Syafira Kinanthi Mayandra

535 58 40
                                        

Fira’s pov

Aku tersenyum menatap Tara yang berlarian kesana kemari, jangan lupa teriakannya yang membuat rumah Papa ramai. “Akhirnya rumah ini ramai lagi. Tinggal berdua saja sangat sepi.” Aku memeluk Papa yang duduk di sampingku.

“Mulai sekarang suara Tara akan meramaikan rumah ini, Pa.” Papa tersenyum membuat kerutan di wajahnya kentara.

Aku tidak menyangka waktu berjalan secepat ini, melihat Papa dan Mama bertambah tua membuatku sedih. Aku selalu berdoa agar mereka selalu sehat dan menemaniku hingga waktu yang lama. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan mereka berdua walau aku paham dengan benar tak pernah ada kehidupan yang abadi di dunia ini. 

“Kenapa menangis? Jangan menangis sayang.” Aku memeluk Papa dan menangis keras. “Sayang ada apa?”

“Fira sayang Papa. Papa harus bersama Fira untuk waktu yang lama. Papa janji harus bermain dengan adik Tara nanti.” Aku menatap Papa yang menatapku lekat-lekat. Papa tersenyum dan mengangguk.

“Insyaallah.” Papa merangkum pipi chubbyku dan menyematkan kecupan di keningku. Aku memegang tangannya dan mengarahkan ke perut besarku.

“Ayo sapa baby, Pa. Dia kangen Kakeknya.” Papa tersenyum, ia menjajarkan kepalanya dengan perutku.

Setelah sebulan pernikahan Canny, aku hamil. Tentu saja aku sangat senang, begitu pun Tama. Menjelang trimester akhir, aku dan Tama memutuskan pindah kemari karena aku ingin dekat dengan Mama dan Papa. Seperti dulu saat aku hamil Tara, aku lebih nyaman tinggal disini.

Bukannya aku tidak nyaman di rumah Tama, hanya saja aku merasa kesepian saat ditinggal bekerja.

Setelah menikah dengan kekasihnya yang bernama Dave, Mbak Flora memutuskan pindah ke Paris. Jadilah kedua orangtuaku hanya tinggal berdua saja di rumah ini. Sebenarnya aku tidak tega meninggalkan mereka berdua saja di rumah. Tapi aku tidak enak jika meminta Tama agar kami semua pindah ke rumah Papa.

“Assalamualaikum, sayang. Kakek disini, sehat-sehat disana ya. Kita bertemu sebentar lagi.” Aku tertawa melihat wajah terkejut Papa karena bayi dalam kandunganku bergerak.

“Dia sedang bermain, Pa.”

“Ya, Papa tidak sabar melihat cucu ke tujuh ini.” Aku mengangguk melihat Papa yang tersenyum lebar. Ya, cucu ketujuh. Bira, Bia, Wai, Cana, Tara, Steve, dan satu sedang proses.

“Andaikan mereka semua tinggal bersama kita, rumah pasti sangat ramai seperti pasar.”

“Ya, seperti saat hari Raya. Itu adalah saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidup Papa. Anak-anak Papa hidup bahagia dengan pilihan mereka masing-masing. Tidak ada yang lebih berharga selain anak-anak Papa.” Aku melingkarkan tangan kananku ke tangan kiri Papa dan bersandar di bahunya.

“Papa juga berharga untuk Fira. Papa adalah ayah terhebat yang Fira miliki. Sejak kecil hingga dewasa, Papa selalu berusaha menjadi ayah sekaligus ibu untuk Fira. Terimakasih ya Pa, sudah membesarkan Fira.”

“Papa yang seharusnya berterimakasih. Karena telah hadir dalam hidup Papa dan membawa kebahagiaan. Membangkitkan semangat dalam hidup Papa yang hancur setelah kehilangan semua yang Papa miliki saat itu.”

“Fira sayang Papa.”

“Papa juga sayang.”

“Tateeeek! Tata unya uit! (Kakek, Tara punya biskuit)” Aku dan Papa mengalihkan pandanganku ke arah Tara yang membawa sesuatu di tangannya.

Biskuit?

Aku menatap Mama yang tersenyum lebar. Pasti Mama yang membelikan biskuit untuknya. Mama baru kembali dari mini market dekat rumah. “Mama yang beli?”

SECOND LOVE : Perfect IncitementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang