P A R T 5 6

26.8K 1.9K 115
                                        

Sudah hampir empat jam operasi berlangsung. Namun, sampai sekarang belum ada tanda-tanda dokter akan keluar terlihat dari cahaya lampu yang masih menyala di ruang operasi. Saat ini tidak hanya Darka yang bersama Arisha. Melainkan sudah ada beberapa temannya yang lain. Amara, Saka, Remon, mereka berkumpul di ruang tunggu. Berbeda dengan Arisha yang sejak tadi gelisah dengan pandangan terus mengarah pada ruangan tersebut.

"Jelasin ke gue apa yang terjadi," ucap Saka memecahkan keheningan.

Karena sejak kedatangan mereka, satu pun darinya tidak ada yang berani menanyakan bagaimana kejadiannya. Namun kali ini Saka yang bertanya lebih dulu. Tatapan Saka beralih pada Arisha, Saka beranjak dari duduknya dan mendekati Arisha, hal itu membuat yang lain menatap ke arah keduanya. Begitupun Darka yang memperhatikan Saka dengan bersandar pada dinding.

"Jawab," desis Saka.

Arisha mendongak sebelum bangkit dari duduknya, untuk pertama kalinya Saka memberikannya tatapan sedingin ini. "A-apa?"

"Ini semua terjadi karna lo kan?" Saka berdecih, ia sangat ingat beberapa waktu lalu Rey masih berbicara dengannya.

Darka yang menyadari keadaan berubah mencekam segera mendekati Saka, menarik bahu laki-laki itu bermaksud menghentikannya namun Saka justru menepisnya.

"Rey sendiri yang bilang, kalo dia mau nemuin lo. Oh, atau jangan-jangan lo emang pembawa sial?"

"Jaga omongan lo," desis Darka kedua tangannya sudah terkepal kuat.

"Apa? Lo marah, karna emang bener kan?" tanya Saka menatap Darka lalu beralih memandang Arisha.

Amara segera mendekati Arisha dan menyentuh kedua bahu gadis itu karena Arisha yang kembali terisak. Begitupun Remon yang kini mendorong tubuh Saka agar menjauh dari Arisha.

"Apa hak lo nuduh Arisha kayak gitu?" tanya Remon.

"Kalian bisa gak sih, tenang dulu? Lo gak liat, di sini yang paling terpukul Arisha. Seenggaknya kasih Arisha waktu," ujar Amara membuat mereka semua bungkam. Saka kembali mendekati Arisha dan menyorotnya tajam.

"Karna lo, sekarang Rey harus berada di antara hidup dan mati," bisik Saka menyiratkan kemarahan disetiap nada bicaranya.

*****

Arisha mengusap lengannya yang terasa dingin karena angin malam di taman rumah sakit. Gadis itu berada sendirian dengan pikirannya sendiri, bayang-bayang Rey siang tadi yang masih berbicara dengannya masih terekam jelas di ingatannya.

"Huft, lagi-lagi gue salah sasaran," keluh seorang gadis yang tiba-tiba berada di sampingnya.

Arisha menoleh, gadis itu melemparkan senyuman saat tatapan mereka bertemu. "Kayaknya gue harus coba lain kali, gimana menurut lo?"

"Lo bisa bunuh gue sekarang kalo lo mau, tapi jangan orang terdekat gue," tekan Arisha.

Gadis itu tertawa, segera berdiri lalu bersidekap dada memandang Arisha. "Ayolah, Arisha. Gak seru kalo gue langsung bunuh lo sekarang."

"Apa yang lo mau, Seyna!" sentak Arisha kali ini berdiri, dan membalas tatapan Seyna tidak kalah tajam.

"Darka," jawab Seyna raut wajahnya berubah datar. "Gue mau Darka."

"Lo gak waras," ucap Arisha menggelengkan kepalanya tidak percaya.

"Karna Darka gue rela ngelakuin apapun, gue bisa berubah lebih kejam cuma untuk Darka." Seyna mengikis jarak mereka. "Yang gue mau, semua orang benci sama lo, Arisha. Lo harus ngerasain apa yang gue rasain selama ini."

Seyna terdiam sesaat seolah berpikir lalu kembali berbicara.

"Ah, Darka pernah bilang dia bakal masukin gue ke penjara kalo seandainya dia punya bukti. Lo pikir, Darka mampu gak ya tepatin omongannya sendiri?" tanya Seyna menyeringai.

Kedua tangan Arisha terkepal, kali ini ia sangat yakin bahwa ini semua adalah ulah Seyna. Ya, segala kejadian buruk yang menimpanya sudah direncanakan oleh gadis itu.

"Kalo gue menderita, lo juga harus menderita. Kalo gue mati, lo juga harus mati, Arisha. Kita sahabat 'kan?" Seyna menunjukkan tangan kirinya yang terdapat gelang persahabatannya bersama Arisha.

"Seyna, jangan gali kuburan lo sendiri. Lo gak akan dapat apa-apa dengan berubah kayak gini," balas Arisha.

"Lo yang buat gue berubah, Arisha. Gue cuma mau Darka! Darka, Darka, Darka! Lo denger itu? Gue mau Darka!" teriak Seyna.

"Seyna!" Kedua gadis itu menoleh ke arah Darka yang berdiri tidak jauh darinya. Tatapan laki-laki itu terlihat marah.

"Kejadian ini gak ada apa-apanya, Arisha. Tunggu, gue bakal rebut semua yang lo punya," bisik Seyna segera pergi begitu saja tepat saat Darka yang sudah berada di sana.

"Seyna!" teriak Darka.

Arisha mencekal lengan Darka saat laki-laki itu ingin mengejarnya. "Biarin dia pergi."

"Apa lo bilang?" tanya Darka tidak percaya. "Dia ngomong apa? Dia ngancem lo? Brengsek—"

"Ini semua karna lo," potong Arisha.

"A-apa?"

"Ini semua karna lo, Darka. Bener kan yang tadi gue bilang? Seyna—enggak. Ini semua salah gue." Arisha menatap Darka dengan tatapan sendu dan kembali berbicara.

"Ini semua karna gue. Seandainya gue gak pindah sekolah, ini semua pasti gak akan terjadi. Seandainya kita gak saling kenal, Seyna gak mungkin bermusuhan sama gue. Dan seandainya gue gak ada, Rey gak akan kecelakaan. Iya 'kan? Ini semua salah gue," racau Arisha.

Darka menggeleng kuat. "Sha, enggak—"

"Harusnya saat itu gue mati, kenapa gue masih hidup? Jawab gue, kenapa gue masih hidup, Darka?" tanya Arisha. Bibirnya bergetar menahan tangis.

"Kenapa lo kayak gini, Sha?"

"Gue emang kayak gini, Darka. Gue bukan lo yang nyadarin kesalahan setelah ngerasain penyesalan," ujar Arisha kali ini tersenyum miris.

"Hal yang paling gue benci itu lo. Gue benci sikap lo, gue benci semua omong kosong lo, gue benci semua tentang lo, Darka! Kenapa? Kenapa lo bawa gue sejauh ini?" cecar Arisha.

Darka terdiam menunduk. Penyesalannya tidak menghasilkan apa-apa. Arisha justru semakin membencinya dan Darka sadar akan hal itu. Siapapun, tolong beritahu Darka. Apa yang harus ia lakukan agar Arisha dapat memaafkannya?

"Yang harus lo tau, seburuk apapun Seyna, dan sekejam apapun dia, itu gak akan merubah kenyataan ... kalau kalian sedarah," ujar Arisha hingga Darka terkejut mendengarnya.

"Ya, Seyna. Dia adik lo yang selama ini lo cari, dan dia juga adik lo yang punya perasaan lebih buat lo lebih dari seorang kakak. Dia juga adik lo yang terang-terangan punya banyak cara buat nyingkirin gue," lanjut Arisha menatap Darka dengan lekat.

"A-apa?" tanya Darka terbata-bata.

"Lo, dan Seyna. Kalian berhasil membuat luka di hidup gue di saat bersamaan."






TBC

Seyna kembali berulah gais ಥ⌣ಥ Tapi ternyata ... dia adiknya Darka😭 Emang sih ya, kalo dipikir-pikir sifat mereka emang hampir sama. Sama-sama egois🙂🙏🏻

Oh iya, yg nunggu cerita Remon update mohon bersabar yaaa. Aku mau tamatin cerita ini dulu. Karna nanggung juga, soalnya tinggal beberapa part cerita ini tamat. Tapi kok ... kayak gak rela tamat ya😭😭😭

Udah share cerita ini belum? Kalau belum, bantu share yaa. Biar Darka semakin dikenal banyak orang atau bahkan sampai terlirik penerbit kece (Aamiin)😭🙏🏻

Spam next di sini yaaa

See you next chapter^^

Publish Oktober, 2021
Remake Mei, 2022

Stop It, Darka! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang