19. Explanation

287 46 31
                                        

Fira’s pov

Aku masih menatap Tama yang menatapku. Ia tidak bereaksi apapun, hanya menunjukkan wajah syoknya. Beberapa detik kemudian ekspresinya berubah. “Fira tunggu disini sebentar. Oke. Jangan pergi kemanapun. Tunggu disini!”

Tama berlari masuk ke minimaket dengan tergesa, ia mengambil sesuatu dari rak obat dan segera ke kasih. Beberapa kali ia melihatku memastikan aku masih berdiri di tempat yang sama.

Aku menunduk menatap pergelangan tanganku, darah kembali keluar karena cengkraman Tama tadi. Aku tidak mengerti dengan diriku, kenapa sekarang aku menuruti kata-katanya?

“Fira, duduklah. Ku obati lukamu.” Tama menuntunku duduk di tempat yang disediakan. Ia meletakkan tanganku di atas meja setelah melipat hoodie yang menutup pergelangan tanganku. Tama mengeluarkan alkohol, obat merah, kapas, plester, dan tissue dari kantung plastik. Ia membersihkan seluruh darah yang keluar dari lukaku dan beberapa yang telah mengering.

“Tahan sebentar ya, tidak akan sakit.”

“Memang tidak sakit.” Tama menatapku beberapa detik lalu kembali fokus mengobati lukaku.

Ia meringis saat meneteskan obat merah, ternyata luka yang ku buat cukup lebar. Pantas saja aku cukup lega setelah menggoreskan kulitku dengan silet. “Kenapa kau melakukan ini, Fira? Kau tahu self harm bukan penyelesaian terbaik untuk masalah yang kau hadapi.”

Amarahku yang sempat lenyap karena perhatian Tama kembali memuncak. “Baiklah semua masalah memang membuat kita terjatuh, tapi tidak dengan cara seperti ini.”

“Lalu aku harus apa? Apa cara yang ku lakukan agar tidak lagi merasa sakit?” Air mataku jatuh begitu saja. “Di dunia ini aku hanya sendirian. Tidak ada yang mengerti aku, tidak ada yang memahami lukaku, tidak ada yang mencintaiku, dan tidak ada yang peduli denganku.” isakku semakin keras. Aku tidak peduli jika pengunjung minimarket atau bahkan para pegawai menonton drama kami.

Grep

Tubuhku membeku seketika saat merasakan sebuah pelukan. Sangat hangat dan nyaman hingga aku memejamkan mataku dan membalas pelukannya. “Itu tidak benar, Fira. Kau tidak sendiri. Ada banyak orang yang mencintaimu dan ada yang peduli denganmu.” suara Tama terdengar parau.

Aku melepas pelukan dan mendongak menatap Tama yang menatapku sedih. Bahkan ku lihat kedua matanya berair dan siap jatuh kapan saja. “Tidak ada, Tama. Sekalipun itu Papa, atau Mama. Bahkan Canny. Tidak ada yang menyayangiku diantara mereka bertiga.”

Tama merangkum wajahku dengan kedua tangannya. “Mereka menyayangimu, Fira.” Aku menggeleng keras dan masih teguh pada pendirianku.

“Jika Papa menyanyangiku, kenapa Papa tidak percaya denganku? Jika Canny menyayangiku kenapa dia menghianatiku untuk melindungi dirinya sendiri? Kenapa Tama?”

“Ceritakan padaku apa yang terjadi.” katanya lembut, ia menghapus air mata yang membasahi wajahku. Seperti tersihir aku menceritakan semua yang terjadi, juga rasa sakit yang ku rasakan hingga melakukan self harm.

“Apakah itu namanya kasih sayang?” Tama masih diam menatapku, tangannya terulur mengelus rambutku.

“Papamu hanya syok dengan kesalahan yang kau lakukan. Dan kemungkinan sifat Papamu seperti itu. Setelah beliau tenang, beliau akan berpikir jernih.”

“Dan Canny?”

“Canny memang memiliki sifat buruk itu. Menyalahkan orang lain untuk menyelamatkan dirinya sendiri.”

“Artinya dia tidak menyayangiku.”

“Bukan begitu, hanya situasinya sedang tidak tepat. Aku yakin Canny menyesali perbuatannya sekarang dan meminta maaf padamu.”

SECOND LOVE : Perfect IncitementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang