P A R T 2 8

49.1K 3.7K 1.4K
                                        

Klik dulu bintangnya yaaa. Jangan lupa komentar setiap paragraf biar Author semangat nulis yaaaa. Happy Reading❤

****

"Selama gue menghilang, apa lo pernah sekali aja bertanya apa gue baik-baik aja?"

"Gue selalu percaya sama lo, tapi dengan mudahnya kepercayaan lo hilang dalam satu detik."

"Tujuan lo udah tercapai, Darka. Ngusir gue dari kehidupan lo dengan cara lo sendiri. Hari ini, lo bahkan dorong gue ke jurang. Selamat, lo hebat dalam menyakiti seorang perempuan."

Perkataannya masih terngiang jelas di telinganya. Darka meremas rambutnya frustasi. Tidak, ia sedang tidak melakukan kesalahan bukan?

"Loh, Darka?" Darka menoleh ke sumber suara, memperlihatkan seorang laki-laki yang tidak asing baginya. Laki-laki itu menepuk bahunya lalu duduk di sampingnya. Darka masih di sini, di tempat yang sama yang belum lama ditinggalkan Arisha.

"Gue Bima. Gak lupa sama gue dong ya?"
Darka tersenyum tipis lalu mengangguk. Ia mengingatnya, mereka satu sekolah saat masih menduduki kursi SMP.

"Apa kabar?" tanya Darka.

"Baik. Gak nyangka gue ketemu lo di sini, lo sering ke sini?"

"Jarang," jawab Darka singkat. "Lo sendirian ke sini?"

"Enggak, temen-temen gue yang lain masih di luar. Oh iya, gimana kabar Arisha? Jangan-jangan lo berdua udah jadian, ya!" seru Bima mengingat bagaimana kedekatan dua sejoli itu dulu.

Darka tersenyum miris. "Apaan sih lo. Kenapa tanya ke gue? Tanya ke orangnya langsung lah."

"Gue gak tau kabar dia lagi semenjak Seyna kecelakaan, gue cuma khawatir aja sama Arisha," ujar Bima kali ini dengan raut wajah serius.

"Khawatir?"

"Iya, dan ... menurut gue, Arisha gadis yang kuat. Bahkan setelah tau niat jahat Seyna dia--tunggu. Jangan bilang lo gak tau tentang ini?"

"Maksud lo apa? Niat jahat Seyna? Lo sadar hah?!"

Bima yang menyadari nada emosi dari Darka kini menyadari semuanya. "Lo bener-bener gak tau? Gila lo ya?"

"Semua orang tau kalo Seyna terobsesi sama lo! Gue dan yang lainnya bahkan tau kalo kecelakaan itu memang disengaja. Lebih parahnya, sehari sebelum itu, Arisha dilecehin sama ketua geng dari sekolah musuh kita sendiri."

Darka tertawa. "Lo lagi ngelawak? Mending lo pergi sana."

"Arisha punya trauma yang berat, Ka. Bahkan selama setahun dia ngejalanin pengobatan itu biar bisa hidup normal, dan lo sahabatnya sendiri gak tau soal ini? Gila, Seyna bener-bener udah menutup mata lo," kata Bima menggelengkan kepalanya.

"Lo pikir gue percaya lo ngomong kayak gini? Sengaja? Seyna koma itu juga disengaja? Gue gak tau apa masalah lo sama Seyna, tapi jangan pernah bicara buruk tentang dia!"

"Gue bicara fakta, Ka! Terserah lo mau percaya atau nggak. Harusnya lo ada disisi Arisha, Seyna itu bahaya terbesar buat kalian berdua!" Bima bangkit dari duduknya, sepertinya saat ini bukan saat yang tepat untuk menceritakan segalanya pada Darka.

"Gue cuma berharap, Seyna gak lebih gila dari sebelumnya," lanjut Bima, dan segera pergi begitu saja.

Butuh waktu beberapa saat agar Darka mencerna segala perkataannya. Darka tidak memiliki keyakinan untuk mempercayai apa yang baru saja ia dengar.

Tatapan Darka teralihkan saat menyadari ponseknya berdering dan memperlihatkan nama Gema. Setelah kepergian Arisha, Gema memang langsung pergi begitu saja. Tanpa menunggu Darka menyambungkan panggilan tersebut.

Stop It, Darka! [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang