P A R T 2 1

36.2K 2.8K 174
                                        

Sebuah mobil ferrari berwarna putih melintasi halaman sekolah. Tentu saja, hal itu mampu menyita perhatian para siswa lain. Seorang gadis ke luar dari mobil. Rambut lurusnya yang sepanjang dada kini tertata indah dengan tampilan curly pada bawah rambut, bibir ranumnya berwarna pink natural, tidak lupa dengan polesan bedak pada wajahnya hingga terlihat berbeda dari biasanya. Gadis itu, Arisha Aileen Nathala.

Untuk pertama kalinya Arisha tersenyum miring memandang orang yang memperhatikan dirinya secara tidak biasa. Bagaimana tidak, selama ini Arisha tidak peduli dengan penampilan selain hari-hari tertentu. Tetapi hari ini, Arisha seperti terlahir kembali dengan penampilan berbeda. Tidak hanya laki-laki, para gadis pun cukup terpana dengan kecantikan Arisha. Sepertinya, posisi primadona sekolah akan Arisha singgahi mulai hari ini.

Sepanjang koridor pasang mata terkunci pada Arisha yang berjalan dengan santainya, gadis itu tidak mempedulikan jika dirinya menjadi pusat perhatian. Arisha memasuki kelasnya, pandangan Saras dan beberapa temannya yang lain kini mengarah padanya.

Saras bangkit dari duduknya, tersenyum miring ketika sudah berada di dekat Arisha. Arisha membalas tatapan Saras ketika menyadari gadis itu menatap dirinya dengan meneliti dari ujung rambut hingga kaki. Arisha memperhatikan gerakan Saras yang menyingkirkan rambut Arisha ke belakang seolah merapikannya.

“Waw, not bad. Jadi, apa tujuan lo berubah kayak gini? Narik perhatian Darka atau ... jual diri?” tanya Saras menyeringai.

Tidak, Arisha tidak memberikan tatapan sendu atau kecewa. Kali ini Arisha justru melempar senyuman pada Saras.

“Kenapa? Lo takut kalah saing atau emang udah kalah dari gue?”

Raut wajahnya berubah masam. “Lo—”

“Ini belum ada apa-apanya, Saras. Gue bahkan baru mulai,” ujar Arisha mengikis jarak mereka seraya berbisik. “Menurut lo, gue harus mulai dari mana? Gema, Arthur, atau ... posisi yang lo banggain di sekolah ini?”

“A-apa maksud lo?”

“Lo paham maksud gue, Saras. Jadi, bisa lo kasih saran kapan waktu yang tepat biar Celline tau semuanya? Kasian Celline, selama ini dia cuma dijadiin boneka sama Arthur,” bisik Arisha.

Saras sontak memundurkan langkahnya, menatap Arisha dengan tidak percaya. Sebenarnya, siapa Arisha? Mengapa ia tahu segalanya tentang dirinya? Aura dan tatapan Arisha sangat berbeda dari biasanya. Mungkinkah selama ini ia terlalu menganggap remeh Arisha?

“Gu-gue gak ngerti lo ngomong a-apa,” ucapnya mencoba menutupi rasa takutnya.

“Lo gak ngerti? It’s okey. Gue bisa maklum, tapi kayaknya mulai saat ini lo harus hati-hati. Karna sepertinya, gue bakal rebut posisi yang lo bangga-banggain selama ini,” tegas Arisha.

Saras tertawa seolah Arisha baru saja mengatakan lelucon. Kini Saras mendekat, mendorong bahu Arisha sangat kasar secara berulang kali hingga Arisha terpojok pada dinding. Seringaian kini muncul kembali di wajah Saras.

“Cewek lemah kayak lo berusaha ngancem gue hah?! Jangan lewat batas sebelum gue usir lo dari sekolah ini!”

“Lo yang harusnya jangan lewat batas sebelum gue buat hidup lo hancur, Saras,” desis Arisha.

“Kurang ajar! Lo—”

“Pacaran sama Gema, tapi cintanya sama Arthur. Setiap hari mesra-mesraan sama Gema, tapi malamnya selalu tidur bareng Arthur. Hidup lo jauh menarik dari yang gue kira, Saras. Jadi, gak usah banyak gaya sebelum gue bongkar muka dua lo di depan semua orang,” bisik Arisha penuh penekanan.

Stop It, Darka! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang