Canny’s pov
Aku memandang Faris yang memandang karyawan konter menjelaskan kerusakan ponselnya. Sejak tadi Faris tidak mengatakan apapun padaku, dia hanya diam dan turun mengambil ponselnya yang ditemukan satpam. Aku yang mengekorinya dari belakang hanya diam dan tak sanggup menatap matanya.
“Kemungkinan satu bulan baru bisa selesai perbaikannya.”
Apa? Satu bulan? Kenapa lama sekali?
Faris menatap pria di depannya, sepertinya ia menimang sesuatu. “Apakah data-datanya akan hilang?”
“Karena kerusakan sangat berat jadi kami akan mengganti semuanya.” Karyawan konter menyerahkan kertas dan pulpen.
“Silahkan tulis nomor yang bisa dihubungi.” Faris menerimanya dan menulis. Aku menghela napas panjang dan menunduk.
“Ini kartu memori dan kartu perdananya. Akan kami hubungi jika sudah selesai.”
Faris mengangguk, ia menengok padaku dengan wajah datarnya dan menggandeng tanganku keluar dari konter. Aku melepas gandengan dan berdiri tepat di depan Faris. Aku memegang kedua telingaku dan menatapnya sendu.
“Maafkan aku Marble. Aku tidak sengaja melakukannya, sungguh. Jangan marah padaku.” Mataku mulai berkaca-kaca, dadaku sangat sesak karena dia marah padaku.
Faris tersenyum, kedua tangannya memegang kedua tanganku dan menurunkannya. “Tidak apa, itu hanya ponsel. Lain kali jangan diulangi lagi, ya?” aku mengangguk masih dengan wajah sendu.
“Katakan apa yang harus ku lakukan untuk menebus kesalahanku.”
“Kau akan melakukan apapun yang ku minta?” Tentu saja aku mengangguk. Aku tidak ingin Faris marah padaku. Ini semua karena sifat kekanak-kanakanku itu.
“Kita makan dulu, ya.” Aku tidak ada pilihan lain selain menurut. Faris mengelus kepalaku dengan senyuman saat aku mengangguk. “Ayo kita naik. Aku sangat lapar, kau tahu.”
“Kau bisa memesan apapun yang kau mau, Marble. Aku yang akan mentraktirmu. Kau tidak bisa menolaknya karena aku tidak menerima penolakan!”
“Baiklah. Aku menerimanya, Princess.” Aku tersenyum senang, kami bergandengan menuju lift.
“Cherry, pinjam ponselmu.” Aku merogoh ponselku dari tas yang ku kenakan dan menyerahkannya pada Faris. “Aku akan menghubungi Mama karena ponselku rusak.”
“Kau pasti mendapatkan ponsel baru. Menurutku Tante akan memarahimu karena memperbaiki ponselmu yang rusak karena lebih baik membeli yang baru.” Faris mengangguk dengan senyuman lebar, entah apa yang membuatnya tersenyum seperti itu.
Baru kali ini aku tahu orang yang ponselnya rusak bisa tersenyum sumringah seperti ini. “Kau tahu apa yang dipikirkan Mamaku?”
“Tentu saja. Kau sering menceritakannya, kan? Aku masih ingat Tante Batari memintamu mengganti mobil baru padahal hanya ban mobilmu yang rusak.” Faris terkekeh dengan pandangan terfokus padaku.
Ting
“Aku baru kali ini melihat seseorang masih bisa tertawa padahal ponsel mahalnya rusak berat.” kataku melangkah masuk ke lift yang terbuka, aku bersyukur lift kosong. Tawa Faris pecah, membuatku menatapnya jengkel. “Kau tidak tahu bagaimana bersalahnya aku atas tragedi ini dan kau-”
“Sudah ku bilang itu hanya ponsel, Cherry.”
“Baiklah, hanya ponsel. Orang kaya memang seperti itu ya, ponsel seperti itu hanya masalah kecil. Jika aku jadi kau akan menangis seharian.”
“Jangan merendah untuk meroket.”
Aku memandang pintu lift yang terbuka dan melangkah keluar, Faris mengikuti dari belakang namun masih memandang ponselku.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND LOVE : Perfect Incitement
أدب نسائيSEKUEL KETIGA "SECOND LOVE". ADA BAIKNYA BACA "SEPARUH NYAWA" DAN "THE LAST MESSAGE" TERLEBIH DAHULU. "Jadi semua yang dikatakan Felly itu benar? Fira tidak pernah menyayangiku sebagai sahabat ataupun saudara?" . . . . . . . "Kau benar, Sinta. Aku...
