Makin kesini Darka makin jahat nih😭 Hujat bareng-bareng yuk😭😭
Klik bintang dulu! Okey, happy reading❤❤
*****
Seyna Natasya
Nama yang terukir dibalik foto yang berada digenggamannya. Darka memejamkan matanya kuat berharap apa yang ia lihat hanyalah sebuah mimpi. Tetapi tidak, kejadian buruk ini merupakan hal nyata yang harus ia terima. Dengan adanya gelang milik Seyna di lokasi kejadian, pihak kepolisian meng-klaim jasad tersebut adalah milik Seyna karena tubuhnya sudah hangus terbakar dan hanya gelang tersebut yang tersisa. Kasus itu pun ditutup sebagai bunuh diri karena bukti yang tidak mencukupi.
Mendengar kenyataan itu, kemarahan Darka semakin kalut. Kedua orang tuanya bahkan kesulitan mengurus Darka. Terlebih, bagaimana kondisi laki-laki itu yang dapat dikatakan jauh dari kata baik-baik saja, dan dalam dua hari ini Darka hanya mengurung dirinya di dalam kamar seorang diri.
Bayang-bayang kobaran api masih berada di memorinya. Bayangan di mana, keterlambatan dirinya yang berakhir kematian untuk Seyna.
“Maaf, Sey ... maafin gue,” lirih Darka menggenggam kuat lembar foto tersebut.
Disisi lain Arisha berdiri menatap pintu besar di hadapannya. Arisha berada tepat di halaman rumah Darka. Bagaimanapun ia harus membuat Darka percaya kepadanya terlebih dahulu. Dengan ragu Arisha menekan bel hingga tidak lama, seseorang membukakan pintu. Namun tatapan yang ia dapatkan adalah kebencian.
“Buat apa kamu ke sini? Kamu gak malu walaupun sudah membunuh Seyna?”
Tubuh Arisha bergetar sesaat sebelum tersadar akan apa yang diucapkan Satya--ayah Darka kepadanya.
“A-apa—”
“Jadi, itu sebabnya Darka selalu menolak perjodohannya dengan kamu?”
“Om, i-itu gak bener,” ucap Arisha dengan tatapan sendu.
“Ngapain lo di sini?” ketus Darka yang tiba-tiba berada di hadapannya.
Arisha segera mendekati Darka, menyentuh lengannya seraya memohon. “Darka, percaya sama gue. Kali ini aja gue mohon percaya sama gue. Seyna—”
Plak!
Seseorang menarik tubuhnya dan tiba-tiba menamparnya, Arisha menyentuh pipinya yang terasa panas. Kali ini Liana pun menatapnya dengan sorot kebencian.
“Buat apa kamu di sini? Pergi dari rumah saya! Saya gak mau rumah saya kotor karna kehadiran kamu, Arisha!”
“T-Tante aku—”
“Satu lagi, beri tahu orang tua kamu kalau perjodohan kalian batal. Saya gak mau mempunyai menantu seorang pembunuh,” tegasnya memandang Arisha dengan tajam lalu segera masuk ke dalam rumahnya meninggalkan mereka berdua.
Yang ditakutkan Arisha rupanya terjadi dalam waktu singkat. Orang tua? Apakah Arisha dapat mengatakan jika ia masih memiliki orang tua?
Faktanya, Arisha hanya sendirian.
Padahal, harapannya akan memiliki orang tua kedua sudah pupus begitu saja. Bahkan, kini mereka memandangnya dengan penuh kebencian. Inikah yang disebut takdir?
Apakah ini yang dimaksud Darka akan mengusir dirinya dengan caranya sendiri? Jika iya, hari ini Darka menepati perkataannya. Namun, mengapa dengan cara yang sangat menyakitkan seperti ini?
Arisha menundukkan kepalanya sejenak bersamaan tetesan air mata yang terjatuh, Arisha mengangkat kepalanya memandang Darka dengan tatapan nanar. Perlahan ia mendekat pada Darka hingga tatapan mereka bertubrukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stop It, Darka! [END]
Teen Fiction"Seharusnya lo mati, Arisha. Kenapa lo harus hidup setelah buat orang lain koma?" Sadis, kejam, dan penuh amarah, kalimat yang tepat untuk menggambarkan seorang Darka. Tidak ada yang memiliki keberanian untuk mendekati laki-laki itu. Bahkan, sekada...
![Stop It, Darka! [END]](https://img.wattpad.com/cover/251602222-64-k587073.jpg)