P A R T 1 7

34K 2.5K 84
                                        

Dari belakang tubuhnya, seseorang menepuk bahu Arthur hingga membuatnya menoleh ke arahnya. Darka, dengan tatapan datarnya ia memandang Arthur yang menahan lengan Arisha agar tidak tumbang.

“Ngapain lo di sini?” tanya Darka.

“Bukan urusan lo,” jawab Arthur singkat lalu kembali menatap Arisha kali ini berniat ingin merangkulnya.

Darka menarik Arthur membuat rangkulannya pada Arisha terlepas. “Gue juga gak peduli apa urusan lo. Maksud gue, buat apa lo bawa cewek itu ke sini?”

“Kenapa? Lo punya masalah? Gak ada larangan juga buat Arisha masuk ke sini kan?” Arthur berbalik tanya.

“Masalahnya adalah apa lo gak bisa liat kalo cewek kayak dia gak biasa minum?”

“G-gue—”

“Ger, lima gelas,” ucap Darka pada pelayan bar yang bernama Gery tanpa mengalihkan pandangan dari Arthur.

“Siap, boy!”

“Gue kenal cewek itu lebih baik daripada lo. Faktanya, Arisha gak biasa minum sedikit,” ujar Darka tersenyum miring melirik ke arah Arisha sejenak sebelum kembali menatap Arthur.

“Paham kan, maksud gue? Pergi sana,” lanjut Darka.

Arthur mengerutkan dahi. “Maksud lo? Gak biasa minum sedikit? Jelas-jelas Arisha—”

“Pergi ke rumah lo, atau pergi ke rumah sakit?”

Laki-laki itu terdiam meneguk salivanya kasar, ia sangat paham apa arti dari ucapan Darka. Terlebih, tatapan yang diberikan Darka kepadanya sangat menyeramkan. Arthur menatap Arisha sejenak sebelum melangkah pergi meninggalkan keduanya.

Darka menarik Arisha agar gadis itu kembali duduk, Arisha masih sadar dengan apa yang terjadi namun kepalanya terasa pening hingga tidak ingin berbicara selain menyentuh kepalanya agar rasa sakit yang ia rasakan segera menghilang.

“Cewek lo, bro?” tanya Gery meletakkan gelas dan juga botol minuman di meja bar. Darka tidak menjawab, ia justru menuangkan minuman itu ke dalam gelas lalu memberikannya pada Arisha.

“Minum.” Darka menggeser gelas ke arah gadis itu.

Arisha menoleh ke arah Darka. “Lo—”

Perkataannya terhenti karna kedatangan Saka yang menepuk bahu Darka dari belakang di susul Rey yang menghampiri mereka.

“Woy! Gue cariin ke mana-mana gak taunya berduaan sama—loh, Arisha?” Saka cukup terkejut karena gadis itu adalah Arisha, dan juga tidak biasanya Darka berbincang dengan seorang gadis di tempat seperti ini.

Rey yang menyadari minuman tersebut membulatkan matanya. “Ka, lo sadar? Minuman itu kadar alkoholnya paling tinggi!”

Darka berdecak kini memutar tubuhnya agar dapat berhadapan dengan kedua temannya.

“Gak usah lebay, dan gak usah ikut campur urusan gue.”

“Tapi itu—”

“Mana Gema?” Darka mengalihkan pembicaraan.

“Gema gak bisa dateng, ceweknya lagi ngamuk,” balas Saka.

Stop It, Darka! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang