JANGAN LUPA VOTE GENGS!!!!
Surya terbangun dari tidurnya dan berlari ke arah ruang tamu.
"PAPAH!!"
Semua orang langsung menatap ke arah Surya. Apa anak itu mengigau??
Surya berlari ke arah Gilang. "Om, papah mana??!"
"Sayang, kamu udah bangun nak. Sini sama Mommy" Ucap Arisha lembut, Arisha mengira jika putranya itu sedang mengingau.
Surya hanya melihat Arisha sekilas, lalu kembali menarik celana kolor Gilang. "Papah kok gak ada Om"
"Cil, kamu kok suka banget sii narik narik celana Om, melorot ini" Ucap Gilang sambil menahan posisi celananya.
Jika celananya melorot sedikit saja pasti akan sangat berbahaya.
"Papah Om. Hiks" Apa Surya menangis?? Serius anak tengil itu menangis??
Bunda Hara bingung menatap cucunya. Tidak biasanya Surya seperti ini. "Surya kenapa si Lang, kok nanya papahnya terus ke kamu.??"
Ayah Reza menggendong tubuh Surya. "Sini sini sayang. Uhhh anak Ayah kok nangis gini sihh, nanti gantengnya hilang deh" Ucap Ayah sambil menyeka air mata Surya.
"Papah hiks...Papah"
Dada nya sakit saat melihat putra tunggalnya menangis memanggil papahnya. Apa Surya bermimpi buruk??
"Sayangnya Mommy, kita bobo lagi ya. Nanti Mommy bikinin susu, yuk sayang." Ucap Arisha.
Tangis anak itu semakin keras saja kala Arisha mencoba menggendong tubuhnya.
"Sini sama Om cil. Ututut bocilnya Om yang ganteng sini tayangkuhhh." Ucap Gilang seraya menggendong Surya dari Ayah Reza.
Sebegitu sedihnya sampai anak itu sesegukan dalam pelukan Gilang.
"Ris, nanti Surya gak usah dimandiin dulu deh. Udah larut banget, kasian." Ucap Bunda Hara.
Bunda Hara dan Ayah Reza menatap Surya iba, ini bukan pertama kali Surya meributkan atau menanyakan tentang papahnya.
Ayah Reza menatap Arisha tajam. "Kamu udah liat kan, mau sampai kapan kamu kaya gini Ris?? Surya butuh seorang ayah dan usia kamu juga sudah matang buat menikah. Yang sebenernya kamu tunggu itu apa sihh??"
Niat Arisha sejak awal adalah, dia hanya ingin merawat putranya sendirian. Tapi benar kata Ayah Reza, putranya butuh seorang ayah.
Ayah Reza bangkit dan pergi ke arah Kamar, tak lama dari itu di Bunda pun ikut bangkit. "Bunda harap jalan yang kamu pilih sekarang, tidak merugikan Surya. Bunda ke kamar ya." Ucap Bunda begitu lembut kepada Arisha.
Tinggalah Gilang, Arisha dan Surya di ruang tamu.
Arisha menatap Surya yang sudah tidak lagi menangis karna anak itu kembali tertidur.
"Sebenernya gue tadi bawa Surya ke pak Gamal" Ucap Gilang memecah keheningan.
Mendengar penutura sang adik, Arisha langsung menatap Gilang. "Makhsud lo apa??"
"Ya gue tadi mempertemukan Surya sama Papahnya. Kita pulang sore karna Surya main sama pak Gamal." Jelas Gilang cepat.
Jika Arisha tidak mengingat ada Surya di tengah tengah mereka, Pasti saat ini Arisha akan berteriak di hadapan Gilang. "Gila lo ya Lang."
"Tadi Surya nanya lagi tentang Papahnya, ya udah gue bawa aja ke pak Gamal. Kan gue udah bilang tadi siang."
Arisha mengepalkan tangannya. "Kalo lo capek jagain Surya, lo gak perlu jadi sok pahlawan dengan mempertemukan Surya sama pak Gamal. Surya anak gue."
Gilang menggeleng. "Gue bukan mau jadi sok pahlawan atau gue capek jagaian Surya. Tapi gue mikirin perasaan Surya."
"Terserah alesan lo apa, tapi mulai saat ini jangan pernah lo sentuh anak gue lagi."
Arisha mengambil alih tubuh Surya dan pergi meninggalkan Gilang di ruang tamu.
***
Pagi yang cerah secerah lampu kamar Author, Surya and Family tengah menyantap sarapan mereka.
Surya meletakan sendok. "Aku selesai pertama. Ayo Om kita berangkat"
Baru Gilang ingin membuka suara, tetapi ucapannya tertabrak oleh suara Arisha. "Kamu berangkat sama Mommy aja."
"Kenapa??" Tanya Surya dengan wajah polos itu.
Arisha meneguk air putihnya sebentar. "Kamu gak mau berangkat sama Mommy??"
Surya menatap Gilang lekat. "Om Gilang, aku berangkat sama Mommy aja. Tapi nanti aku pulang dijemput sama Om Gilang ya Mom??"
"Pulang Mommy yang jemput." Jawab Arisha cepat.
Bunda Hara dan Ayah Reza menyimak adegan ibu dan anak itu. Ada apa dengan Arisha.
Wajah Surya tertekuk. "Yah, berarti nanti aku gak ketemu sama--"
"Surya ayo kita berangkat sekarang. Nanti kalau kamu telat, kamu dimarahin sama ibu guru. Ayo sayang." Titah Arisha memotong ucapan putranya.
Surya hanya diam digandeng oleh sang ibu menuju keluar rumah.
Gilang menatap punggung Keponakan unyu nya itu yang semakin menjauh. Gilang tidak bisa jauh jauh pada bocah tengil itu.
***
"Ekhm, Ada apa kamu ngajak saya ketemu disini Lang??" Ucap Gamal dengan sedikit berdehem.
Ya, Gilang mengajak bertemu dengan Gamal di salah satu Restoran di jakarta.
"Ee sebenarnya ada yang saya mau omongin sama pak Gamal."
Gamal memgangguk. "Kamu bilang aja Gilang, saya pasti akan mendengarkan."
"Apa pak Gamal sayang sama Surya??" Tanya Gilang tiba tiba.
"Tentu Gilang, saya sangat sayang pada Surya. Dia anak saya." Ucap Gamal mantap.
Gilang tersenyum sebentar. "Kalau begitu pak Gamal menikah aja sama kakak saya."
TBC
AUTHOR JADI BERFIKIR UNTUK KULIAH PENERBANGAN. :D
KAMU SEDANG MEMBACA
Single Mommy (LENGKAP)
General FictionApa yang kalian bayangkan jika mendengar kata "Single Mommy" ?? seorang Single parents/Janda?? tetapi Novel ini bukan menceritakan tentang seorang wanita Single parents yang ditinggal selingkuh oleh sang suami dan Novel ini juga bukan cerita tentan...
