Tubuh Rey seolah membeku tepat saat genggaman tangannya tertaut dengan Arisha. Keduanya saling bertatapan sesaat, sampai akhirnya Rey tersadar ketika Arisha mengeratkan genggamannya.
“Udah liat Arisha kan? Udah sana pulang.”
Mereka semua sontak menoleh ke arah Remon yang tanpa ragu mengusir Darka. Melihat Darka yang melangkah mendekati Arisha, Remon lebih dulu menghalanginya membuat Arisha berdiri di belakang tubuhnya. Sedangkan Arisha hanya diam ketika tatapannya bertubrukan dengan Darka.
“Jalan sendiri, atau harus gue seret?” tanya Remon pada Darka.
“Gue mau ngomong sama Arisha,” balas Darka kembali melangkah namun Remon menahan tubuhnya lalu berbisik.
“Gak akan gue biarin lo ada di dekat Arisha,” bisik Remon.
Kedua laki-laki itu saling menatap seolah mengibarkan bendera peperangan. Sampai akhirnya Remon kembali bersuara.
“Rey, bawa Arisha masuk,” ucap Remon.
Walaupun tidak memberikan jawaban Rey tetap membawa Arisha kembali masuk ke dalam rumah. Sedangkan Darka hanya dapat diam melihat kepergiannya.
“Ehm, gue duluan ya? Nyokap gue udah nelponin dari tadi,” pamit Celline.
Remon mengangguk. “Thanks udah jenguk Arisha.”
“Sama-sama. Ra, gue buru-buru jadi gue pulang duluan gapapa kan?”
“Gapapa kok, hati-hati,” kata Amara tersenyum tipis.
Melihat kepergian Celline, Remon kembali memandang Darka yang masih berdiam diri.
“Buruan balik. Lo emang harus gue—” Perkataan Remon terhenti saat Amara menahan lengannya ketika Remon ingin mendekati Darka.
“Leo,” ucap Amara menghentikannya. Kali ini Amara yang berbicara pada Darka.
“Darka, sekarang lo pulang dulu ya? Gue harap lo ngerti.”
Darka mengangguk hingga tak lama Darka pergi tanpa berniat mengatakan apapun.
“Leo.” Langkah Remon terhenti saat laki-laki itu ingin berjalan masuk dan berbalik memandang Amara. “Lo gak bisa bersikap kayak gini. Arisha yang punya hak buat putusin sendiri siapa yang mau dia temuin.”
“Gue kakaknya,” tegas Remon.
“Semuanya masih bisa dibicarain baik-baik. Gue emang tau gimana sikap kasarnya Darka ke Arisha, tapi dia mencoba memperbaiki kan? Lo gak bisa cegah Darka terus-terusan, Leo.”
“Amara.” Gadis itu menunggu ucapan Remon. “Gak usah peduliin hubungan orang lain. Hubungan kita jauh lebih penting daripada membahas orang yang jelas-jelas brengsek.”
Amara dibuat bungkam karenanya. Ya, lagi-lagi Amara kalah telak jika berdebat dengan Remon.
“Selama ini gue selalu ngelakuin apa yang menurut gue benar, dan itu pun berlaku buat hubungan kita. Entah lo yang masih anggap hubungan ini masih ada atau enggak, gue gak peduli,” tekan Remon karena laki-laki itu yakin bahwa Amara tidak akan pernah mengubah keputusannya mengenai hubungannya.
“Gue gak akan pernah biarin milik gue terluka, atau bahkan pergi dari hidup gue. Because you're mine, Amara.”
*****
“Maaf, Rey,” ucap Arisha saat mereka berada di pinggir kolam renang belakang rumahnya.
“Maaf?” tanya Rey menatapnya bingung.
“Maaf karna gara-gara gue lo selalu terluka.”
Kali ini keduanya saling bertatapan. Sungguh, Rey tidak pernah menginginkan permintaan maaf dari Arisha. Rey hanya menginginkan Arisha selalu baik-baik saja, itu lebih dari cukup.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stop It, Darka! [END]
Teen Fiction"Seharusnya lo mati, Arisha. Kenapa lo harus hidup setelah buat orang lain koma?" Sadis, kejam, dan penuh amarah, kalimat yang tepat untuk menggambarkan seorang Darka. Tidak ada yang memiliki keberanian untuk mendekati laki-laki itu. Bahkan, sekada...
![Stop It, Darka! [END]](https://img.wattpad.com/cover/251602222-64-k587073.jpg)