Fira’s pov
Mataku masih menatap layar monitor dan mengerjap-ngerjap antara percaya dan tidak percaya. Jika Mas Alvin mendapatkan foto ini, artinya Mas Alvin tahu jika mereka berdua memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman. Jika Mas Alvin tahu, Mas Alvan juga pasti tahu. Apakah Om Azril mengetahuinya juga? Ku pikir seisi kampus sudah tahu, mustahil jika Om Azril tidak tahu.
Benar kan?
Apa masalah Canny hari ini menyangkut hal ini?
“Fira.” Lamunanku buyar saat mendengar suara Mas Alvin. Aku menengok ke arah Mas Alvin yang menatapku dengan sebelah alis terangkat.
“Kenapa?”
Aku menggeleng cepat dan berjalan ke arah Mas Alvin yang masih memandangku curiga. “Tidak apa-apa, Mas. Ini cobalah.” Aku tersenyum menyerahkan garpu di tanganku. Mas Alvin tersenyum, ia memotong brownies dan memakannya.
“Hmm, rasanya lezat. Jadi ini bukan buatanmu, ini buatan Tante Adel.” Mas Alvin menggodaku dengan menyunggingkan senyuman aneh.
Aku memutar bola mata malas. “Terserah Mas saja.” kataku menyandarkan pinggangku di sofa dan menatap ke arah lain. Aku sedang tidak ingin berdebat sekarang karena ada hal lain yang ku pikirkan.
“Sekarang kau merajuk ya? Pasti Canny yang mengajarimu merajuk.”
“Tidak semua yang ku lakukan karena Canny!” Aku memandang Mas Alvin dengan tatapan tajam membuatnya terkejut.
“Wow. Wow. Santai saja. Kalian bertengkar?” Aku mengangguk, Mas Alvin menghela napas panjang dan menatapku.
“Ceritakan semuanya, akan Mas dengarkan.”
“Tidak perlu, Mas pasti membela Canny.”
“Kenapa kau berpikir seperti itu? Kau tidak percaya dengan Mas?” Aku menatap kakak pertamaku ini lekat-lekat.
“Bukan begitu, Mas. Hanya saja-”
“Ceritakan semuanya, Fira. Mas tidak akan memihak siapapun.” Aku menghela napas panjang dan menceritakan yang terjadi hari ini.
#
Canny’s pov
-Indra’s House-
Aku menggigit bibir bawahku memandang sebuah rumah yang lumayan besar. Jika biasanya aku akan bersemangat turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah, kali ini tidak. Aku ragu dan takut jika Fira tidak mau menerima permintaan maafku.
Pandanganku teralih ke ponsel yang menampilkan roomchatku dengan Fira. Pesan yang ku kirimkan beberapa menit lalu centang 1 dan foto profilnya tidak terlihat. Apa dia memblokir nomorku?
Aku memejamkan mataku dan menghela napas panjang berulang kali. Baiklah, apapun itu aku harus menerimanya untuk menebus kesalahanku pada Fira. Aku membuka pintu mobil dan berjalan masuk ke pintu rumah. Tanganku terulur menyentuh bel rumah dan menekannya. “Ya sebentar!” suara yang terdengar membuat jantungku berdetak sangat cepat.
Tenanglah, Canny. Tenanglah.
Ceklek
“Canny?” Aku tersenyum melihat Onty Adelia yang berpakaian khas ibu rumah tangga pada umumnya.
“Fira ada, Onty?” Onty Adelia terlihat terkejut.
“Fira pergi ke kantor Mas Alvin. Tante pikir kalian pergi bersama tadi.” Aku memadang Onty Adelia yang menatapku.
“Ah, ya sudah kalau begitu. Titip ini untuk Fira, Onty.” Tanganku terulur menyerahkan tas plastik pada Onty Adelia yang menerimanya ragu.
“Kalian berdua bertengkar?” Aku terkejut dengan pertanyaan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
Chick-LitSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
