Fira’s pov
12:00 WIB
Aku mendorong pintu keluar studio foto. Aku baru saja selesai mengambil foto-foto yang merupakan tugas mata kuliah Fotografi. Mataku memandang Sinta yang berada di motornya, senyumnya mengembang begitu melihatku.
Sinta yang mengantarku pulang sekaligus mengantarku mengambil tugas Fotografi.
Karena sikap baiknya adakah alasan bagiku untuk tidak mempercayainya? Walau sepenuhnya aku belum bisa menerima perubahan yang terlalu mendadak ini. Hanya saja mulai mempercayainya bukan hal yang salah, kan?
“Sudah? Kau mau langsung pulang?”
“Iya, aku ingin langsung pulang Sinta. Tidak apa-apa, kan?”
Sinta menggenggam tanganku, “Tentu saja tidak apa-apa, Fira. Kau pasti butuh waktu untuk menerima semua ini. Memang berat, tapi kau harus kuat. Banyak orang yang menyayangimu, dan aku salah satunya.”
Aku tersenyum dan mengangguk. “Terimakasih, Sinta.”
“Tidak perlu berterimakasih, Fira. Kita saudara, bukankah tugas saudara saling membantu?” Sebenarnya aku sedih mendengar kata ‘saudara’, karena itu mengingatkanku pada Canny.
“Oh ya, bagaimana dengan sikapku pada Canny mulai besok?” tanyaku pada Sinta yang menggigit bibir bawahnya.
“Hmm, jika manurutku bersikaplah seperti biasanya saja. Seolah tidak ada sesuatu yang terjadi. Yang terpenting kau sudah tahu bagaimana dia memperlakukanmu. Juga, lain kali kau bisa menolaknya jika tidak ingin melakukannya.” Aku mengangguk paham. “Naiklah, kita pulang sekarang.” Aku naik ke boncengan dan Sinta menjalankan motornya menuju rumahku.
Sepanjang jalan pulang aku masih saja memikirkan sikap Canny padaku. Sejak dulu Canny memang memiliki sifat bossy dan tidak suka dibantah. Ku pikir itu hal yang wajar mengingat latar belakang keluarganya.
Ah, sudahlah Fira.
Bukankah sejak awal kau sudah memutuskan menerima Canny apa adanya berikut sifat buruknya, lalu kenapa sekarang mempermasalahkannya?
Ah, iya.
Karena Sinta dan Felly benar.
“Fira, jangan terlalu memikirkan hal yang tadi. Pikirkan saja bagaimana besok kita menghabiskan waktu bersama. Pasti akan menyenangkan.” Aku menatap helm Sinta dan tersenyum.
“Baiklah, aku tidak akan memikirkan ini lagi.”
“Bagus. Oh ya, apakah besok mau berangkat bersamaku? Aku akan meminta izin Mama membawa mobil. Mama pasti senang mendengar kita sudah dekat sekarang.”
“Iya, sudah lama aku tidak mengirim pesan pada Tante Rahma. Sampaikan salamku padanya dan Doni ya?”
“Oke!” jawabnya bersemangat.
Aku memandang tangan kiriku yang dihiasi manik-manik berwarna biru dongker. Gelang ini adalah gelang persahabatanku dengan Canny, miliknya berwarna merah marun. Jika dulu aku memiliki banyak harapan, sekarang tidak lagi.
#
Motor yang dikendarai Sinta masuk ke dalam halaman. Keningku mengkerut saat melihat gerbang terbuka, begitupun pintu utama. “Sepertinya ada tamu. Kau kenal pemilik motor ini, Fira?” Sinta menunjuk sebuah motor yang terparkir tepat di samping motornya. Aku mengerjap beberapa kali setelah mengingat pemilik motor ini.
Hey, tapi kenapa dia kemari?
Sinta tersenyum dan menaik-turunkan kedua alisnya. “Baiklah, baiklah, tidak perlu menjawab. Aku sudah tahu.” Sinta menyalakan mesin motornya dan membelokkan motornya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
Chick-LitSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
