39. Statement

327 47 10
                                        

Fira’s pov
-Al Fazza University-

Hari Jum’at pagi, kampus tidak terlalu ramai karena tak banyak mahasiswa yang memiliki kelas siang kecuali prodi KPI. Kelas Tama akan dimulai 1 jam lagi, jadi dia akan menunggu sendirian selama itu. Sebenarnya aku tidak enak padanya, tapi dia terus memaksaku. Dia bilang akan menunggu bersama Faris nanti, dia juga mengantar Canny.

Aku dan Tama masih ada di dalam mobil Tama yang terparkir di parkiran kampus. Pandanganku tertuju pada mahasiswa yang tak asing bagiku, mereka masuk gedung dengan bergerombol seperti biasanya.

“Kau masih memikirkan yang kemarin?” aku mengangguk menjawab Tama.

“Aku sangat kecewa padanya. Sebenarnya apa salahku pada orang-orang selama ini? Belum keterkejutanku karena masalah Pelangi kemarin, sekarang muncul masalah baru.” Aku menunduk, pertahananku runtuh sudah. Aku menangis dan menggigit bibir bawahku, hatiku sakit sekali rasanya.

Aku tersentak saat tiba-tiba Tama memegang kedua tanganku dan membuka kemeja yang menutupi kedua pergelangan tanganku. Ia benar-benar lega saat tak menemukan luka apapun disana dan memelukku. “Apa sebenarnya kehadiranku adalah sebuah kesalahan?”

“Jangan berpikir seperti itu, sayang. Setiap orang memiliki masalah masing-masing sesuai dengan porsinya.”

“Tapi masalah yang ku hadapi sangat berat, sejak dulu.” Aku mengingat pengalaman-pengalaman burukku saat SMP dulu, pembullyan dan percobaan pemerkosaan yang membuatku menderita depresi.

“Itu artinya kau bisa melewati ini. Kau tahu, Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan manusia. Jika kau tidak bisa, Allah tidak akan memberikan bentuk cobaan seperti ini. Dan cobaan yang kau hadapi pasti ada hikmahnya, selain itu kau menjadi manusia yang lebih kuat dan tangguh.”

Aku menatap wajah Tama lekat-lekat. Mungkin terlalu awal untuk mengatakan ini, tapi dia adalah gambaran imam yang sempurna. “Derajatmu akan diangkat jika kau bisa melalui semua masalah yang kau hadapi dengan baik.” Tama tersenyum, ia menghapus air mata yang membasahi pipiku dengan ibu jarinya.

“Aku tidak akan bicara dengan Sinta hari ini.”

“Tidak masalah, batas waktu marahan 3 hari.”

“Dulu aku marahan dengan Canny lebih dari 3 hari.”

“Sebenarnya itu buruk, tapi tidak apa. Sekarang kalian sudah berbaikan, kan?” Aku mengangguk dan tersenyum padanya.

“Walaupun masih canggung. Semua akan kembali normal setelah kau bisa memaafkan dia sepenuhnya.”

Sebuah mobil masuk halaman dan menuju ke arah kami. Mobil Faris terparkir tepat disebelah mobil Tama. “Faris sudah datang, masuklah dengan Canny.” Aku mengangguk dan hendak menemui Canny. Tapi ku urungkan saat melihat Faris yang keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk Canny.

Keningku mengkerut saat melihat eskpresi Canny, datar dan pandangan matanya tampak menakutkan. Canny sedang dalam mood yang buruk.

Faris mengusak kepala Canny sebelum mereka berjalan beda arah. Canny lurus sedangkan Faris berjalan ke arah kami. Aku mengkuti Tama yang turun dari mobil lebih dulu. “Ada apa dengannya?” tanya Tama pada Faris membuat Faris menatapku.

“Tidak apa, hanya sedikit memikirkan masalah kemarin.” Aku memandang Canny yang memasuki lobby.

“Masuklah, Fira. Kelasmu akan mulai sebentar lagi.” Aku mengangguk dan berjalan menuju lobby, menyusul Canny.

“Fira!” sebuah teriakan membuatku terhenti, aku berbalik dan melihat Sinta berlari ke arahku. Tak jauh dari sana, ada Tante Rahma di dalam mobilnya. Aku tersenyum dan melambaikan tanganku pada adik Bunda Maya itu.

SECOND LOVE : Perfect IncitementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang