P A R T 4 5

30.1K 2K 130
                                        

“Lo suka sama Arisha?”

Rey yang sedang memandang Arisha melalui jendela ruang rawatnya sontak menoleh ke arah Remon. Namun bukannya menjawab, Rey justru duduk diikuti Remon yang juga duduk di sebelahnya.

Thanks, Rey,” ucap Remon setelah berdiam cukup lama. Hal itu membuat Rey menoleh ke arahnya.

“Untuk?” tanya Rey.

“Gue tau lo yang selalu ada di sisi Arisha saat ini, jangan kecewain dia, ya?”

Rey mengerutkan dahi, apakah sebelumnya kepala Remon terbentur sesuatu? Rey tertawa seraya menjawab. “Maksud lo apa sih? Aneh tau gak?”

“Arisha adik gue.” Rey membulatkan matanya, Remon yang menyadari keterkejutannya kembali berbicara. “Adik kandung gue.”

“Adik lo? Sebenernya apa maksud lo sih? Jelas-jelas waktu itu lo—”

“Gue juga baru tau kalo dia adik gue,” potong Remon.

“T-tapi—”

“Jaga dia baik-baik, atau lo habis di tangan gue.” Remon menepuk bahunya pelan lalu bangkit pergi begitu saja. Meninggalkan Rey yang hanya dapat menatap kepergiannya dengan kebingungan.

*****

Dengan perdebatan yang cukup panjang dengan Remon, akhirnya Arisha dapat kembali bersekolah. Walaupun izin sehari, Arisha merasa tidak nyaman jika hanya mengurung diri di rumah. Arisha yang berjalan menunduk tidak sadar bahwa seseorang dari arah berlawanan sedang berjalan ke arahnya.

Bruk!

“Eh, Ra. Sorry, tadi gue gak ngeliat,” ucap Arisha karena tidak sengaja menubruk tubuh Amara hingga tumpukan buku terjatuh dari genggamannya. Arisha segera berjongkok dan membantu menata bukunya kembali.

“Santai aja, Sha. Gue nya juga kok yang buru-buru tadi,” balas Amara.

Arisha tersenyum membalasnya. Tatapan Arisha terkunci pada pergelangan tangan Amara yang terlihat lebam, Arisha sontak menarik lengannya hingga memperlihatkannya dengan jelas.

“Ra, ini—-”

Amara segera menarik lengannya, dan menutupi lebam tersebut dengan almamater yang ia kenakan. “G-gue duluan ya, Sha.”

“Amara!” teriak Arisha yang berdiri dan menatap Amara yang mempercepat langkahnya.

Ini pertama kalinya Amara bersikap aneh. Tidak hanya itu, gadis itu bahkan terdapat luka di tangannya. Arisha yakin, Amara sedang tidak baik-baik saja.

Arisha tersentak ketika Celline menepuk bahunya. “Kenapa lo diem di sini?”

“E-enggak kok. Ini gue mau ke kelas,” jawab Arisha.

Celline menyodorkan pakaian olahraga pada Arisha. “Udah gue bawain baju lo. Ayok ganti, yang lain udah nunggu di lapangan.”

Arisha mengangguk dan melangkah pergi menuju toilet bersama Celline di sisinya.
Tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah berganti pakaian, Arisha merapikan rambut dengan bercermin, kehadiran Saras di tengah-tengah mereka mengalihkan pandangan Arisha dan juga Celline.

“Gak ada capek-capeknya lo ya jadi pusat perhatian sekolah? Darka, Remon, Rey. Sebenernya siapa sih yang lo pilih? Oh, atau jangan-jangan semuanya?” tanya Saras pada Arisha.

“Lo sendiri gimana? Hubungan lo baik-baik aja sama Arthur? Tapi kayaknya, Arthur udah bosen deh sama lo. Tinggal tunggu aja Arthur yang ninggalin lo,” balas Celline karena akhir-akhir ini keduanya sering bertengkar entah di koridor atau di kantin. Seluruh siswa tentu tahu akan hal itu mengingat betapa populernya keduanya.

Stop It, Darka! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang