P A R T 6 0

43.8K 1.9K 67
                                        

"Jadi, Seyna anak kandung Tante?" tanya Liana yang masih terkejut dengan penuturan Arisha.

"Kamu tau ini semua dari mana, Arisha? Dan kapan kamu temuin ini? Selama ini kami berusaha mencari dia tapi tidak ada hasil."

"Maaf Om, Tante. Aku selidiki ini sejak satu tahun yang lalu, sejak aku berteman sama Darka dan Seyna. Aku, dan Seyna dekat bahkan seperti kakak beradik. Selama ini ... Seyna hidup sendiri," tutur Arisha memandang keduanya ragu.

Entah harus memberikan respon seperti apa, ini masih seperti hal yang mustahil bagi mereka.

"Apa Tante punya anak kembar?" tanya Arisha ragu. Saat ini Arisha berada di ruang rawat Seyna bersama kedua orang tua Darka. Liana yang mengusap rambut Seyna menegakkan tubuhnya kembali memandang Arisha.

"Kembar? K-kamu tau dari mana, Arisha?" tanya Satya-ayah Darka.

"Ya, tapi adik kembarnya tidak bisa diselamatkan setelah beberapa jam dilahirkan. Kenapa kamu bertanya seperti itu, Arisha?"

"Tante, sebenernya saat aku dekat dengan Seyna. Dia memang mencari saudara kembarnya," ujar Arisha melanggar janjinya pada Seyna bahwa tidak mengatakan hal ini kepada siapapun.

"Selama ini Seyna hidup sendirian, tapi setelah aku mulai dekat sama Seyna dia pernah bilang kalo dia ngeliat seseorang yang berwajah mirip. Tapi, Seyna masih mikir kalo itu cuma halusinasinya aja, Karna itu Seyna tetap jalanin hidup seperti biasanya dan gak pernah nyari tau tentang dirinya yang sebenarnya."

"Seyna tinggal di panti asuhan, dan karna pemilik panti sudah meninggal beliau memberikan rumahnya untuk Seyna. Itu karna Seyna yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri," lanjut Arisha panjang lebar.

Apa yang dibicarakan Seyna kepadanya dulu, Arisha dapat melihat kebenarannya sekarang. Kebenaran bahwa gadis itu memiliki saudara kembar.

"Aku gak tau kalo sejak kecelakaan itu Seyna masih belum sadar, karna selama ini ada seseorang yang mirip Seyna di sekolah, dia juga bilang kalo dia itu Seyna."

Mendengar itu Liana segera memeriksa belakang telinga gadis yang terbaring. Menunjukkan tanda lahir yang berupa garis di sana, Liana yakin itu memang putrinya.

"I-ini Seyna. Anak saya punya tanda lahir di telinganya," ucap Liana.

"Kalo ini Seyna—"

"Itu berarti dia adik kembar Seyna," potong Satya. "Lalu, di mana dia?"

"Maaf Om, aku gak tau. Tapi tadi aku jelas ngeliat dia ada di rumah sakit ini," balas Arisha.

Satya mengangguk mengerti. "Terima kasih, Arisha. Saya akan mencarinya sampai ketemu, kamu tidak perlu khawatir."

"T-tapi kenapa kalian bisa kehilangan mereka?" tanya Arisha.

"Adik kembarnya dinyatakan meninggal, namun jasadnya dibawa oleh neneknya ke luar kota. Namun, beliau mengalami kecelakaan, mobil yang dikendarai hangus terbakar. Mungkin Tuhan memberikan mukjizat tanpa kita ketahui. Dan, adik Darka yang masih hidup hilang saat kami berlibur di Bali. Saya sudah mencarinya bertahun-tahun tapi seperti yang kamu tahu, itu semua gak ada hasil," ujar Satya menjelaskan secara rinci.

"Om, Tante, maaf. Maaf karna aku lancang ikut campur urusan—"

"Enggak. Enggak, Arisha. Kami justru berterima kasih, kami sangat berterima kasih," ucap Liana berlinang air mata.

Tangannya mengusap pipi tirus putrinya yang masih memejamkan matanya. Begitupun Satya yang juga menghampiri putrinya. "Dia Neysa. Adiknya bernama Meysa. Mama masih gak percaya bisa ketemu kamu lagi, Sayang."

Stop It, Darka! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang