Fira’s pov
“Fira, loyangnya sudah penuh.” Aku berjingkat terkejut saat merasakan tepukan di pundakku. Aku menunduk dan terkejut melihat loyang yang ku isi adonan brownis meluber kemana-mana. Pikiranku tidak berada disini, itulah sebabnya aku tidak fokus. Aku berada di dapur membantu Mama membuat brownies.
“Astagfirullahaladzim.” Aku memindahkan beberapa adonan ke baskom.
“Apa yang kau pikirkan, hmm?” Aku mendongak menatap Mama dan menggeleng.
“Tidak ada, Ma.”
Mama menatapku beberapa saat sebelum mengangguk dan melanjutkan pekerjannya.
Sepertinya Mama tahu aku berbohong padanya. Tidak mungkin kan aku mengatakan pada Mama jika aku mengkhawatirkan Canny karena ulahku sendiri?
“Sayang, kau tunggu saja di ruang keluarga dengan yang lainnya. Akan Mama urus sisanya.” Aku melepaskan apron dan berjalan ke ruang keluarga bersama yang lainnya.
Terlihat Papa menggendong Hawai, disebelahnya ada Om Azril yang juga ikut mengajaknya bicara. Padahal bayi kecil itu tidur lelap. Tante Ralia duduk dan mengobrol dengan Mas Alvin dan Mas Alvan, sedangkan Mbak Jessica dan Mbak Marissa mengobrol dengan Oma Opa Canny, juga dengan kedua orangtua Mbak Jessica.
Sebelahnya ada kakek nenek Canny dari Sydney mengobrol dengan Om Azka dan Tante Tika. Keluarga besar ini selalu akur dan sangat ramai, juga hangat. Akan lebih lengkap jika Kakek dan Nenek ikut, namun mereka masih ada urusan bisnis di California bersama Mbak Flora.
Sebenarnya aku curiga pada Mbak Flora, menurutku dia belum sepenuhnya melupakan Mas Alvin. Pernah beberapa kali ku lihat Mbak Flora menatap foto Mas Alvin yang terpasang di ruang keluarga. Hingga aku beropini, kemungkinan Mas Alvinlah alasan Mbak Flora gila kerja. Perubahannya terlihat saat seluruh keluarga mendengar berita kehamilan Mbak Jessica.
“Fira, come here.” Aku tersentak dari lamunanku saat mendengar suara Grandma Diana. Wanita berdarah Australia itu tersenyum lebar padaku dan menepuk tempat kosong di antara beliau dan Oma Vilda. Aku tersenyum lebar dan duduk di sebelahnya.
“Kau pasti kesepian ya tidak ada Canny? Tenang saja, sebentar lagi Canny pasti kembali.” Oma Vilda mengelus bahuku.
“Ya, tapi tidak tahu ya jika dia kencan dulu dengan Faris.” Ucapan Grandpa Hari membuat yang lainnya tertawa, kecuali Opa Ibra yang hanya tersenyum. Sejujurnya aku sedikit takut padanya, karena pandangannya yang tajam dan dingin seperti pandangan yang ditujukan Felly padaku. Aku juga merasa jika kakek Canny ini membenciku, entah apa penyebabnya.
“Eh, tapi kan disana ada Tama juga.” Oma Vilda menatapku dan mengerdipkan sebelah matanya menggodaku.
“Ah iya, tidak mungkin mereka membuat Tama menunggu.”
Tit
Tit
Tit
Suasana mendadak senyap saat sebuah benda yang berada di sebelah layar LED menyala. Tak lama layar LED menyala dan menunjukkan sebuah peta, di dalamnya ada titik kecil merah yang bergerak. Di layar tertulis kode mobil yang ku ketahui kode mobil yang dipakai Canny.
“Ada apa dengan mobil Canny?” tanya Tante Ralia panik, wajah Mas Alvin juga tak kalah paniknya. Ia sibuk dengan ponselnya, sepertinya mencari tahu yang terjadi dari aplikasi khusus milik Aryesguard.
“Lihatlah, mobil Canny berjalan dengan kecepatan yang tak terkendali!” teriakan Mas Alvan membuat tanganku bergetar hebat.
“Alvin, hubungi Canny cepat!” Oma Vilda menangis histeris.
“Sebentar, Alvin berusaha menghubunginya.”
Opa Ibra bangkit dari duduknya dan memencet sesuatu di remote control yang berada di meja. Tak lama, terlihatlah 2 video yang memperlihatkan Canny panik dan fokus menyetir dan salah satunya menunjukkan jalan yang dilalui Canny. Suasana panik membuat Sinta dan Felly berlari turun ke bawah. Mereka menatapku dan menatap layar LED yang saat ini menjadi pusat perhatian banyak orang, bahkan Mama tergopoh-gopoh dari dapur.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
Chick-LitSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
