36. New Enemy?

341 49 38
                                        

Canny’s pov
-Alfarizi’s Mansion-
21:00 WIB

Aku tertawa melihat Amara dan Amar yang bertengkar memperebutkan posisi duduk di pangkuan Daddy. Mereka saling mendorong dan saling berteriak, benar-benar meramaikan rumah. Setiap hari mereka berdua selalu bertengkar memperebutkan sesuatu, ada aja yang diributkan.

“Mereka berdua selalu saja ribut.” Aku menatap Mama yang menggelengkan kepalanya dan duduk di sebelahku.

Aku memeluknya dari samping dan menyandarkan kepalaku di bahunya yang nyaman. “Ya, Ma. Aku tidak yakin mereka masuk SMP sebentar lagi. Bagiku mereka masih anak-anak PAUD.”

“Setuju.” Aku dan Mama tertawa. “Princess sudah lebih baik, sekarang?” Aku mengangguk menjawab pertanyaan Mama.

“Canny hanya down karena Fira, Ma. Canny pikir masalah itu bisa dibicarakan baik-baik berdua, tapi ternyata tidak. Dan keadaan semakin memburuk saja sekarang.”

“Tak apa, masing-masing dari kalian masih emosi. Seiring berjalannya waktu, keadaan akan kembali seperti semula.” Aku mengangguk saja, benar-benar tidak yakin dengan Mama.

Aku pribadi tidak akan mau berteman lagi dengan seseorang yang sudah menghancurkan martabatku. Ah, andaikan Mama tahu kelakukan putri mantan suaminya itu.

Sreeek

“Pokoknya aku tidak mau menginap di rumah Papa dan tidak memperbolehkanmu menginap disana!”

Aku, Mama, Daddy, dan kedua adik kembarku berdiri begitu mendengar teriakan Jessica. Ia dan Alvin berada di depan pintu sekarang.
Kenapa mereka bertengkar di depan pintu sih?

“Semuanya, ayo kita naik ke atas dan bersiap tidur karena ini sudah malam. Ayo ayo!” Daddy berdiri dari duduknya dan menggandeng kembar kecil menuju lift, Aku dan Mama mengekor di belakang Daddy.

“Mereka akan baik-baik saja kan, Ma?” Aku memandang Mama yang terlihat khawatir.

“Ya, sayang. Mereka akan baik-baik saja.” Setelahnya Mama terdiam, mungkin Mama memikirkan masalah yang mereka hadapi hingga bertengkar.

Sebenarnya aku penasaran mereka kenapa, tapi aku ingat kata Mama dan Daddy untuk tidak ikut campur dalam masalah rumah tangga orang lain. Baiklah, tunggu saja jika nanti Jessica mau menceritakan masalah yang mereka berdua hadapi.

Ting

Pintu lift terbuka. “Ma, Canny tidur di kamar saja. Canny lelah.” Mama tersenyum dan mengangguk.

“Good night, Princess.” Mama mencium keningku dan aku mencium pipi kanannya.

“Good night, Ma.” Mama mengelus rambutku sebelum mengekori Amara dan Amar juga Daddy yang berjalan menuju kamar kedua orang tuaku. Aku berjalan perlahan menuju kamarku, lebih baik aku istirahat saja.

Aku berbaring di kasurku yang super empuk dan memandangi kakiku yang masih di perban. Melihat telapak kakiku yang sudah baik-baik saja dan tidak sakit parah saat aku berjalan, sepertinya besok aku bisa masuk kuliah.

Aku harus mengabari seseorang! Aku mengambil ponselku di nakas dan menelepon seseorang yang sangat ku rindukan.

“Assalamualaikum.”

“Marble! Aku merindukanmu. Seharian tidak bertemu denganmu seperti setahun.”

“Cherry, hukum menjawab salam adalah wajib.” Aku meringis mendengar teguran Marbleku.

Bukankah dia imam yang sempurna?

“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.”

“Cherryku sangat pintar. Aku juga merindukanmu, itulah sebabnya aku menyelesaikan tugas-tugasku cepat agar bisa bertelepon lama denganmu. Aku baru saja akan meneleponmu.”

SECOND LOVE : Perfect IncitementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang