35. Generiosity

287 51 66
                                        

Canny's pov

Flashback

19:00 WIB
Mama mengelap mulutku dengan tissue, aku baru selesai makan malam. Hari ini aku sengaja manja-manja dengan Mama dan Daddy untuk mengembalikan kepercayaan diriku yang hancur karena manusia bernama Fira. Ah, menyebut namanya membuatku kesal saja.

"Mama keluar sebentar ya. Canny tidur saja dulu." Aku mengangguk saja, Mama mengecup keningku dan beranjak turun dari tempat tidurku. Mama pasti menemani adik kembarku belajar, biasanya Amar tidak mau belajar jika tidak dengan Mama.

Seorang pelayan yang tadi bersama Mama membawa nampas berisi gelas dan piring bekasku, ia keluar kamar mengekori Mama.

Ceklek

Pintu kamar tertutup, aku kembali berbaring dan menatap sekeliling kamarku. "Aku sangat bosan sekarang. Seharusnya aku menyalakan musik keras-keras dan melompat untuk mengusir rasa kesal ini." Aku menutup mata dan menghela napas panjang berulang kali.

Rasa kesal dan amarah kembali menyerangku saat aku sendirian seperti ini. Aku masih tidak terima dengan perempuan itu yang menjatuhkan martabatku juga harga diriku.

Aku masih ingat dengan jelas bagaimana seorang laki-laki yang tidak ku kenal menghinaku di depan umum. Dia bahkan menuduhku dan Faris melakukan hal yang tidak benar. Ditambah dengan komentar-komentar negatif yang mereka tinggalkan di semua postinganku di sosial media.

Apakah aku hanya duduk dan diam saja menerima hujatan-hujatan yang orang lain berikan padaku?

Tidak!

Aku tidak akan diam saja!

Aku harus melakukan sesuatu!

Aku mengambil ponselku dan mencari kontak seseorang. Senyumku mengembang saat melihat nama yang ku cari ketemu. Langsung saja aku mengetuk simbol telepon dan menempelkan ponsel di telingaku.

"Ayo angkatlah." Gumamku, sesekali menatap pintu. Aku takut Mama atau Daddy datang disaat yang tidak tepat.

"Assalamualaikum, Canny."

"Waalaikumussalam, Dila!" aku berteriak saking senangnya.

"Ada apa? Kau baik-baik saja?"

"Tidak baik. Karena masalah ini."

"Apa yang bisa ku bantu? Katakan saja, aku akan membantumu merasa lebih baik."

Aku memejamkan mataku untuk berpikir, beberapa detik kemudian aku mendapatkan ide cemerlang. "Kau memiliki banyak teman dari berbagai fakultas, kan?"

"Ya, aku kenal hampir semua fakultas. Hmm, kau mau membersihkan namamu? Katakan saja, aku akan melakukan apa yang kau inginkan."

"Aku ingin semua orang memandangnya negatif seperti yang dia lakukan padaku."

"For your information, sekarang beberapa orang di forum pimpinan prodi bagian mahasiswa sedang membahas kasusmu. Mereka lebih banyak membelamu dan menghujat Fira. Eh, haruskah aku menyiramkan bensin agar apinya berkobar semakin besar?"

Aku menggigit bibir bawahku dan berpikir, dari sisi positif dan sisi negatifnya. "Tidak akan terlihat seperti rekayasa?"

"Tidak akan. Kau tahu kan kekuatan mulutku seperti apa?" Dila tertawa keras membuatku terkekeh.

Ya, kekuatan Dila ada di mulutnya. Dia termasuk anggota Dewan Mahasiswa yang menjabat sebagai wakil ketua untuk prodi KPI. Karena jabatannya itu dia sering bertemu dan banyak teman dari prodi bahkan fakultas lain. Dia juga menjadi sumber informasi bagi prodi kami tentang berita-berita hangat di kampus.

SECOND LOVE : Perfect IncitementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang