Arisha memejamkan matanya, kepalanya menunduk bersamaan dengan tumpukan buku yang jatuh dari tangannya. Wajah, dan seragamnya basah hingga memperlihatkan bagian dalam yang digunakan gadis itu. Arisha mendongak hingga bertatapan dengan Darka yang dengan sengaja menyiramnya dengan minuman yang berada di genggaman Darka. Darka mengikis jarak antara mereka, dengan tersenyum tangannya terulur menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah gadis itu.
Rey, dan yang lainnya tampak terkejut dengan perlakuan Darka. Pasalnya, ini pertama kalinya Darka bersikap yang tidak biasa pada seorang gadis. Sebelumnya, Darka tidak pernah berurusan dengan gadis manapun.
“Waw, ternyata lo lebih menarik dalam penampilan kayak gini,” ucap Darka tersenyum miring.
“Gue jadi penasaran, berapa banyak cowok yang udah ngerasain tubuh lo.”
Plak.
Saka yang melihat Darka mengepalkan kedua tangannya setelah mendapat tamparan dari Arisha segera berdiri mencegah Darka yang berniat mendekati Arisha.
“Ka, jangan,” ucap Saka memberi isyarat pada Rey untuk meminta temannya yang lain meninggalkan mereka karena memang ruangan itu dijadikan markas oleh Darka dan para senior. Rey yang memahami itu segera pergi dan diikuti yang lain. Kecuali Saka dan Remon yang masih berada di sana. Darka dan Arisha saling beradu tatap, seperti ada kobaran api dikedua mata itu. Tidak tahan, Darka menyentak Saka dan beralih mencengkeram kuat kedua bahu gadis itu.
“Lancang,” desis Darka dan tanpa menunggu Darka mendorong tubuh Arisha dengan kasar hingga membuat gadis itu jatuh tersungkur ke lantai.
Remon dan Saka membulatkan matanya tidak percaya dengan perlakuan kasar Darka. Arisha menggigit bibir bawahnya menahan sakit karena ia menggunakan lengannya untuk menumpu tubuhnya.
“Ka, lo gila!” pekik Remon.
“Lo gak bisa kasar sama cewek, Ka!” Saka mendorong Darka agar menjauh dan membungkuk untuk membantu Arisha berdiri.
“Biar gue bantu.”
“Lo sentuh jalang itu, jangan harap lo bisa hidup tenang, Saka,” tegas Darka penuh penekanan.
Pergerakan Saka terhenti setelah mendengar ucapan Darka. Saka menatap Arisha dengan ragu, Saka ingin membantunya namun ia juga percaya bahwa Darka selalu menepati setiap perkataannya. Sampai akhirnya, Saka bernapas lega ketika Arisha bersuara.
“Gue bisa sendiri,” ujar Arisha yang mencoba berdiri tanpa bantuan siapapun.
Tatapan Darka sama sekali tidak teralihkan, dan hanya menatap Arisha dengan nyalang.
Menyiratkan kebencian yang sangat mendalam.
“Seandainya diantara kalian ada yang bantu jalang ini, kalian gak akan dapat ampun dari gue,” tegas Darka sebelum pergi tempat itu diikuti Saka dan Remon.
Di tengah pintu Remon menghentikan langkahnya sejenak. Melirik ke arah Arisha sebelum kembali berjalan seraya bergumam dengan senyuman diwajahnya.
“Menarik,” gumam Remon tersenyum smirk.
*****
“Lo beneran gak kenapa-kenapa?”
Langkah mereka terhenti di koridor. Menoleh ke arah seseorang yang berada di sisi kanannya. “Gue gak kenapa-kenapa kok.”
“Oh iya, kenalin gue Arthur kelas dua belas IPA tiga,” ucap Arthur tersenyum ketika Arisha membalas uluran tangannya.
“Arisha, sebelas IPA satu,” jawabnya sebelum kembali berbicara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stop It, Darka! [END]
Fiksi Remaja"Seharusnya lo mati, Arisha. Kenapa lo harus hidup setelah buat orang lain koma?" Sadis, kejam, dan penuh amarah, kalimat yang tepat untuk menggambarkan seorang Darka. Tidak ada yang memiliki keberanian untuk mendekati laki-laki itu. Bahkan, sekada...
![Stop It, Darka! [END]](https://img.wattpad.com/cover/251602222-64-k587073.jpg)