“Aku tau, pasti kamu kan yang ngelakuin itu?”
Gadis yang memiliki netra cokelat itu menatap laki-laki yang berdiri di hadapannya. Padahal, ia sedang menyaksikan drama siaran langsung namun laki-laki yang merupakan kekasihnya tiba-tiba menariknya dan membawanya ke taman sekolah.
“Aku?” tanya Saras menaikkan sebelah alisnya.
Gema menghela napas pelan. “Kamu gak bisa bohong sama aku, Sar. Kamu kan, yang bully Seyna?”
Saras mengangguk seraya menebar senyum. “Iya, kenapa?”
“Kenapa? Kamu tanya kenapa setelah liat apa yang terjadi? Kamu gak liat gimana Darka salah paham sama Arisha?”
“Urusannya sama aku apa, Sayang? Lagi pula Darka emang gak suka sama Arisha kan? Kalau aku jujur tetap aja gak ada yang berubah,” kata Saras yang sama sekali tidak merasa bersalah bahwa ini semua terjadi karenanya.
Salah paham? Saras tidak mempunyai waktu hanya untuk menjelaskan kebenaran apapun pada Darka. Itu adalah masalah Arisha karena menjadi seseorang yang mudah ditindas. Begitulah pikirnya.
“Mau sampai kapan sih kamu kayak gini? Jujur, aku capek ngadepin sikap kamu yang gak ada perubahan sama sekali,” ucap Gema.
“Capek? Maksud kamu apa, Ge?”
“Enggak, gak ada.”
Saras segera menahannya ketika Gema ingin pergi begitu saja. “Jelasin ke aku, apa maksud kamu, Gema!”
“Aku mau sendiri,” ujar Gema mencoba melepas tangan Seyna yang menahannya.
“Kenapa kamu berubah, Ge? Dulu kamu sendiri yang bilang bakal nerima apapun sikap aku, kamu gak pernah mempermasalahin apa yang aku lakuin. Tapi sekarang kenapa?”
“Saras, aku mau sendiri.”
Saras tidak menanggapi Gema, ia kembali berbicara tanpa peduli tatapan memohon dari Gema. “Oh aku tau, kamu berubah karna Arisha kan? Kamu gak suka sama dia kan, Ge!”
“Berhenti bersikap anak kecil, Saras. Sementara ini jangan temui aku sebelum aku yang temui kamu. Sebelum itu jangan buat kesalahan yang bisa buat aku pergi ninggalin kamu,” tegas Gema melangkah pergi meninggalkan Saras yang terdiam dengan memandang kepergiannya.
*****
Arisha meremas sisi brankar ketika kakinya terasa sakit saat Arthur memasang perban untuk kakinya. Untunglah pesediaan perban untuk luka memar yang Arisha alami masih tersedia. Dengan hati-hati Arthur membalut perban tersebut pada kaki Arisha dengan sesekali gadis itu meringis kecil.
“Lo yakin gak perlu ke rumah sakit?” tanya Arthur yang berdiri setelah selesai melakukannya.
“Enggak, gak usah, Kak. Gak terlalu sakit kayak tadi kok,” jawab Arisha.
Arthur mengangguk. “Kalo nanti lo ngerasa sakit lagi, lo harus ke rumah sakit ya? Gue takut itu luka dalam.”
“Iya, Kak. Thanks,” ujar Arisha.
“Lo, gue tinggal dulu ya? Sebenarnya tadi gue mau ke ruang guru, tapi gue ngeliat lo—”
“Iya, gue gak kenapa-kenapa kok,” potong Arisha yang hanya dibalas anggukan sebelum Arthur meninggalkan Arisha seorang diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stop It, Darka! [END]
Fiksi Remaja"Seharusnya lo mati, Arisha. Kenapa lo harus hidup setelah buat orang lain koma?" Sadis, kejam, dan penuh amarah, kalimat yang tepat untuk menggambarkan seorang Darka. Tidak ada yang memiliki keberanian untuk mendekati laki-laki itu. Bahkan, sekada...
![Stop It, Darka! [END]](https://img.wattpad.com/cover/251602222-64-k587073.jpg)