah menjauhi Faris dan laki-laki itu.

“Kenapa? Kenyataannya memang dia gadis murahan!” Laki-laki itu menyentak tangan Faris kasar dan mundur beberapa langkah.
“Melihatmu melindunginya membuatku yakin, kau pasti sudah mengambil keperawananya.”

“Tutup mulutmu!”

Belum sempat Faris melayangkan pukulan, tiba-tiba seseorang dengan pakaian serba hitam melayang dan menendang laki-laki itu tepat di mulutnya. Saking kerasnya tendangan, laki-laki itu terjatuh dan mulutnya mengeluarkan darah.

“Harusnya kau yang membantunya menutup mulut karena dia tidak bisa menutup mulutnya sendiri.”

Air mata yang sejak tadi ku tahan terjatuh saat mendengar suara dingin itu. Ya, seseorang yang menendang mulut laki-laki itu adalah salah satu pelindungku.

Alvin.

“Untuk kalian semua, jika sampai ada yang membahas mengenai video di forum mahasiswa akan bernasib sama dengan dia. Mengerti?” Alvin memandang dingin orang-orang yang berada di sekitar kami.

Ku yakin semua orang yang berada di ruangan ini ketakutan setengah mati, tampak dari wajah pusat pasi mereka.

“Apa kalian bisu? Tidak bisakah kalian menjawabku?!”

Bukannya menjawab Alvin, orang-orang yang berada di lorong berhamburan turun dan beberapa masuk ke dalam kelas. Begitu juga dengan laki-laki yang tadi di tendang Alvin, ia berlari dengan bantuan kedua temannya.

“Jika ada orang yang seperti sampah itu, beritahu aku.” Faris mengangguk ke arah Alvin yang merapikan lagi jasnya. Alvin berbalik dan tersenyum ke arahku, namun senyumnya luntur saat melihat seseorang.

SECOND LOVE : Perfect IncitementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang