P A R T 1 2

35.9K 2.7K 52
                                        

Darka menuruni anak tangga sembari merapikan rambutnya, laki-laki itu hendak turun untuk sarapan ia mengerutkan dahi ketika melihat ayahnya yang belum berangkat ke kantor. Ini adalah hari terakhir Darka di skors, Darka berpikir akan bersantai di rumah sebelum kembali ke sekolah seperti biasanya.

"Papa belum berangkat?" tanya Darka menarik kursi lalu mengambil roti yang diberikan Liana.

"Sebentar lagi. Besok jangan lupa kamu kembali ke sekolah, dan jangan buat masalah lagi," ucap Satya.

"Oh iya, kamu udah jenguk Arisha 'an? Gimana keadaannya sekarang?" tanya Liana tetapi Darka tidak memahami ucapannya.

"Jenguk?" Darka mengerutkan dahinya.

"Iya, Arisha masuk rumah sakit dari-tunggu, jangan bilang kamu gak tau kalo Arisha sakit?"

Darka mengangguk menanggapi Liana. "Iya, gak tau."

Kini Satya menatap putranya yang sama sekali tidak terlihat khawatir. "Darka, Arisha itu tunangan kamu. Seharusnya kamu menjaga dia."

"Paling juga pura-pura," ujar Darka mengunyah rotinya dengan santai.

"Darka, Papa lagi gak bercanda, sekarang siap-siap, biar Papa anter kamu ke rumah sakit."

"Kalo Papa sama Mama mau jenguk, ya jenguk aja. Gak usah ngajak aku," ketus Darka bangkit dari duduknya.

"Kamu gak denger ucapan Papa? Cepet siap-siap, Papa tunggu di mobil," ucapnya meninggalkan ruang makan tanpa ingin mendengar penolakan dari Darka.

Mendengar itu dengan perasaan kesal Darka menaiki tangga menuju kamarnya.

Ya, ucapan Satya tidak mampu dibantah oleh Darka.

*****


Arisha mengubah posisinya menjadi duduk, ia berniat mengambil gelas karena terasa haus. Namun pandangannya teralihkan pada seseorang yang membuka pintu, dia adalah Darka. Tanpa mengatakan apapun Darka melempar buket bunga yang ia bawa ke arah Arisha dan menatapnya kesal.

"Bisa gak sih lo gak usah caper? Lo pikir, lo penting buat gue?"

"D-Darka-" Darka kembali berbicara. Namun Arisha tidak mengalihkan pandangan dari bunga yang berada di genggamannya.

"Lain kali gak usah ngasih tau orang tua gue kalo lo sakit, gak guna tau gak?!"

Darka berdecak karena sejak tadi ia berbicara Arisha tidak memandangnya sedikitpun. "Heh! Kalo orang lagi ngomong itu-"

Kali ini Arisha memandangnya, namun hidungnya terlihat merah. "Lo, kenapa lo bawa bunga ke sini--hatchii!"

"G-gue kan-hatchi! Gue kan alergi bunga, lo lupa hatchii!" Arisha menutup hidungnya dengan kedua tangannya, hidungnya terasa gatal karena serbuk bunga yang masuk ke hidungnya. Arisha membuang bunga itu ke lantai sebelum kembali bersin.

"Hachiii!"

"Sengaja kok gue bawain bunga." Darka memajukan wajahnya menatap Arisha dari dekat.

"Biar lo enggak cepet sembuh."

Haruskah Darka melakukan ini? Arisha sempat mengira jika Darka lupa bahwa dirinya alergi pada bunga. Namun ternyata laki-laki itu sengaja melakukannya.

Stop It, Darka! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang