Author’s pov
04:30 WIB
Seorang perempuan menghisap rokok di tangannya, ia tersenyum senang karena rencana yang dia susun rapi-rapi berjalan mulus sejauh ini. Tinggal satu langkah lagi akan terlihat hasilnya. Ia memejamkan mata merasakan hembusan angin pagi menerpa kulit wajahnya.
Suara-suara adzan Subuh mulai terdengar, namun ia tampak tak ingin beranjak dari tempat duduknya. Berada di balkon di jam seperti ini dan memandang halaman rumahnya yang luas bukankah hal yang buruk. “Aku benar-benar tidak percaya ini. Kita merusak dua orang sekaligus.”
Ia menengok ke perempuan yang duduk di sampingnya. Ia pandangi sahabat sehidup sematinya yang asyik menikmati vape beraroma buah-buahan. “Kita tidak merusak mereka, Sinta. Mereka tidak akan terjerumus seperti kita. Mereka akan tetap menjadi Canny dan Fira seperti biasanya.” Sinta menatap Felly yang tersenyum ke arahnya.
“Bagaimana jika mereka meminta pesta seperti ini lagi?”
“Tidak akan, Sinta. Ini akan menjadi pesta yang pertama sekaligus terakhir untuk mereka.” Sinta menatap Felly tak percaya.
“Kau sangat yakin rencana kita akan berhasil?”
Felly mematikan rokoknya dan bangkit dari duduknya, “Tentu saja. Kita mengenal Canny, baik maupun buruknya.” Sinta hanya menelan ludah mendengar Felly yang sekarang berbaring di sebelah Canny. Sinta kembali menatap pemandangan di hadapannya. Ia kembali mengingat sebuah pesta paling menyenangkan seumur hidupnya. Pesta itu sudah berakhir setengah jam lalu, membuat dua perempuan mabuk berat tertidur saking lelahnya.
Berbeda dengan dua pemula itu, Sinta dan Felly tidak mabuk sama sekali. Mereka hanya pusing namun masih tersadar.
“Benarkah setelah ini kita tidak akan menghabiskan waktu bersama lagi? Sebenarnya menghabiskan waktu dengan sepupuku bukan hal yang buruk. Dia baik dan penuh kasih sayang, walau pada orang yang telah menggoreskan luka di hatinya.”
Sinta meletakkan vapenya dan berjalan menuju tiga orang yang tidur lelap. Ia duduk tepat di sebelah Fira.
Sinta tersenyum menatap wajah damai sepupunya, tangannya terulur mengelus rambut Fira. “Maafkan aku menyakitimu satu kali lagi, ku harap kau mau memaafkanku kali ini.” Sinta berbaring di sebelah Fira dan memeluknya, entah dia melakukan secara sadar atau tidak.
#
-J.Co Kediri Mall-
10:00 WIB
“Kau yakin mereka baik-baik saja?” Faris yang sedang mengunyah donat menatap Tama, ia mendengus kesal karena sejak tadi sahabatnya itu menanyakan hal yang sama ratusan kali.
Mereka berdua merayakan kemenangan Tama dalam turnamen futsal beberapa hari lalu. Sekaligus Tama berkonsultasi mengenai perasaannya dan langkah-langkah tepat yang akan diambilnya nanti. Namun sekarang, Tama mengganggu Faris karena kekhawatirannya mengenai Fira. Tentu mereka sudah tahu jika Canny dan Fira menghabiskan waktu bersama kedua sahabat mereka.
“Kau sudah bertanya berkali-kali, biarkan saja dia bersenang-senang. Jangan khawatir.” Tama menatap Faris lekat-lekat.
“Baiklah, kau bisa tenang karena mereka berdua memang sahabat Canny. Bagaimana dengan Fira? Mereka berdua bersikap kurang baik pada Fira.”
“Felly dan Sinta sudah berbaikan dengan Fira. Kemarin lusa aku melihat mereka bertiga bercanda bersama di foodcourt.” Tama mengerutkan keningnya. Ya, dia tahu tentang itu karena Fira menceritakan semua yang terjadi padanya beberapa hari terakhir.
“Bukankah itu aneh?”
“Aneh dari mananya? Mereka berdua sudah meminta maaf dan akan menjadi sahabat Fira seperti Cannyku.”
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
ChickLitSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
