"Boleh gak gue ngasih saran buat lo? Iya, boleh," kata Saka pada Rey namun tak lama ia justru menjawab dirinya sendiri. Ya, kewarasan Saka sepertinya sudah semakin menipis.
Gema hanya mendengus mendengarnya, ia hanya menunggu kelanjutan dari ucapannya yang tertunda.
"Gini ya, wahai Rey Feliano Altezza yang terhormat. Setelah Remon, lo jangan ikut-ikutan lah nyari masalah sama Darka. Lebih baik lo nyari jodoh aja bareng gue, lebih bermanfaat. Gue tau lo bego, tapi ya jangan tambah bego dong!"
"Arghh!" ringis Saka karena Gema memukul belakang kepalanya dengan sengaja. Walaupun begitu Rey hanya bersadar sembari menikmati semilir angin di rooftop.
"Kebanyakan basa-basi lo, kambing! Buruan ngomong!" ketus Gema.
Saka mendelik, di antara mereka memang hanya Gema yang peka dengan keadaan. Saka kembali menatap Rey, kali ini dengan pandangan serius.
"Akhir-akhir ini lo itu kayak bukan Rey banget. Sebenernya kenapa sih? Karna Arisha?"
Rey hanya menatap Saka tanpa berniat menjawab.
"Eh bangsat jawab, tatapan lo gak bakal bikin gue jatuh cinta ya. Lo pikir gue cowok apaan?" kata Saka tak masuk akal.
"Gue cuma mau jaga Arisha. Emangnya salah? Setelah lo liat semua perbuatan Darka ke Arisha, lo masih dukung dia? Ya, gue emang ngasih kesempatan buat Darka dapetin maaf dari Arisha. Tapi bukan artinya dia punya hak buat larang gue berhubungan sama Arisha," terang Rey.
Setelah dipikir-pikir, perkataan Rey memang ada benarnya. Darka dan Rey, kedua laki-laki itu memiliki cara tersendiri memikat perempuan. Bedanya, Rey selalu menggunakan perasaaan, dan Darka selalu menggunakan kekerasan. Sangat bertolak belakang.
"Kita semua tau gimana Darka, Rey. Di sini harusnya lo yang ngalah, dan kita tau sendiri kalau Darka punya rencana tersendiri yang kita gak tau," ujar Gema.
"Padahal Darka yang paling benci denger tentang cewek, tapi sekarang dia segitunya cuma karna Arisha. Gak habis pikir gue," ucap Saka menggelengkan kepalanya.
"Gue cabut." Rey bangkit dari duduknya dan segera pergi begitu saja entah ke mana.
*****
Arisha dan kedua temannya berada di kantin, gadis itu mengaduk minuman tak bersemangat. Sampai akhirnyania tersentak ketika Amara mengajaknya berbicara.
"Sha, are you okey?"
Arisha mengangguk. "Okey, kok."
"Gue kira lo gak bakal masuk hari ini," ucap Celline.
"Pasti masuk, sebentar lagi kita kan ujian," balas Arisha.
"Sumpah, kemarin tuh acaranya seru banget! Tapi gue sebenernya curiga sih, kenapa tiba-tiba Arisha bisa jatuh—"
"Arisha."
Perkataan Celline terhenti karena kehadiran Rey yang berada di dekat mereka. Arisha membalas tatapan Rey dengan penuh tanya.
"Iya?" tanya Arisha menaikkan sebelah alisnya.
"Ada yang mau gue bicarain sama lo, bisa ikut gue sebentar?"
Arisha memandang sejenak ke arah Celline dan Amara, ketika dibalas anggukan Arisha menyetujui ucapannya.
"Okey," kata Arisha yang berdiri dan berjalan mengikuti Rey dari belakang.
Sepanjang koridor Arisha bertanya-tanya tentang apa yang ingin dibicarakan Rey dengannya. Tidak biasanya Rey memintanya untuk berbicara seperti ini, apalagi hanya berdua saja. Selama itu pula Rey hanya diam, sepertinya yang akan mereka bicarakan adalah hal yang cukup penting.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stop It, Darka! [END]
Teen Fiction"Seharusnya lo mati, Arisha. Kenapa lo harus hidup setelah buat orang lain koma?" Sadis, kejam, dan penuh amarah, kalimat yang tepat untuk menggambarkan seorang Darka. Tidak ada yang memiliki keberanian untuk mendekati laki-laki itu. Bahkan, sekada...
![Stop It, Darka! [END]](https://img.wattpad.com/cover/251602222-64-k587073.jpg)