24. Discussion

280 41 33
                                        

Author’s pov

Di salah satu ruangan di kantor Mochi&Puthu, ada 4 laki-laki yang sedang mengobrol. Sebenarnya hanya 3 orang yang berinteraksi karena satu diantaranya hanya menyimak, ia tidak merasa perlu menanggapi obrolan anak kembar dan ayah mereka. Ia bertanya-tanya kenapa dia juga diikutkan dalam pertemuan ini.

Faris berusaha keras menenangkan dirinya, ia benar-benar kacau sekarang. Ia mengingat kembali hal yang terjadi belakangan. Ia tidak mengingat telah melakukan kesalahan atau tidak. Napas Faris tercekat saat kelimat yang didengarnya dari Alvin terngiang di kepalanya.

“Apa yang tidak ku ketahui di dunia ini?”

Faris menelan ludahnya dan menatap Alvin yang sibuk mendengarkan keluh kesal Alvan. Faris menduga, Alvin tau mengenai kencan rahasianya dengan Canny beberapa bulan lalu. Tapi sungguh, Faris tidak melakukan apapun yang diluar batas. Baiklah, Faris dan Canny memang berpelukan saat itu. Tapi hanya sekali. Apakah dia akan diadili karena ini?

Azril mengalihkan pandangannya pada Faris yang sedari tadi diam saja. Padahal ia ingin Faris ikut mengobrol agar tidak merasa tegang atau takut, namun sepertinya tidak berhasil. Azril mulai mempertanyakan apakah dia orang yang menakutkan seperti putra pertamanya?

“Ah, sepertinya aku terlalu banyak bicara. Baiklah, kita mulai saja pembahasannya.” Alvan menyamankan duduknya di sebelah Alvin, tak lupa ia tersenyum lebar ke arah Faris untuk membuatnya lebih baik. Walau ia yakin tak berhasil, laki-laki di hadapannya masih saja tegang dan tak nyaman.

“Baiklah. Faris.” Faris menoleh ke arah Azril. “Maksud kami memintamu datang kemari untuk membicarakan kuliahmu di Australia. Ya memang masih satu setengah tahun lagi, tapi jika di persiapkan sejak lama akan lebih mudah. Benar kan?” Faris mengangguk saja, ia tak bisa berpikir tenang sekarang.

“Selama kau berkuliah di Australia, Om yang akan menanggung semua biayanya. Termasuk biaya hidup kamu selama disana. Om sudah membicarakan ini dengan kedua orangtuamu dan Om memaksa mereka menerimanya. Jadi, kau tidak ada pilihan lain selain menerimanya.”

Sekali lagi, Faris hanya mampu mengangguk.

“Sekarang kau pilih, universitas mana yang kau inginkan?” Azril menyerahkan beberapa brosur dari berbagai kampus terkenal di seluruh penjuru Australia untuk program magister dan doktor. Faris menerimanya dan membacanya satu-persatu.

“Program studi psikologi terbaik ada di Melbourne.” kata Alvan dengan mulut penuh bolu pisang.

Perlukah Faris terkejut dan mempertanyakan bagaimana Kakak Canny tahu program studi yang ditempuhnya?

“Pilih saja Sydney agar semuanya lebih mudah.” Alvin mencomot bolu pisang di tangan Alvan.

“Hei kembalikan! Ini milikku!” Alvan melotot ke arah kakak kembarnya yang masih saja bersikap menyebalkan.

“Ini, ambillah.” Alvin membuka mulutnya memperlihatkan bolu pisang yang sudah hancur.

“Kau ini jorok sekali!” Alvan memukuli kakaknya berulang kali membuat Alvin tertawa. Ia rindu menjahili Alvan dan membuatnya kesal.

“Alvan berhenti memukuli kakakmu dan ingatlah kau punya dua bayi kembar di rumah dan Alvin berhenti menjahili adikmu karena kau akan menjadi ayah beberapa minggu lagi.” suara tenang namun menuntut terdengar membuat Alvan menghentikan aksinya.

Ia mengambil kotak berisi bolu pisang yang tinggal 3 buah dan beranjak. Alvan berpindah tempat duduk ke samping Faris yang fokus membaca brosur dalam bahasa Inggris itu.  “Pilih saja Melbourne. Ku jamin itu tempat terbaik.” Alvan menunjuk brosur Australian Nation University yang berada di Melbourne.

SECOND LOVE : Perfect IncitementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang