P A R T 0 2

46.4K 3.3K 36
                                        

Aroma khas rumah sakit perlahan menyeruak melalui hidungnya. Masih tanpa senyuman diwajahnya, Darka berjalan dengan tatapan datar. Sudah hampir dua tahun Darka melakukan kebiasaan ini, Darka tidak pernah sehari pun tidak menemuinya.

Selama itu, Darka selalu berada di sisi gadis itu.

Gadis yang sudah mengalami koma hampir dua tahun lamanya. Walaupun belum lama gadis itu sudah sadar, dan mulai menjalani aktivitasnya, ia harus kembali ke rumah sakit karena kondisinya yang masih terlalu lemah.

Gadis itu, Seyna Natasya.

Tatapan penuh binar, tidak lupa dengan senyuman yang terukir diwajahnya ketika menyadari pintu terbuka hingga memperlihatkan seseorang yang ia tunggu sudah berada di hadapannya. Senyumannya semakin lebar saat laki-laki itu memberikan buket bunga tulip kesukaannya.

“Lo gak bosen ngasih gue bunga setiap hari?” tanya Seyna.

Darka tersenyum tipis. “Gue selalu suka semua hal yang lo suka.”

Seyna terkekeh mendengarnya. “Belajar gombal dari mana lo?”

Darka hanya tersenyum lalu mengacak rambut gadis itu dengan gemas. Seyna terdiam sesaat, setelah kecelakaan yang menimpanya sifat Darka jauh berbeda dengan sebelumnya. Darka yang ia kenal sebelumnya adalah Darka yang tidak pernah tersenyum, dan juga selalu ketus dalam berbicara. Sangat berbeda dengan sekarang. Darka selalu menatapnya penuh hangat dan berbicara dengan sangat lembut. Jika seperti ini, bolehkah Seyna menaruh harapan pada Darka?

Tidak, Seyna tidak ingin persahabatannya hancur begitu saja hanya karena perasaannya.

“Udah minum obat?” tanya Darka menarik kursi lalu mendudukinya.

“Udah kok,” jawab Seyna. “Jadi, kapan gue bisa pulang? Lo tau kan, gue gak suka di sini.”

“Lo belum sepenuhnya pulih, harus banyakin istirahat.”

“Gue nanya kapan gue bisa pulang. Bukan nanya gue udah pulih apa belum,” gerutunya kesal.

Seyna mendengus karena Darka tidak berniat menjawabnya melainkan sibuk dengan benda pipih digenggamannya. Mereka terdiam sesaat sebelum akhirnya Seyna kembali berbicara.

“Darka.”

“Hm,” balas Darka tanpa menatap gadis itu.

“Lo udah tau di mana keberadaan Arisha?”

Darka sontak mengalihkan pandangan dan terdiam. Selama ini Seyna memang meminta untuk mencari tahu keberadaan Arisha. Seyna, dan Arisha saling bersahabat sejak mereka masih kecil. Tidak heran, hampir setiap hari Seyna menanyakan hal ini kepadanya.

“Jawab gue, Darka,” tekan Seyna.

“Dia ada di sekolah kita,” balas Darka.

“Maksud lo?”

“Dia baru pindah ke sekolah kita hari ini.”

Seyna tersenyum sumringah, ia merasa sangat bahagia karena sudah menantikan hal ini sejak lama. “L-lo serius? Kalo gitu gue harus nemuin dia.”

Darka bangkit dari duduknya ketika Seyna mencoba melepas infusan. “Lo mau apa?”

“Gue mau nemuin Arisha,” jawabnya namun pergerakannya terhenti setelah mendengar ucapan Darka.

“Lo mau nemuin orang yang sama sekali gak peduli sama lo?” Seyna memberikan tatapan tidak percaya pada Darka. “Kalo dia bener-bener sahabat lo, dia pasti ada di sini, Sey.”

“Bisa aja Arisha gak pernah ke sini karna dia gak tau kalo gue masih hidup, gak ada yang tau tentang hal itu, kan?”

Darka menghela napas pelan, Seyna sama sekali tidak mengetahui tentang seberapa besar kebenciannya pada Arisha. Bagaimana ia harus menjelaskannya? Terlebih, kondisi Seyna belum dapat dikatakan baik-baik saja.

Stop It, Darka! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang