Chapter awal belum masuk konflik, masih kangen-kangenan dulu.
Happy reading
🐾🐾🐾🐾🐾
Canny’s pov
-Al- Fazza University-
14:00 WIB
Aku menguap ke sekian kalinya dengan mata tertuju pada Pak Sahal yang menerangkan mata kuliah Dasar Psikologi. Ku pikir hanya aku yang mengantuk, lihatlah seisi kelas sedang memperhatikan dosen paling tampan sekampus itu. Ku pikir mereka hanya melihat wajah tampannya saja dan tidak mengerti sama sekali dengan materi yang beliau sampaikan.
Lalu aku? Aku tidak terlalu paham dengan materi yang disampaikan, tapi lumayanlah cuci mata.
“Can.” Aku menoleh ke samping, seorang laki-laki yang duduk di sampingku tersenyum lebar.
“Hmm?”
“Setelah ini kau mau kemana?” Aku mengerjap-ngerjap menatap laki-laki di sampingku ini.
Namanya Haidar, entah kebetulan atau bagaimana dia selalu berada di kelas yang sama denganku sejak semester satu hingga semester lima ini. Teman-teman sekelas bilang dia menyukaiku, tapi aku tidak melihat tanda-tandanya. Apa aku yang tidak tahu ya?
“Can?”
“Ah, setelah ini aku berkunjung ke rumah Fira untuk mengerjakan tugas Manajemen Public Relation. Ya kan, Fir?” aku menyenggol bahu Fira, ia menoleh ke arahku dengan wajah bingung. Tentu saja dia bingung, konsentrasinya menerima materi dari Pak Sahal buyar sudah.
“Apa?”
“Mengerjakan tugas Manajemen PR dengan bantuan Papamu.” Aku mengerdipkan sebelah mataku, Fira membulatkan mulutnya tanda mengerti.
“Ah, iya.” Fira tersenyum ke arah Haidar.
“Oh begitu, boleh aku ikut juga? Aku bisa mengajak Marco.” Nama seseorang yang disebut menoleh.
“Kenapa menyebut namaku?” bisiknya.
“Nanti kit-”
“Baris kedua perhatikan saya atau keluar dari kelas.” Aku menunduk setelah melihat tatapan dingin Pak Sahal yang tertuju pada Haidar dan Marco.
Suasana kelas hening sekarang dan terasa semakin dingin. Pak Sahal mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas dengan tatapan dingin. Sungguh, tatapan dingin itu malah menjadi daya tariknya.
“Baiklah, saya lanjutkan.”
Pak Sahal kembali menjelaskan materi, aku tidak ada pilihan lain selain memperhatikan.
Wajah tampannya.
🐾🐾🐾🐾🐾
Kelas baru saja selesai, aku berjalan keluar kelas dengan Fira. “Yakin kau tidak mau ikut?” aku menatap Felly yang berdiri dengan Sinta di depan pintu. Masih ingat mereka berdua?
“Tidak.”
“Kenapa? Padahal akan menyenangkan jika kau juga ikut.”
“Maafkan aku, teman-teman. Hari ini aku hendak mengerjakan tugas.” Sebenarnya aku tidak tega menolak ajakan kedua sahabatku sejak SMP ini, tapi aku juga tidak ingin Fira tidak nyaman dengan mereka.
“Baiklah, Canny yang selalu rajin. Aku dan Sinta pergi dulu. Bye!” Aku tersenyum dan melambaikan tanganku ke arah mereka yang berjalan keluar kelas.
“Wah, ada seseorang yang menunggumu Can.” Mereka berdua terkekeh dan berjalan menjauh dari kelas setelah menepuk pundak seseorang. Seseorang itu tersenyum ke arahku.
“Aku, Haidar, dan Marco tunggu di parkiran. Bye!” Fira menggandeng tangan Haidar dan Marco menjauh dariku. Terlihat wajah yang tidak biasa dari Haidar sebelum mereka menuruni tangga.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
Literatura KobiecaSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
