20. Squabble

262 47 22
                                        

Fira's pov
20:00 WIB

Aku tersenyum menatap layar ponselku yang menampilkan fotoku dengan Tama yang diambil beberapa jam lalu. "Konyol sekali." kataku menatap wajah sembabku di foto itu, berbeda dengan Tama yang tampak tampan dengan senyuman manisnya.

Sejujurnya aku masih belum percaya ini, benarkah aku dan Tama berkencan sekarang? Aku menarik hoodie hitam yang ku kenakan dan memandang lukaku yang sudah terobati.

"Pantaskah aku memiliki seseorang sesempurna dia?" tanganku terulur mengelus plester yang menempel di pergelangan tanganku.

Ku akui, Tama benar-benar baik. Dia menerimaku apa adanya, bahkan kekuranganku sekalipun.

Ceklek

Aku menengok ke arah pintu yang terbuka dan langsung menarik hoodie di tangan kananku hingga menutupi lukaku. Aku menunduk setelah Papa melangkah masuk ke dalam kamarku. "Fira." Papa berjongkok di depanku dan menatapku sendu. "Maafkan Papa telah menyakitimu." Tangan Papa terulur mengelus pipiku yang tadi ditamparnya.

"Fira bisa memukul Papa." Aku terkejut dengan kalimat yang dilontarkan Papa. "Ayo, Fira pukul Papa." Papa menggenggam kedua tanganku dan mengarahkan ke pipinya. Kedua mata Papa berkaca-kaca membuat hatiku sakit. Aku memeluk Papa sangat erat dan menangis.

"Tidak. Fira tidak akan memukul Papa. Papa tidak perlu meminta maaf karena Papa tidak salah. Fira yang salah, Pa. Fira sudah menyalahgunakan kepercayaan dari Papa. Maafkan Fira yang sudah mengecewakan Papa." Aku tidak bisa jika tidak menangis. Papa mengelus rambutku lembut.

"Fira akui, Fira memang mabuk malam itu dan minum vodka. Tapi botol itu bukan milik Fira, Papa. Botol itu milik Felly."

Papa menghapus air mataku, "Ya sayang, Papa percaya dengan Fira. Maafkan Papa tadi terpancing emosi. " Aku memeluk Papa lebih erat. "Fira harus janji tidak akan mengulangi perbuatan seperti itu, ya?"

"Ya, Pa. Fira janji tidak akan mengulangi hal itu lagi. Mulai sekarang Fira akan menjauhi Felly dan tidak akan bergaul dengan dia lagi agar kejadian seperti tidak terjadi lagi." Papa tersenyum dan mengecup keningku.

"Sekarang Fira istirahat ya, Papa temani." Aku mengangguk setuju dan mengangkat tanganku ke udara."

"Gendong." Papa terkekeh dan berbalik, aku melompat ke punggungnya. Perlahan Papa berdiri, aku memeluk lehernya dan mengecup pipinya berulang kali.

"Malam ini Fira mau tidur dengan Papa. Boleh ya?"

"Tentu saja boleh, sayang." Papa menurunkanku di tempat tidur dan berbaring di sebelahku.

"Oh ya, tadi Fira kemana? Kenapa pulang dengan temanmu yang datang setelah turnamen itu?" aku menatap Papa yang menatapku penasaran.

Jika aku menceritakan semuanya, apakah Papa akan memarahiku lagi?

"Hmm, Pa. Fira akan mengatakan sesuatu, tapi harus berjanji jika Papa tidak akan marah, padaku ataupun pada Tama." Aku mengulurkan jari kelingkingku pada Papa yang menatapku bingung.

Papa melingkarkan jari kelingkingnya di jari kelingkingku, "Katakan."

"Pa, sebenarnya aku dan Tama pacaran."

"Apa!"

#

Canny's pov
06:30 WIB

"Ayo Princess, kau bisa terlambat jika masih tidur! Hari ini kau ada kelas pagi. Ayo ayo bangun cantik. Baby Hawai ayo bantu Mommy membangunkan Onty Cancan (Read: Onty Kenken)." Aku menutup telingaku dengan bantal mendengar suara Jessica di pagi hari. Sungguh, hari ini aku tidak memiliki semangat hidup mengingat kejadian kemarin.

SECOND LOVE : Perfect IncitementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang