E K S T R A P A R T III

61.5K 1.7K 44
                                        

Setelah satu bulan lamanya, besok adalah hari pertama bagi Arisha menginjakkan kaki di kelas dua belas. Tentunya tanpa Darka dan juga Rey. Ya, hari itu Rey benar-benar pergi bersama Tantenya. Sejak saat itu, Arisha hanya dapat berkomunikasi pada Tante Rey mengenai kondisi laki-laki itu. Menyusul Rey? Tidak, Arisha tidak dapat melakukan hal itu karena dokter menyarankan Arisha untuk tidak membahayakan dirinya agar tidak mengalami hal yang fatal.

Arisha mengalihkan pandangan pada foto dirinya yang bersama Seyna dan Darka. Tidak ada kabar sama sekali mengenai keduanya. Di manapun mereka, Arisha berharap kondisinya baik-baik saja.

Pintu kamar Arisha terbuka hingga memperlihatkan Remon yang memasuki kamarnya dan memberikan sebuah pin kepadanya. Lebih tepatnya, itu adalah pin yang wajib digunakan pada almamater para senior di sekolahnya.

“Besok jangan lupa dipake, lo gak mau kan hari pertama jadi senior malah kena hukuman?” tanya Remon pada Arisha yang duduk di kursi belajarnya.

“Seharusnya gue yang ngomong gitu. Selama ini kan lo yang sering dihukum,” sarkas Arisha membenarkan.

Remon terkekeh. “Ayok turun, nyokap bokap udah nungguin lo di bawah.”

Ah, benar. Kedua orang tuanya baru datang siang ini. Arisha mengangguk lalu meletakkan pin tersebut di atas meja sebelum pergi dari sana, mengikuti Remon yang berjalan terlebih dahulu di depannya.

“Nah, itu mereka sudah turun,” ujar Ferdinan saat menyadari kedua anaknya berjalan ke arahnya sebelum bergabung bersamanya.

“Hai, Arisha. Papa kamu bilang, ini makanan favorite kamu kan?” tanya Lisa a.k.a ibu tirinya—menunjuk ayam bakar yang sudah disajikan di meja makan. “Ini mama yang buat loh. Ayok cobain.”

Arisha hanya terdiam mengalihkan tatapan pada papanya. Mereka semua tidak ada yang bersuara mengingat hubungan Arisha dan Lisa masih sangat canggung. Arisha berdeham sejenak sebelum mencairkan suasana.

“Aku mau, Tante—ehm maksud aku, Ma,” ucap Arisha ragu.

Lisa tersenyum, kini ia menyajikan makanan tersebut pada Arisha seraya berbicara. “Kamu gak harus panggil Mama kok, Arisha. Panggil apa aja, asal kamu nyaman.”

“Oh iya, gimana sekolah kamu, Leo? Ingat, sekarang kamu sudah kelas akhir. Jangan buat masalah yang enggak-enggak,” ucap Lisa pada putranya.

“Yaudah nanti aku buat masalah yang iya-iya,” jawab Remon.

“Leo,” geram Lisa membuat Remon terkekeh.

“Kemungkinan besok Papa harus pergi lagi, atau kalian mau pindah sekolah aja biar ikut sama kita di sana?”

“Gak usah, Pa. Nanggung juga kalo harus pindah sekolah," balas Arisha.

Remon menyetujui perkataan Arisha. “Arisha bener, Pa. Biarin kita di sini, aku pasti jaga Arisha.”

“Tapi kalo ada apa-apa kalian harus segera hubungin Mama ya?” ucap Lisa.

“Iya, Ma,” jawab Remon.

“Kamu gimana, Arisha? Ada kendala di sekolah? Kalo ada bilang sama Papa,” kata Ferdinan.

Arisha menggeleng. “Gak ada, Pa.”

“Hubungan kamu dan Darka gimana? Katanya Mama kamu yang akan mengurus perjodohan kalian. Perjodohannya dilanjutkan kan?”

Pergerakan Arisha terhenti, begitupun Remon yang saat ini menoleh ke arah Arisha. Gadis itu hanya diam menatap lurus tanpa memandang siapapun. Lagi pula, apa yang harus Arisha katakan? Mengenai perjodohannya, entahlah. Arisha tidak memikirkan hal seperti itu untuk saat ini.

“Arisha—”

“A-aku ke kamar dulu, Pa,” potong Arisha segera bangkit dari duduknya dan pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya meninggalkan mereka semua dengan keterdiamannya.

*****

Deru napas Arisha tidak beraturan karena telat sampai ke sekolah. Untunglah, lima menit sebelum gerbang ditutup Arisha sudah tiba di sekolah. Ini karena Remon yang tidak membangunkannya. Padahal, biasanya laki-laki itu membangunkannya bahkan berangkat bersama.

“Arisha!”

Arisha yang masih mengatur napasnya menatap lurus ke arah Amara yang berlari ke arahnya.

“Lo baru dateng? Kesiangan?” tanya Amara.

“Iya, gak biasanya Remon—” Arisha menghentikan ucapannya, menatap Amara dengan curiga. “Lo berangkat bareng Remon?”

Amara menggaruk tengkuknya. “I-iya gimana, dia nungguin dari jam lima. Lo bayangin aja, Sha!”

“Jam lima? Gila, tuh cowok kerasukan apaan sih?” tanya Arisha pada dirinya sendiri, lagi-lagi memandang Amara dengan tatapan menyelidik.

“Lo balikan kan sama Remon?”

Amara menggeleng kuat, kali ini ia menarik Arisha agar berjalan bersamanya. “Kita gak mungkin balikan, Sha.”

“Kenapa gak mungkin?”

“I-iya karna—”

“Lo berdua gue cariin dari tadi tau gak?” celetuk Celline yang tiba-tiba menghadang jalannya. “Ke papan mading yuk? Pembagian kelasnya udah ada di sana.”

Tanpa menunggu apapun ketiganya menuju mading, mencari namanya diantara nama puluhan siswa lainnya. Pada deretan nama dua belas ipa dua, disanalah Arisha menemukan namanya.

“Ah, akhirnya kita bertiga sekelas lagi!” seru Celline setelah menyadari ketiganya berada di kelas yang sama.

“Tapi gak enaknya kita harus naik turun tangga,” keluh Amara karena letak kelas yang berada di lantai tiga.

“Udahlah, nanti juga terbiasa,” jawab Celline hingga tidak lama ia langsung menarik Amara untuk pergi bersamanya. “Eh Ra, lo ikut gue.”

“Sha, kita duluan ya!” teriak Celline yang sudah menjauh.

Arisha menggeleng menatap kedua temannya. Tidak terasa ia sudah berada di kelas akhir, rasanya baru kemarin Arisha menginjakkan kakinya di sekolah ini sebagai murid baru.

Arisha membalikkan tubuhnya berniat kembali berjalan. Namun, baru beberapa melangkah, gadis itu berhenti tepat di tengah koridor.

Pandangannya lurus, tatapannya sangat dalam saat kedua netra itu bertemu setelah sekian lamanya. Sampai akhirnya, Arisha menyunggingkan senyuman saat laki-laki itu kembali melangkah untuk mendekatinya.

“Rey."

• • •

Kelanjutan part ini akan ada di squel ya, siapa nih yg kemarin gak sabar nunggu squel?

Fyi, cerita ini akan aku republish karna akan direvisi. Beruntunglah kalian yang sudah membaca cerita ini lebih dulu😂 Tapi aku mohon untuk tidak memberi spoiler isi cerita ini ya. Baik di squel, maupun di cerita ini karna semua part akan aku publish ulang setelah revisi.

Squel sudah aku publish, bisa cek profil aku ya❤

See you next story❤

Stop It, Darka! [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang