Fira’s pov
Aku dan Tama baru sampai sebuah tempat yang tidak ku duga sebelumnya. “Kenapa kita kesini?” tanyaku pada Tama yang melepaskan helmnya di kepalaku. Mataku masih memandang papan nama ‘Kedai Ralia’.
“Tentu saja makan es krim. Es krim disini sangat enak dan terjamin kualitasnya. Es krimnya buatan sendiri, menggunakan bahan-bahan segar. Itulah rahasinya.” Aku menatap Tama yang tersenyum lebar.
“Kau bicara seperti pelayan disini saja.” kataku berjalan masuk, aku berdo’a semoga tidak bertemu dengan Tante Ralia. Aku tidak ingin banyak membahas soal Canny. Itu akan membuat moodku memburuk.
“Aku memang bekerja disini.” Langkahku terhenti, aku berbalik dan menatap Tama tak percaya. “Maaf baru memberitahumu hari ini. Aku baru bekerja part time disini sejak tiga hari lalu. Dan kau adalah orang pertama yang tahu.”
“Kenapa kau bekerja disini?”
“Aku ingin mencari uang sendiri dan tidak bergantung pada orangtuaku. Aku merasa sekarang sudah saatnya aku menanggung hidupku sendiri.” Aku tersenyum dan menggenggam tangan kekasihku ini.
“Aku mendukungmu, Tama. Itu bagus.” Tama tersenyum dan mengeratkan genggaman tangannya.
“Ayo masuk.” Tama menggandengku masuk ke dalam. Ia tersenyum lebar memandang sekeliling kedai, sesekali ia menyapa pelayan lain. Sepertinya mereka sudah akrab. “Duduk disini saja ya?” Aku mengangguk saja saat Tama menghempaskan tubuhnya di kursi tepat di pinggir kedai.
Pemandangan hijau kedai ini memang selalu membawa ketenangan. Sekarang aku lebih tenang, berkat Tama dan suasana kedai ini.
“Tama! Ku pikir kau datang kemari untuk bekerja.” seorang perempuan dengan name tag Rahayu datang membawa buku menu.
Tama menengok dan tersenyum ramah padanya. Aku menunduk saat merasakan sesuatu yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya. Hatiku rasanya sangat sakit melihat Tama tersenyum ramah pada perempuan lain.
“Aku mengambil shift malam.”
“Ah, sayang sekali. Padahal aku ingin sekali satu shift denganmu. Kau tahu, mengobrol denganmu lebih nyaman daripada orang-orang di shift pagi.” Aku mendongak dan menatap perempuan dengan make up tebal itu. Tama menatapku sekilas lalu kembali menatap Rahayu, pandangannya tidak seramah tadi.
“Begitu?”
“Hmm, haruskah aku pindah shift malam?”
Perempuan ini benar-benar!
“Kita jadi makan es krim atau hanya mengobrol saja?” aku menatap Rahayu dengan tatapan tajam sebelum membaca buku menu.
“Ah, iya. Kau mau pesan apa sayang?” Aku menatap Tama yang tampak tidak ada beban setelah melontarkan sebuah kata yang tidak ku duga sebelumnya.
“Bubble gum.” Aku menyerahkan buku menu padanya dan melirik Rahayu yang sekarang menatapku tajam. Dia tidak suka denganku?
“Oke. Satu premium bubble gum, sendoknya dua ya.” Rahayu mencatat pesanan kami dan menatap Tama sekilas sebelum meninggalkan meja kami.
Wow
Dia benar-benar tidak mengatakan apapun setelah Tama memanggilku dengan sebutan itu.
“Ku pikir dia menyukaimu.” Aku menatap Tama yang juga menatapku.
“Iya kah?” jawabnya tidak begitu peduli, sekarang saja dia fokus memainkan jariku di atas meja.
“Kau pasti tahu, kau bisa membaca gerak gerik orang dan tatapan matanya. Apalagi orang yang menyukaimu.” Tama memandangku tepat di kedua mataku, beberapa detik kemudian senyuman mengembang di bibirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
ChickLitSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
